Review PSP Gaya Mahasiswa: Komedi Musikal Lucu yang Ceritanya Berantakan

Seriusan, film ini lucu lho

:

Saat ini dunia musik dan dunia maya Indonesia sedang dihebohkan dengan adanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan yang mengundang kontroversi. Para musisi merasa keberatan karena RUU tersebut mengandung batasan-batasan di dalamnya, terutama yang menyangkut moral.

Pembatasan itu juga ditenggarai dapat membengarus kebebasan musisi dalam bereskpresi. Padahal kalau kita kilas balik ke zaman dahulu, banyak musisi yang menjadikan musik sebagai wadah kritik sosial.

Sementara dunia maya dihebohkan dengan RUU Permusikan, bioskop-bioskop di tanah air kebetulan memutar film yang mengangkat salah satu grup musik legendaris, Orkes Moral Pancaran Sinar Petromax (OM PSP). Mereka dikenal sebagai grup yang sering menyuarakan kritik sosial dalam karya-karya mereka.

Mengambil judul PSP Gaya Mahasiswa, bagaimana hasil akhir dari film produksi Max Pictures ini?

Dihadapkan pada dua permasalahan utama

Mereka kenapa ya/via youtube.com/Max Pictures

Film dibuka dengan delapan mahasiswa yang mengacaukan acara dies natalies kampus Universitas Indonesiaku. Mereka adalah Omen (Adjis DoaIbu), Rojali (Boris Bokir), Monos (Imam Darto), Ade (Abdur Arsyad), James (Dimas Danang), Dindin (Uus), Adit (Wira Nagara), dan Andra (David John Schaap).

Perbuatan mereka di kampus berakibat pada ancaman drop out oleh rektor. Nggak hanya itu mereka juga harus dihadapkan pada masalah lain. Mereka yang juga tergabung dalam grup musik, harus berhenti dari kafe tempat biasa mereka manggung karena musik yang mereka mainkan sudah nggak mampu menarik penonton.

Kedua permasalahan ini yang akan menjadi benang merah dari cerita PSP Gaya Mahasiswa. Namun yang patut disayangkan, film ini nggak berhasil membuat saya merasa percaya kalau para tokoh punya masalah. Para karakter digambarkan dengan lelucon saja tanpa ada proses dan usaha untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Punya materi komedi tentang musik yang asyik

Senang dengar lagu-lagunya/via youtube.com/Max Pictures

Sesungguhnya PSP Gaya Mahasiswa punya materi komedi yang nggak berlebihan dan sesuai konteks zaman sekarang. Dan dari lelucon yang mewarnai para karakter tersebut, sebagian besarnya berhasil disampaikan dan tepat sasaran. Selain karena materinya yang dekat dengan keseharian,  delapan aktor utamanya yang memang sudah terbiasa melawak pun punya kepiawaian untuk menyampaikan materi tersebut dengan baik.

Selain mengusung genre komedi, film ini juga mengusung format musikal di mana ada lagu-lagu yang diselipkan di antara sekuen cerita yang sedang berjalan. Dan musik yang dihadirkan nggak terasa aneh seperti yang pernah saya saksikan di Benyamin Biang Kerok (2018). Apalagi dengan hadirnya lagu-lagu lawas OM PSP yang akan membuat para penggemarnya bernostalgia.

Ada komedi ada musik, maka nggak asyik jika Hilman Mutasi, Yanto Prawoto, dan Baskoro Adi selaku penulis naskah nggak memasukkan lelucon tentang dunia musik itu sendiri. Setidaknya ada dua lelucon tentang dunia musik saat ini yang tampil cukup segar. Lelucon tersebut berhubungan dengan dua ajang pencarian bakat berbeda genre di stasiun televisi.

Mungkin jika kamu nggak terlalu suka menonton ajang pencarian bakat di televisi, kamu bakal kebingungan mengingat-ingat bagian mana yang saya maksud.

Struktur cerita agak berantakan

Kehadiran tokoh asli OM PSP menambah warna tersendiri bagi film ini/via kabarsidia.com

Hilman Mutasi yang cukup piawai dalam menulis genre film seperti ini, kali ini bertindak juga sebagai sutradara. Hasilnya nggak jauh beda dengan film serupa yang pernah ia arahkan. PSP Gaya Mahasiswa punya struktur cerita yang berantakan sama seperti film komedi Hilman sebelumnya, Kacaunya Dunia Persilatan (2015) dan The Wedding & Bebek Betutu (2015).

Kenapa bisa saya katakan berantakan? Mari kita simak kisahnya.

Cerita bermula dari permasalahan yang dihadapi karakter-karakter utamanya. Dan masalah itu juga yang akhirnya membuat film seakan terbagi ke dalam tiga kisah.

Kisah pertama bertemakan problem percintaan yang diisi oleh Ade, Rojali dan Monos. Lalu ada trio Dindin, Adit dan Andra yang difungsikan untuk mengisi kisah keisengan di kampus. Dan terakhir ada Omen dan James yang diberi kisah lebih berat karena mereka harus mencari job manggung lagi.

Tapi ketiga kisah tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa pernah ada korelasi yang mengikat. Terlebih penyuntingan gambar beberapa kali berpindah dari satu kisah ke kisah lainnya tanpa konteks yang jelas. Hilman Mutasi seperti kebingungan untuk mengarahkannya. Nggak hanya itu, film juga tampak kesulitan bagaimana mempertemukan kisah delapan karakter dalam satu plot sekaligus mengakhirinya.

Kesulitan bercerita ini mengakibatkan subplot yang hadir dari masing-masing kisah terasa sia-sia. Kehadiran Fatimah (Aura Kasih) misalnya, sang ibu kost baru yang menjadi subplot dari kisah cinta Ade, Rojali dan Monos ini jadi terasa nanggung dalam memperkuat cerita. Selain untuk taruhan mereka bertiga, karakter ibu kost baru ini nyaris nggak memberikan dampak berarti pada perkembangan karakter tokoh utama.

Selfie sambil ciuman bakal langsung menang/via youtube.com/Max Pictures

Terlalu memaksakan pesan moral

PSP Gaya Mahasiswa akhirnya punya cara untuk mengakhiri semuanya. Kedelapan tokoh yang disebar dalam tiga kisah itu akhirnya dipertemukan oleh sebuah kasus yang justru berada di luar cerita mereka. Kasus yang harus mereka selesaikan sama sekali nggak ada pembangunan konflik sebelumnya. Semuanya berlangsung tiba-tiba dan begitu saja.

Konflik yang hadir tiba-tiba itu seakan hanya ingin menegaskan satu pesan moral: mereka yang jahil sesungguhnya adalah kumpulan orang-orang baik. Tapi sayangnya, pesan moral ini bertentangan dengan apa yang sudah diberikan film ini sebelumnya. Karena masalah ini, saya menyebut PSP Gaya Mahasiswa terlalu memaksakan diri untuk memberikan resolusi.

Pada akhirnya sebagai sajian hiburan, PSP Gaya Mahasiswa memang mampu menghadirkan tawa. Tapi ia terlalu berusaha keras menyajikan sesuatu yang lebih dari itu, dan ia tak mampu menggapainya.

PSP Gaya Mahasiswa juga nggak cukup percaya diri untuk tetap berada di jalurnya, sebagaimana promo film ini yang menyertakan cuplikan ekslusif adegan Dilan 1991.

7 Shares

Komentar:

Komentar