Review Satu Suro: Horor Menjengkelkan yang Isinya Cuma Teriak Nama

Lebaran ala setan itu nggak ada ketupat dan angpao

Film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur harusnya menjadi kiprah perdana Anggy Umbara sebagai sutradara tunggal film horor. Tapi dengan adanya intrik dengan produser, ia harus berbagi porsi penyutradaraan dengan Rocky Soraya untuk membesut Suzzanna.

Seakan ingin menunjukkan bahwa ia mampu menyutradarai film horor sendirian, Anggy membuat film horor berjudul Satu Suro di bawah naungan Pichouse Film dan Umbara Brothers Films. Bahkan ia mengklaim karyanya ini adalah film horor murni yang nggak ada komedinya sama sekali.

Apakah benar Satu Suro begitu adanya? Satu hal yang pasti, saya bersyukur karena Suzzanna nggak jadi disutradarai Anggy secara penuh.

Nggak ngebahas lebih dalam soal mitosnya

via instagram.com/filmsatusuro

Satu Suro dibuka dengan narasi tekstual mengenai mitos malam satu Suro. Penjelasan ini cukup efektif untuk memberi impresi awal kepada penonton mengenai apa yang akan mereka temui selama 94 menit durasi film.

Selepas penjelasan mitos tersebut, Satu Suro langsung berpindah pada adegan yang cukup bikin ngeri. Dengan hadirnya beberapa kali muncratan darah, Anggy membuka Satu Suro dengan cukup menjanjikan. Adegan demi adegan yang dihadirkan sukses membuat saya terperangah dan penasaran bagaimana kisah Satu Suro akan berjalan.

Namun patut disayangkan, adegan pembuka ini hanyalah gimmick semata. Selanjutnya Satu Suro nggak menawarkan apa pun, termasuk plot. Nggak usah terlalu berharap film ini akan mengupas mitos malam satu Suro lebih dalam, apalagi mengharapkan satu kesatuan cerita yang utuh.

Editor’s Pick

Durasi hanya dihabiskan untuk teriak nama

Serupa di Asih, Citra Kirana berusaha mempersembahkan yang terbaik sebagai wanita hamil yang mengalami teror bertubi-tubi, di saat Nino Fernandez kebanyakan bingung/Pichouse Films

Cerita bermula dari pasangan Bayu (Nino Fernandez) dan Dinda (Citra Kirana) yang harus pindah ke rumah terpencil pemberian pamannya. Saat itu Dinda sedang hamil besar dan hendak melahirkan. Dan seperti karakter di film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur, ia pun harus ditinggalkan oleh suaminya yang bekerja.

Tapi nggak seperti Satria yang meninggalkan Suzzanna cukup lama, Bayu meninggalkan Dinda hanya untuk meeting dengan penerbit. Adegan pertemuan ini sekaligus digunakan Anggy Umbara untuk membuat kritik terhadap karyanya sendiri. Terlebih ia turun tangan langsung memainkan karakter perwakilan dari pihak penerbit (nggak dijelaskan apa jabatan si orang penerbitan itu).

Tapi lupakan saja adegan ini. Buat kamu yang suka mengikuti film-filmnya Anggy, kemunculannya dalam berperan sebagai karakter lumrah terjadi. Meskipun kali ini harus saya akui, adegan ini nggak punya pengaruh apa pun terhadap cerita filmnya.

Mbok ini langsung tutup jualannya begitu tahu Dinda tinggal di mana/via instagram.com/filmsatusuro

Singkat cerita Bayu pun pulang dan menemukan Dinda dalam keadaan meninggal. Apa secepat itukah tokoh utama harus menghilang dari film? Kamu pasti tahu pendekatan basi seperti ini di film horor. Adegan seram yang ditampilkan nggak lain dan nggak bukan hanyalah sebuah …….. (silakan isi sendiri).

Lalu Bayu pun membawa Dinda ke rumah sakit terdekat dan pulang kembali ke rumah untuk mengemasi barang-barang. Tapi begitu kembali ke rumah sakit, Bayu begitu terkejut karena rumah sakit tersebut berubah jadi gedung tua yang kosong.

