Review Terlalu Tampan: Bicara Konsep Penerimaan Diri dalam Balutan Komedi Receh

Karena menjadi tampan nggak selamanya menyenangkan

Rata-rata cowok pasti pernah membayangkan punya wajah tampan nan rupawan. Punya tampang yang tampan itu identik dengan berbagai kemudahan. Cowok tampan katanya gampang dapat cewek. Mereka juga sering jadi cowok populer, dan nggak akan dijutekin kasir minimarket.

Tapi hal itu nggak berlaku bagi Mas Kulin. Cowok terlalu tampan yang lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah karena nggak bisa bersosialisasi. Bahkan untuk urusan sekolah, Mas Kulin memilih untuk homeschooling. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Kulin?

Semuanya terangkum dalam film bioskop kesepuluh Visinema Pictures, Terlalu Tampan.

Diisi karakter yang memang terlalu tampan

Apakah Iis Dahlia juga terlalu tampan?/via youtube.com/Rame Jigana TV

Terlalu Tampan diadaptasi dari komik webtoon berjudul serupa. Karakter utama film ini, Mas Kulin alias Witing Tresno Jalaran Soko Kulino digambarkan sebagai remaja SMA yang memiliki paras terlalu tampan. Kebetulan juga, Ari Irham (After Met You, Generasi Micin) si aktor muda yang memerankan Mas Kulin juga punya wajah tampan.

Sumber ketampanan Mas Kulin berasal dari kedua orangtuanya yang juga terlalu tampan. Adalah Pak Archewe (Marcelino Lefrant) yang punya rekor mantan pacar sebanyak 1200 cewek. Ia baru tobat dari status playboy-nya setelah menikah dengan Bu Suk (Iis Dahlia). Pasangan ini nggak hanya punya Mas Kulin saja sebagai anak. Sebelumnya mereka dianugerahi Mas Okis yang diperankan oleh Tarra Budiman.

Sayangnya, saya nggak terlalu yakin kalau Tarra juga terlalu tampan.

Empat karakter ini bersatu dalam satu keluarga yang sering disebut keluarga tampan. Karena hal ini, saya nggak ragu untuk beri apresiasi pada departemen casting Terlalu Tampan. Mereka mampu memilih aktor sesuai dengan kebutuhan karakternya.

Dihadapkan pada permasalahan klise ala remaja

Penempatan sponsor dalam film ini sangat halus dan nggak mengganggu logika cerita/Visinema Pictures

Kulin yang terbiasa hidup sendiri dan hanya berteman dengan ikan favoritnya, membuat resah orangtua dan kakaknya. Mereka nggak ingin Kulin jadi anak yang nggak punya teman dan hidup dalam kesendirian. Maka untuk mengatasi hal tersebut, mereka merencanakan sesuatu agar Kulin mau pindah ke sekolah reguler.

Rencana tersebut berhasil. Tapi Kulin mengajukan syarat agar ia pindah ke sekolah khusus laki-laki. Kenapa demikian? Karena Kulin punya trauma atas ketampanannya. Banyak cewek yang melihat Kulin langsung mimisan, belum lagi Kulin sering dikejar oleh ibu-ibu kompleks.

Tapi siapa sangka, masuk sekolah khusus laki-laki nggak semata-mata menyelesaikan masalah Kulin. Ia justru dihadapkan pada masalah lain yang mungkin nggak terpikirkan sebelumnya. Masalahnya sendiri adalah masalah klasik khas remaja: cinta dan persahabatan.

Warung ini menjadi saksi bagaimana Kulin mencari tahu kesukaan cewek yang dicintainya/Visinema Pictures

Kisah percintaannya didukung oleh karakter Amanda (Nikita Willy) yang merupakan siswa terlalu cantik di sekolah khusus wanita, dan karakter Rere (Rachel Amanda) yang memandang Kulin beda dengan kebanyakan cewek. Sementara untuk memperkuat konflik persahabatan, Kulin akan berhadapan dengan teman sekolahnya, Kibo (Calvin Jeremy).

Meski cerita cinta dan persahabatannya cukup klise, tapi Nurita Anandia dan Sabrina Rochelle Kalangie yang dipercaya menggawangi departemen naskah, nggak membuat Terlalu Tampan jatuh jadi tontonan membosankan. Mereka berdua mampu mengolahnya menjadi suguhan yang menarik.

Punya komedi dan gaya bertutur yang khas

Mas Kulin mau bayar “utang” pada Amanda nih/Visinema Pictures

Sabrina Kalangie yang juga bertindak sebagai sutradara membuat Terlalu Tampan berjalan di atas komedi receh. Tapi bukan receh seperti kebanyakan film komedi Indonesia lain yang biasanya hanya sketsa saja. Komedi receh dalam film ini memiliki konteks yang jelas dan menyatu dengan cerita filmnya. Terlebih beberapa gaya ala komik juga diadaptasi ke dalam film dengan sangat menyenangkan.

Salah satu contohnya adalah saat pengenalan geng 3Tak (Tiga Tak), sekumpulan anak SMA yang nggak menginginkan kelulusan sebelum terlaksananya prom gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Adegan ini pun dipertampan dengan penggunaan efek khusus yang membuat film tetap menyenangkan, meski apa yang tersaji di layar begitu lebay.

Selain komedi yang receh, Terlalu Tampan punya visi dan gaya bertutur yang khas. Sila perhatikan bagaimana kamera memposisikan adegan Kulin ketika pertama kali jatuh di sekolah. Sabrina punya imajinasi dan visi ruang yang bagus. Menariknya visi tersebut mampu diterjemahkan oleh penata kamera Salfero Albert (Sanubari Jakarta) dengan baik pula.

Gaya bertutur yang khas nggak hanya ditunjukkan sekali dua kali saja. Terlalu Tampan konsisten dalam bercerita dengan bentuknya sendiri. Apalagi adegan tebak-tebakan di meja makan yang membuat seluruh penonton di bioskop tertawa spontan tanpa terkecuali. Jika Sabrina nggak hati-hati dalam mengarahkannya, bukan nggak mungkin adegan ini bakal jadi hampa tanpa makna.

Bicara tentang penerimaan diri

Apa yang sedang dipikirkan Kulin/Visinema Pictures

Film yang dikerjakan Visinema bersama Kaskus Networks ini lebih menyoroti masalah Kulin dengan lingkungan luar daripada lingkungan keluarganya. Terlalu Tampan memberi harapan dan pelajaran pada Kulin bahwa di luar sana akan ada yang mampu menerimanya sebagaimana yang diinginkannya.

Tapi sesungguhnya, masalah utama bukanlah bagaimana orang lain harus menerima Kulin, melainkan tentang bagaimana Kulin menerima dirinya sendiri. Karakterisasi Kulin yang nggak selamanya digambarkan sebagai good boy membuat Terlalu Tampan punya dinamika yang asyik. Sang tokoh utama belajar dari apa yang ia harus lalui dan jalani. Ini yang membuat penonton akan mudah bersimpati terhadap karakter Kulin, sekalipun kelakuannya terlihat kurang elok.

Terlalu Tampan nggak mengeksploitasi ketampanan sebagai suatu kelebihan yang wajib dibangga-banggakan. Ia membawa ketampanan sebagai refleksi diri. Nggak selamanya sesuatu yang dianggap kelebihan oleh kebanyakan orang akan berbuah manis pada mereka yang punya kelebihan tersebut.

Seperti kata Bu Suk kepada Kulin, “Dunia selalu punya cara untuk membuatmu patah hati.”

 

- Advertisement -
Shares 9

Komentar:

Komentar