Review Pohon Terkenal: Menguak Sisi Humanis Polisi dengan Manis, tapi Melupakan Fokus Penceritaan

Apa makna dari Pohon Terkenal? Tonton dulu deh, nanti juga kamu tahu maksudnya

Film bisa saja dijadikan media untuk memperkenalkan suatu institusi pada khalayak luas. Cara seperti itu diambil agar pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh institusi tersebut lebih mudah dipahami dan dicerna oleh masyarakat. Kementerian Pertahanan melalui Direktorat Bela Negara pernah melakukannya di film Seteru (2017). Dan bisa ditebak, film arahan Hanung Bramantyo itu mengandung pesan cinta tanah air dan semangat bela negara yang kental banget.

Mengikuti jejak Kementrian Pertahanan, Kepolisian Republik Indonesia melalui Divisi Humas Polri ikut bikin film yang dikasih judul Pohon Terkenal. Untuk mengarahkannya, bangku sutradara dipercayakan pada Monty Tiwa dan Annisa Meutia.

Secara garis besar film ini akan menceritakan kehidupan taruna-taruni ketika mengikuti pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol).

Bukan pencitraan sang polisi

Divisi Humas Polri

Dengan mengambil setting Akademi Kepolisian di Semarang, Pohon Terkenal dibuka dengan adegan Bara (Umay Shahab) dan rekan-rekan seangkatannya yang sedang latihan fisik di lapangan utama Akpol. Nggak lama kemudian adegan berpindah ke beberapa waktu sebelum Bara masuk Akpol.

Diceritakan Bara adalah seorang lulusan SMA yang sudah setahun kerjanya luntang-lantung doang. Kondisi ekonomi keluarganya sendiri amat sangat pas-pasan. Jadi sulit banget bagi Bara buat lanjut ke bangku kuliah.

Prihatin melihat Bara yang nggak ada kerjaan, ibunya menyarankan agar Bara masuk Akpol. Alasannya? Karena gratis. Tapi Bara menolaknya dengan alasan yang nggak jelas.

Tapi karena satu kejadian yang menimpa ibunya, akhirnya Bara berjanji untuk masuk Akpol. Jadi perlu dicatat, satu-satunya alasan Bara masuk Akpol adalah karena ibunya.

Dia adalah Mbak Bondol yang menawan di Yowis Ben 2/Divisi Humas Polri

Di Akpol, Bara berkenalan dengan Ayu (Laura Theux), taruni anak seorang jenderal, dan Yohanes (Raim La Ode), taruna dari Papua. Tapi kita lupakan saja tokoh Yohanes. Karakternya hanya sebatas untuk melucu dan itu pun garing. Kita fokus ke Bara dan Ayu saja.

Dari perkenalan, lambat laun bulir-bulir asmara pun tumbuh di antara Bara dan Ayu. Hal ini juga yang jadi salah satu daya tarik Pohon Terkenal. Alih-alih menjadi ajang glorifikasi polisi, film ini cukup berbicara tentang kisah asmara yang sesekali disisipkan adegan latihan. Atau bisa juga sebaliknya: rutinitas pendidikan bagi calon polisi yang disisipi kisah cinta. Terserah mau dibilang yang mana, karena Pohon Terkenal cukup mampu menyeimbangkan keduanya tanpa pernah terasa tumpang tindih.

Tapi cuma itu kelebihan dari film yang naskahnya ditulis duo sutradara bersama Lina Nurmalina (Bukan Bintang Biasa the Movie, Mafia Insyaf) ini.

Sudut pandang dan penceritaan yang nggak pernah jelas

Hubungan kakak dan adik asuh juga sebatas tempelan saja/Divisi Humas Polri

Menonton kisah cinta Ayu dan Bara mungkin akan banyak bikin kita tertawa kecil atau senyum-senyum sendiri. Tapi saking keasyikannya, Pohon Terkenal lupa dengan tujuan awalnya. Salah satunya tercermin dari motivasi awal Bara masuk Akpol yang seenak jidat digantikan dengan motif lain. Bahkan karakter ibunya hanya muncul sekali di tengah film.

Lebih dari itu, karakterisasi Bara yang membuat ia dilema memilih antara keinginan pribadi dan keinginan ibunya pun nggak ada. Film dengan mudah menghilangkan bagian awal yang menjadi motivasi utama arah cerita film ini.

Setelah melupakan bagian awal, Pohon Terkenal juga memaksakan diri untuk menambah cerita Ayu yang berkonflik dengan ayahnya. Bahkan porsi konflik Ayu dan ayahnya sampai menutupi cerita Bara. Ini tentu menimbulkan tanya: dari sudut pandang siapa Pohon Terkenal ini berjalan, apa dari sudut pandang karaker Bara atau Ayu?

Akhirnya banyak karakter yang kemunculannya sia-sia belaka/Divisi Humas Polri

Monty Tiwa yang terbilang sukses mengarahkan film drama komedi dewasa semisal Test Pack, Critical Eleven, dan Sabtu Bersama Bapak, acapkali keteteran ketika mengarahkan film remaja. Hal ini juga pernah terjadi ketika Monty mengarahkan Rompis (2018), film remaja yang juga dibintangi Umay Shahab. Ia kerap kebingungan dalam melakukan restrukturisasi cerita.

Kebingungan ini bisa juga disebabkan karena naskah film yang ditulis keroyokan. Jadinya Pohon Terkenal terkesan seperti proyek penumpahan ide masing-masing penulisnya, yang lalu ditumpuk dalam satu naskah tanpa punya benang merah. Dan hal ini makin tampak jelas ketika film mendekati bagian akhir yang justru malah menggunakan narasi dan sudut pandang Yohanes.

Bagaimana bisa film ini dibuka dengan narasi dan sudut pandang Bara, sebagian besar diisi oleh cerita Ayu, dan ditutup oleh sudut pandang Yohannes?

Untuk mendekatkan anak muda dengan Polri, Pohon Terkenal bisa saja menjadi tontonan menarik berkat sajian romansa yang nggak biasa antara dua karakter utamanya. Tapi sebagai bentuk edukasi dan/atau menarik anak muda untuk mau masuk Akpol, rasanya film ini masih bisa berbenah lebih baik lagi.

Dan buat kamu yang mau nonton film ini, jangan beranjak dulu karena ada middle credit scene yang juga menjadi bagian terbaik dari Pohon Terkenal.

- Advertisement -
Shares 6

Komentar:

Komentar