Review Glass: Film Superhero yang Nanggung ala M. Night Shyamalan

Katanya, kalau superhero memang ada

:

M. Night Shyamalan… sutradara yang satu ini pernah menggebrak dunia perfilman lewat karya-karyanya yang banyak mendapat pujian. Sebutlah The Sixth Sense, Signs, dan Unbreakable. Tapi setelah itu, ia mulai rajin menelurkan film-film medioker yang kualitasnya amat menyedihkan (The Happening, The Last Airbender).

Sumpahnya, The Happening itu salah satu film paling nggak jelas yang pernah saya tonton. Namun beruntung, kariernya sebagai sutradara mulai meroket lagi lewat The Visit dan Split.

Dan sekarang kita akan membahas Glass, film ketiga sekaligus penutup trilogi Eastrail 177 yang sebelumnya sudah dihuni oleh Unbreakable dan Split. Jadi sebelum kamu nonton Glass, saya sarankan tonton dulu dua film pendahulunya. Daripada nanti bingung dan banyak tanya seperti penonton di sebelah saya.

Bertemunya David, Kevin, dan Elijah

Waktu 19 tahun yang dibutuhkan Shyamalan untuk menyelesaikan Eastrail 177 Trilogy ini bukanlah jarak yang sebentar. Dengan rentang selama itu, Shyamalan seperti sudah menyiapkan konsep ceritanya dengan cukup matang. Hal tersebut terutama berlaku pada tiga karakter utama yang akhirnya dipertemukan di film penutup trilogi ini.

Tiga karakter tersebut adalah David, (Bruce Willis) yang sebelumnya jadi protagonis utama dalam Unbreakable; Kevin (James McAvoy), karakter utama dalam Split; dan Elijah (Samuel L. Jackson).

David si manusia kebal berjanggut uban/via imdb.com/Universal Pictures

David diceritakan sebagai penyintas kecelakaan kereta api yang merenggut nyawa semua penumpang kecuali dirinya. Ia bisa selamat karena memiliki kekuatan yang membuatnya kebal dari segala luka.

Sementara Kevin adalah seorang pria pengidap kepribadian ganda. Total ada 24 kepribadian berbeda yang ada di dalam diri Kevin. Salah satunya disebut The Beast yang bisa membahayakan orang-orang di sekitarnya.


Kevin yang gundul dalam kepribadian The Beast/via imdb.com/Universal Pictures

Berbeda dengan David dan Kevin, Elijah merupakan sosok yang paling lemah. Ia menderita penyakit yang membuat tulangnya rapuh dan mudah patah jika terbentur sesuatu. Dari situlah ia mendapat julukan Mr. Glass.

Namun di balik kelemahannya itu, Elijah yang juga sempat muncul dalam Unbreakable adalah sosok paling berbahaya. Mirip karakter ultra jahat di komik-komik, ia sangat terobsesi menciptakan pahlawan super di dunia nyata.

David, Kevin, dan Elijah akhirnya bertemu di sebuah rumah sakit jiwa. Di sana juga ketiganya dipertemukan dengan Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson), yang menganggap kemampuan mereka itu nggak lebih dari penyakit mental belaka.

Mr. Glass yang kurang mendapat perhatian

Ini nih yang nanggung dari Glass. Membawa judul Glass, logikanya jalan cerita bakal difokuskan pada sosok Elijah. Nggak adil dong kalau film ini hanya mengupas tentang David dan Kevin, sementara mereka sudah dapat porsi tampil sebagai karakter sentral di dua film pertama.

Tapi dengan mengusung judul Glass, film ini malah seperti menganaktirikan Elijah alias Mr. Glass. Fokus terhadapnya kurang banget. Justru David dan Kevin-lah yang bergantian mendominasi cerita sejak film dimulai.

