Review Terima Kasih Cinta: Ketika Penyakit (Lagi-Lagi) Dijadikan Sumber Kesedihan Semata

Jangan sambil nyanyi ya pas baca judul filmnya

Film Indonesia yang mengusung penyakit sebagai tema utama sudah beberapa kali diproduksi. Sebut saja Surat Kecil untuk Tuhan (2011), Sebuah Lagu untuk Tuhan (2015), Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2015), Air Mata Surga (2015), Pinky Promise (2016), dan I am Hope (2016). Dan tahu apa hasil akhir dari film dengan tema tersebut? Kebanyakan dari mereka hanya ingin membuat air mata penonton menetes tanpa peduli bagaimana edukasi tentang penyakit tersebut.

Itulah yang bikin saya bosan dengan film-film yang hanya mengandalkan penyakit. Terbaru di Januari 2019 ini ada satu film yang juga mengangkat tema serupa, yakni Terima Kasih Cinta.

Film sesungguhnya dibuka dengan menarik

Meski singkat, suka banget dah sama kebersamaan mereka/via youtube.com/andiathira

“Bentar ya, saya mau pingsan. 1, 2, 3…” kata Ryan (Achmad Megantara) saat mengajak Eva (Putri Marino) berkenalan. Eva dan Ryan adalah dua siswa baru yang tengah mengikuti masa orientasi sekolah. Situasi mempertemukan mereka karena keduanya masuk ke kelompok siswa yang memiliki penyakit.

Namun setelah Ryan selesai menghitung, malahan Eva yang pingsan. Itu kenapa Eva jadi mendapat julukan “gampang pingsan” dari kakak seniornya. Bagian pembuka inilah yang sekaligus jadi awal hubungan Eva dan Ryan, serta petualangan romansa mereka yang ternyata tak seindah yang dibayangkan.

Singkat tapi lumayan mengena. Adegan tersebut sudah cukup membuat saya merasa tertarik untuk terus menyaksikan Terima Kasih Cinta.

Menjadikan penyakit sebagai sumber kesedihan

Automewek pas di adegan ini. Cukup sedih euy/via Bintang Pictures

Eva yang sering pingsan tiba-tiba itu akhirnya divonis mengidap lupus. Dan seketika itulah cobaan hidup Eva dimulai. Ia yang mesti melawan rasa sakit akibat operasi, masih diharuskan pula mengurus kisah cintanya dengan Ryan hingga menggapai mimpinya untuk menjadi atlet basket sekolah.

Namun ujian hidup bertubi-tubi nggak lantas bikin remaja yang masih duduk di bangku sekolah itu putus asa. Terlebih, ia mendapat sumber semangat dari orang yang senasib dengannya.

Di rumah sakit tempatnya dirawat, Eva berkenalan dengan Dewi yang divonis terkena penyakit kanker pankreas. Dan persahabatan mereka terjalin indah lagi penuh makna. Adegan-adegan ketika Eva dan Dewi bersama bisa dibilang salah satu momen manis di Terima Kasih Cinta. Mereka berjuang untuk menganggap yang ada menjadi tidak ada. Dan itu susah sodara-sodara!

Satu hal lain yang menarik, Terima Kasih Cinta tak terlalu menggebu-gebu membenturkan mimpi dan penyakit, seperti yang suka dilakukan film lain bertema serupa. Terima Kasih Cinta lebih mengeksplorasi keseharian karakter utama lengkap dengan kehidupan keluarganya. Bisa dibilang itu yang jadi salah satu pembeda Terima Kasih Cinta dengan film sejenisnya.

Namun yang patut disayangkan, Terima Kasih Cinta tetap terjebak pada pola yang menjadikan penyakit sebagai sumber kesedihan semata. Sangat minim sekali penjelasan mengenai latar belakang, penyebab, hingga pengobatan tentang penyakitnya.

Romansa yang indah dan bikin senyum-senyum sendiri

Banyak bahasa visual yang sesungguhnya menjadi potensi menarik dari film ini/via Bintang Pictures

Yang tak disangka, Terima Kasih Cinta masih memberikan kisah romansa yang manis ala-ala anak SMA. Putri Marino dalam film keenamnya masihlah menjadi penampil yang mengagumkan. Ia mampu menampilkan ekspresi tangis, tawa, keceriaan, dan ketegaran dengan sangat pas. Termasuk ketika Ryan harus meninggalkannya di rumah sakit demi pertandingan basket.

“Untuk apa kamu balik lagi. Sejak kamu keluar dari pintu itu, saya sudah menganggap kamu tidak ada di dalam hidup saya,” ucap Eva setelah mendengar penjelasan dan alasan Ryan.

Dengan penataan kamera ala Suadi Utama (Virgin, The Professionals) yang menyorot adegan tersebut dari belakang, kita diperlihatkan bahwa orang yang balik lagi dan diajak bicara oleh Eva bukanlah Ryan. Lalu siapa sosok itu? Ternyata ia adalah cowok baru yang akan hadir dalam hidup Eva. Namanya Nanan (Allan Dastan), mahasiswa yang kuliah sambil bekerja di Bandung.

via Bintang Pictures

Bagaimana mereka bisa berkenalan? Ya temukan jawabannya dengan nonton langsung film ini dong. Yang jelas romansa mereka tergambarkan dengan sangat manis, tanpa mengandalkan banyak dialog  yang maknanya mengawang-awang. Meskipun dalam debut perdananya ini, Allan Dastan masih terlihat kagok dalam mengimbangi Putri Marino. Beberapa dialog yang diucapkannya nyaris tanpa intonasi yang pas sesuai konteks adegannya.

Berakhir dengan tidak fokus

via Bintang Pictures

Separuh perjalanan durasi Terima Kasih Cinta masihlah wajar. Meski perjalanannya itu kerap kali diiringi dengan musik menyayat hati gubahan Yovial Virgi, film ini tetap fokus pada perjalanan Eva. Namun semakin durasi mendekati titik akhir, Terima Kasih Cinta menjadi kehilangan arah dan gairahnya dalam bercerita.

Salah satu faktor penyebabnya bisa jadi karena semua fokus yang dihadirkan dalam film dipaksa untuk menemui resolusinya sendiri. Mulai dari fokus mimpi Eva menjadi pebasket, kisah cinta segitiganya dengan Ryan dan Nanan, hingga ketulusan keluarganya dalam menemani Eva. Ketiga fokus tersebut menjadi tumpang tindih, menyebabkan rasa dari masing-masing fokus berkurang ketika berada di klimaks.

Sila perhatikan narasi ketika Eva berpidato di kelulusan sekolah. Ada narasi tentang basket, pemain cadangan, dan lapangan yang sampai saat ini saya masih kebingungan menangkap makna dan korelasinya.

Kalau mau berbicara analogi dan filosopi, mungkin Terima Kasih Cinta bisa sedikit belajar dari Dancing in The Rain yang sejak awal filmnya bergulir sudah mengantarkan filosofinya kepada penonton. Sehingga ketika filosopi itu diungkap di akhir durasi, penonton tak lagi kesusahan dalam memaknainya.

Pada akhirnya, film yang diproduksi Bintang Pictures ini tak bisa diharapkan terlalu banyak sebagai bentuk edukasi penyakit. Tapi sebagai drama yang hangat, masih bolehlah untuk disaksikan.

Komentar:

Komentar