Review Generasi Micin: Fenomena Kekinian yang Kurang Dalam Dikupas dan Komedi yang Berlebihan

Kasihan micin jadi yang disalahin

:

Pernah dengar istilah generasi micin?

Belakangan ini istilah generasi micin sempat populer di media sosial. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada kids zaman now yang melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Aneh menurut siapa? Ya aneh menurut generasi sebelumnya, meskipun menurut generasi micin itu adalah bentuk mengekspresikan diri.

Fenomena ini dipotret oleh rumah produksi Starvision yang memang sering membuat film-film remaja kekinian. Dibintangi oleh Kevin Anggara sebagai pemeran utama, potret generasi micin hadir dalam film Generasi Micin vs Kevin yang mulai tayang Kamis, 18 Oktober 2018. Lalu bagaimana generasi micin versi film ini?

Formula khas film remaja Starvision yang terus diulang

Generasi Micin menggunakan formula yang nyaris sama dengan film-film remaja Starvision sebelumnya, yakni sekelompok remaja yang bersahabat tapi dianggap beda oleh teman-teman lainnya. Kemudian mereka melakukan sesuatu yang justru bisa menyebabkan renggangnya persahabatan mereka. Lalu mereka pun baikan dan film ditutup dengan kemenangan kelompok tersebut.

Setidaknya formula serupa pernah ditemui dalam The Underdogs (2017) dan Yowis Ben (2018), dua film remaja kekinian yang juga diproduksi Starvision. Dalam The Underdogs diceritakan empat orang sahabat yang dianggap cupu akhirnya bisa meraih popularitas berkat Youtube (dan di tengah cerita sempat ada konflik dengan persahabatan mereka).

Begitu juga Yowis Ben yang menceritakan empat orang sahabat yang tak dianggap di sekolah. Kemudian mereka membentuk band hingga akhirnya mereka terkenal dan diakui di sekolah. Dan masih sama, dalam perjalanannya hubungan persahabatan mereka sempat dipertaruhkan.

Mereka harusnya bisa dieksplorasi sebagaimana Yowis Ben dan The Underdogs/via youtube.com

Generasi Micin pun setali tiga uang dengan dua film tersebut. Bercerita tentang sosok Kevin (Kevin Anggara) yang sering dianggap pemalas karena lebih senang bermain video game sendirian di kamarnya. Selanjutnya ia pun mengajak ketiga sahabatnya, Dimas (Joshua Suherman), Bonbon (Teuku Ryzki), dan Johanna (Kamasean Matthews) untuk melakukan kejahilan-kejahilan di sekolah demi peringkat di sebuah situs internet. Tingkahnya ini justru membawa banyak masalah termasuk terhadap persahabatan mereka.

Serupa ‘kan? Jadi sudah bisa tertebak dong akan seperti ending dari film ini?

Kurang fokus terhadap tokoh utama

Berbeda dengan Yowis Ben atau The Underdogs yang fokus pada penggalian karakter utama, Generasi Micin terasa tidak tegas memposisikan Kevin sebagai karakter utama. Jika benar bahwa tingkah laku generasi micin dianggap sebagai bentuk ekspresi diri, sepanjang durasi film Kevin malah tak terlihat mengekspresikan dirinya.

Jadi, apakah dengan mengusung judul Generasi Micin vs Kevin seperti yang tertera di poster resminya, sesungguhnya Starvision ingin menyampaikan bahwa yang dimaksud generasi micin itu adalah tingkah laku teman-teman Kevin? Aldo misalnya, vlogger yang terkenal dengan joged-joged absurdnya. Entahlah!

Mulai risih terhadap film-film yang mengeksploitasi perempuan tanpa relevansi. Perempuan bukan semata objek komedi/via youtube.com

Saya tak pernah betul-betul diajak menyelami bagaimana sesungguhnya tingkah laku Kevin yang merasa tertuduh sebagai generasi micin. Bahkan di banyak adegan yang penting untuk potret generasi micin seperti lomba debat, Kevin tak pernah ikut andil.

Kemanakah gerangan perginya peran tokoh utama di film ini?

Materi komedi yang diulang, terasa tak lucu lagi

Generasi Micin berusaha terlalu keras agar materi komedi yang ada terlihat menarik. Alih-alih lucu, banyak persembahan komedinya yang justru menjengkelkan dan terlalu bodoh. Beberapa materi komedi, seperti guru yang bicara dengan bernyanyi, atau guru yang fokus membaca buku sehingga tak tahu kalau muridnya keluar kelas, adalah dua contoh bentuk kebodohan luar biasa film ini dalam menghadirkan komedi.

Percayalah, untuk terlihat lucu itu tak harus menjadi bodoh. Atau memang generasi micin begitu?

Sempat berekspektasi film ini bakal sekeren Catatan Akhir Sekolah, nyatanya konflik ini hanya menjadikan Generasi Micin adalah sekelompok generasi tukang fitnah. Generasi yang menyimpulkan sesuatu tanpa klarifikasi. Kecewa!/ via youtube.com

Tak hanya itu, materi komedi yang ada banyak yang menggunakan formula repetisi. Pertama kali lelucon itu keluar, mungkin masih bisa tertawa. Tapi ketika saya mendengar dan melihatnya untuk kedua dan ketiga kalinya, kelucuannya pasti luntur. Terlebih lagi komedinya dilontarkan dalam situasi dan intonasi yang selalu sama.

Drama keluarganya cukup menyentuh meski minus relevansi

Kevin hidup bersama kedua orangtuanya (Ferry Salim & Melissa Karim) dan pamannya (Morgan Oey) yang merupakan keturunan Tionghoa. Keluarga Kevin memang lebih dieksplorasi sebagai penguat karakter Kevin dibanding keluarga teman-temannya. Dan eksplorasi ini bisa dibilang hal terbaik yang dimiliki Generasi Micin.

Filosopi-filosopi tentang hidup dan kehidupan yang dilontarkan ayahnya, membuat film ini masih punya nyawa sebagai pengaduk emosi. Salah satunya saat adegan di meja makan yang membandingkan generasi Kevin dengan generasi pamannya yang justru lebih banyak hidup ragu-ragu.

Momen terbaik di Generasi Micin terlihat ketika layar sedang menyuguhkan adegan ini/via youtube.com

Fajar Nugros selaku sutradara terlihat sekali ingin menjadikan drama keluarga Kevin terasa kuat seperti pada film Ngenest atau Cek Toko Sebelah. Sayangnya, apa pun yang terjadi di keluarga Kevin tak sepenuhnya memiliki relevansi terhadap jalan cerita dan perkembangan karakter utama. Rasa-rasanya, Fajar Nugros yang cukup sukses membesut Yowis Ben sedikit kehilangan gairahnya dalam bercerita.

Namun begitu, ciri khasnya yang selalu menempatkan tokoh-tokoh unik (di luar pemeran pendukung yang dekat dengan pemeran utama) sebagai pendukung cerita masih bisa ditemukan. Di film ini ada tokoh satpam sebagai pendukung karakter Kevin.

Selalu ada karakter unik di film-film Fajar Nugros./ via youtube.com

Pada akhirnya, Generasi Micin adalah salah satu film remaja kekinian yang cukup mengecewakan. Alih-alih berharap mengupas lebih dalam tentang sebuah generasi, Generasi Micin hanya diisi setumpuk komedi yang tak pernah benar-benar menghasilkan tawa.

6 Shares

Komentar:

Komentar