Dari sinilah masalah bermula. Bukan saja masalah mereka berdua tapi juga masalah naskah yang ditulis oleh Anggy Umbara bersama Syamsul Hadi (Perfect Dream, Demi Cinta). Kolaborasi dua penulis ini hanya mengisi (tepatnya memperlama) durasi dengan usaha Bayu dan Dinda yang saling mencari satu sama lain. Dan satu hal yang harus kamu tahu, pencarian ini mengisi hampir seluruh durasi film.

Deretan karakter setan yang bikin muntah silet

Inilah Lastri si iblis terkuat di rumah sakit/Pichouse Films

Selama masa pencarian kedua karakter utama, rumah sakit tempat mereka saling mencari tersebut seketika berubah menjadi wahana rumah hantu. Di sana muncul banyak setan dengan berbagai macam bentuk.

Ya wajar sih, karena menurut adegan pembuka film ini, malam satu Suro adalah lebarannya para iblis. Jadi ya mungkin para iblis yang ada di rumah sakit sedang berlebaran, meskipun anehnya mereka nggak saling maaf-maafan. Para iblis di film ini malah terpecah menjadi dua kubu yang bersebrangan.

Kubu pertama menginginkan kematian bayi yang ada dalam perut Dinda; kubu kedua ingin bayinya Dinda tetap hidup.

Kubu pertama digawangi Lastri (Alexandra Gottardo), setan terkuat di rumah sakit. Kekuatan utamanya adalah teriakannya yang bisa bikin furnitur beterbangan. Teriakan yang muncul setiap 10 detik sekali itu juga membuat pendengaran saya agak kebas.

Lastri si setan terkuat nggak berkoalisi dengan siapa pun. Ia bergerak sendirian, karena semua setan lain di rumah sakit bergabung di kubu yang menginginkan bayi Dinda tetap hidup. Para personel kubu kedua ini terdiri dari dokter yang membenturkan kepalanya ke tembok, suster-suster berwajah pucat, hingga hantu pria bermuka buruk yang begitu niat mencari kapak untuk membobol pintu kayu.

Saya kadang heran, apakah hantu era 1982-1990 nggak bisa menembus pintu?

Tapi selain “setan beneran”, ada juga karakter manusia yang dirias seperti setan. Dialah aktor senior Yati Surachman yang saya sendiri nggak mengerti perannya apa. Yang jelas kekuatan dia melebihi para setan yang ada di rumah sakit. Hanya dengan menaburkan bedak salycil, nenek Yati mampu mengalahkan deretan para setan, kecuali Lastri.

Berujung pada klise

Salah satu dari beberapa pendekatan film ini yang cukup membuat saya tertarik/via instagram.com/filmsatusuro

Sebagai sutradara yang dikenal senang mengumbar plot twist dengan penceritaan berbelit, sesungguhya pendekatan yang dilakukan Anggy Umbara pada film ini bisa dikatakan cukup menarik. Tapi sayangnya, Satu Suro nggak semenarik konsep yang ditawarkannya. Film ini tetap masuk pada ranah yang sering dieksploitasi film horor belakangan ini: apalagi kalau pemujaan terhadap setan.

Selepas kesuksesan Pengabdi Setan (2017), nyaris film horor setelahnya jatuh pada kubangan yang sama. Saya pikir Satu Suro bisa menyajikan sesuatu yang baru. Tapi nyatanya, ia sama dengan film-film produksi Pichouse sebelumnya. Apalagi Satu Suro terlalu memaksakan aspek religi pada salah satu karakternya, dan proses menuju ke aspek tersebut nggak pernah benar-benar ditunjukkan.

Dengan efek visual yang cukup bertaburan, Anggy Umbara memang membawa Satu Suro menjadi miliknya. Tapi sebagai sajian horor, Satu Suro jatuh menjadi film yang membosankan. Terasa sekali Anggy masih belum menemukan cintanya pada genre horor.

- Advertisement -
Shares 8

Komentar:

Komentar