Ditambah lagi dengan munculnya kembali dua karakter lama: Joseph (Spencer Treat Clark), anak dari David; serta Casey (Anya Taylor-Joy), korban penyekapan Kevin yang berhasil selamat. Kehadiran Joseph dan Casey yang repetitif sedikit mendistraksi jalan cerita dari sosok Elijah sebagai Mr. Glass. Dan yang terutamanya, untuk apa mereka muncul kembali di film ini?

Sedangkan Mr. Glass, pengaruh keterlibatannya baru mencuat ketika film sudah menyentuh akhir durasi.

Elijah alias Mr. Glass/via imdb.com/Universal Pictures

Minimnya porsi Elijah dibandingkan David dan Kevin nggak bisa mutlak disalahkan sih. Jika melihat sisi positifnya, Shyamalan mungkin ingin mengenalkan sosok David dan Kevin pada penonton yang belum mengenal mereka. Atau mungkin juga ia pengin menyegarkan kembali ingatan kita.

Tapi jika memang demikian adanya, lantas buat apa Unbreakable dan Split dibuat kalau latar belakang dua karakter utamanya dikupas lagi di film ini? Itu namanya buang-buang waktu.

Imbasnya, Shyamalan pun seperti keteteran dalam menggiring penonton pada konflik inti. Ia seperti ingin mengulang semuanya dari awal, lalu memadatkannya ke dalam plot cerita Glass.

Kisah pahlawan super ala M. Night Shyamalan

Elijah, Kevin, dan David/via glassmovie.com/Universal Pictures

Penutup trilogi Eastrail 177 ini ternyata berujung menjadi sebuah film superhero. Bedanya dari film superhero kebanyakan, Shyamalan membawa konsep manusia berkekuatan super dengan sudut pandang yang berbeda.

Tapi buat kamu yang masih asing dengan karya-karya Shyamalan, penuturan lambat yang digunakan di film ini mungkin bakal sedikit membosankan. Maklum, Shyamalan dikenal sebagai sutradara yang gemar membangun cerita dengan perlahan sebelum menghadirkan twist di babak akhir.

“Everything’s extraordinary is explainable,” kata Elijah. Shyamalan mencoba mengangkat latar belakang kekuatan yang dimiliki David, Kevin, dan Elijah lewat sisi traumatis masa lalu. Lebih spesifiknya, luka psikologis sewaktu yang dialami kala mereka masih kecil yang jadi alasannya.

Lapisan-lapisan kompleks tiap karakter dijabarkan perlahan namun pasti oleh Shyamalan. Adegan-adegan flashback yang dihadirkan turut menguatkan pengembangan karakterisasi dari masing-masing individu dengan baik. Poin-poin kecil seperti kenapa David lemah terhadap air, mengapa Kevin bisa sampai memiliki kepribadian ganda, hingga motif utama dari Elijah yang terobsesi menciptakan superhero dijelaskan semua.

Superhero berkostum jas hujan? Keren juga!/via imdb.com/Universal Pictures

Eksplorasi mendetail seperti itulah yang terkadang luput dalam film-film superhero kebanyakan. Di balik kekurangannya, kamu mungkin bakal bersimpati pada seluruh karakter, termasuk Elijah yang notabenenya dalang dari konflik yang terjadi.

Pun demikian, konsep karakter dengan trauma masa lalu bukanlah hal yang baru ditemui dalam film superhero. Konsep tersebut mirip dengan yang dialami Batman. Belum lagi dengan rujukan pada sosok Superman yang ditunjukkan secara  implisit di dalam film.

Namun seperti yang juga Elijah bilang, ini adalah sebuah kisah original. Rangkaian Unbreakable, Split, dan Glass adalah trilogi superhero yang mampu tampil beda. Lagipula, mana ada superhero yang memakai jas hujan sebagai kostum dalam beraksi?

Bukan nggak mungkin juga karya Shyamalan ini bakal menyandang status cult, dan akan terus diperbincangkan dalam beberapa tahun ke depan.

Komentar:

Komentar