Review Mata Batin 2: Perjalanan Keluar Masuk Portal Gaib yang Menakjubkan

Kamu mau nggak dibuka mata batinnya?

:

Pada suatu hari yang tak begitu cerah, terdapatlah seorang perempuan bernama Alia yang memutuskan pulang ke Jakarta selepas orangtuanya meninggal. Ia bersama adiknya, Abel, memutuskan menetap di rumah orangtuanya yang jauh dari keramaian kota. Abel tak menyukai rumah itu. Menurutnya rumah itu dihuni oleh makhluk lain selain mereka.

Tapi Alia yang ditemani Davin, pacarnya, nggak pernah menghiraukan apa yang dikatakan Abel. Hingga suatu waktu, setelah mata batinnya dibuka, Alia mendapati semua yang dikatakan oleh Abel adalah benar adanya.

Itulah secuil kisah Alia di film Mata Batin yang tayang pada akhir 2017 lalu. Petualangan Alia yang mata batinnya sudah terbuka tak terhenti sampai di situ. Ia melanjutkannya dalam Mata Batin 2 yang masih diarahkan oleh Rocky Soraya.

Punya aturan main yang jelas

Mencoba berkomunikasi dengan arwah jahat/via Hitmaker

Perlahan tapi pasti, Alia kini sudah mulai bisa beradaptasi dengan dunia gaib. Kekuatan mata batinnya yang terbuka membuat ia bertekad untuk membantu menjembatani urusan makhluk di dua dunia yang berbeda. Ia membantu manusia yang tersesat ke alam gaib dan juga membantu arwah yang tersesat di dunia nyata. Menarik bukan konsepnya?

Sejatinya Mata Batin 2 adalah film tentang perjalanan Alia keluar masuk portal gaib. Tapi tenang saja buat kamu yang pernah dikecewakan oleh film horor lain, di mana karakternya bisa sesuka hati keluar masuk portal gaib, Mata Batin 2 nggak demikian.

Film ini punya aturan main yang cukup jelas. Bagaimana seseorang bisa masuk ke alam gaib dan kembali pulang, siapa yang menjaga portal tersebut, sampai persyaratan siapa manusia yang bisa masuk ke alam gaib semuanya dijelaskan dengan gamblang dalam film ini.

Penjelasan seperti itulah yang menjadikan Mata Batin 2 istimewa. Hal itu juga bisa memudahkan penonton untuk memahami alur dan pergerakan para tokohnya.


Multiple plot twist yang (masih) mengagumkan

jangan takut ya nak, kamu tidur bareng Darmah aja/via Hitmaker

Salah satu kelebihan film pendahulunya adalah multiple plot twist yang dihadirkan. Ia sanggup memberikan lapisan cerita yang kuat tanpa melupakan rumus sebab akibatnya. Riheam Junianti dan Fajar Umbara yang duduk di departemen naskah cukup lihai memainkan fakta-fakta yang ada seperti sebuah teka-teki. Dan hasilnya pun mengagumkan!

Nggak jauh beda dengan film pertamanya, Mata Batin 2 memiliki pola serupa dalam cara pengungkapannya. Namun yang menjadi pembeda adalah urutan plotnya.

Saya ilustrasikan multiple plot twist dengan istilah A, B, C, dan D. Artinya ada empat plot yang akan menjadi alur pengungkapan film ini. Jika plot di film pertama bergerak secara runut dari A-B-C-D, Mata Batin 2 mengacak urutan tersebut. Ia nggak bergerak dari A berturut-turut hingga D, tapi malah memulainya dari C terlebih dahulu.

Sebagai contoh adalah plot terungkapnya salah satu tokoh yang sudah menjadi arwah. Di Mata Batin ada karakter Davin (Denny Sumargo) yang terungkap sudah menjadi arwah, dan pengungkapannya ditempatkan di plot C. Sementara di Mata Batin 2, justru momen terungkapnya salah satu karakter kunci diletakkan di plot A.

Terkait hal tersebut, peletakan lapisan plot di Mata Batin 2 terbilang masih mengagumkan. Meski secara pribadi saya lebih menyukai multiple plot di film pertamanya. Tidak lain dan tidak bukan karena bahasa visual di Mata Batin cukup bagus menggambarkan lapisan plotnya, dibanding Mata Batin 2 yang justru lebih banyak menyampaikannya secara verbal.

Kadar adegan sadisnya berkurang

Ada apa ya di balik rak buku tersebut?/via Hitmaker

Dwilogi Mata Batin mendapat rating 17 tahun ke atas dari Lembaga Sensor Film. Bisa jadi hal itu disebabkan karena filmnya banyak mengandung adegan sadis khas film-film Hitmaker Studios.

Memangnya seperti apa adegan sadisnya?

Tentu kamu masih ingat bagaimana Alia (Jessica Mila) membunuh Kang Asep (Epy Kusnandar) dengan begitu brutalnya. Alia yang kesurupan arwah jahat terus mengejar Kang Asep. Ia nggak mau berhenti sebelum kang Asep tewas. Prosesnya pun dilakukan bertahap sehingga menimbulkan efek ngeri yang mendalam bagi penonton. Saya rasa proses kematian kang Asep adalah salah satu adegan yang sulit dilupakan.

Lalu bagaimana dengan Mata Batin 2? Alia yang masih diperankan Jessica Mila tetap dipercaya untuk melakukan adegan pembunuhan pada salah satu karakter. Hanya saja aksi Alia kali ini terhitung cepat selesainya. Saya sendiri tak dibuat ngeri oleh aksi Alia kali ini. Apalagi pendekatan terhadap adegan ini pernah Rocky Soraya lakukan di Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur.

Tampil lebih menyentuh

Mereka adalah salah dua kunci di film ini/via Hitmaker

Di balik berkurangnya adegan sadis, kemungkinan Rocky Soraya ingin mengubah haluan Mata Batin 2 agar beda dari film pertamanya.

Jikalau Mata Batin tampil menegangkan sepanjang film, Mata Batin 2 justru tampil lebih menyentuh berkat suguhan drama keluarganya. Sophia Latjuba yang berperan sebagai Bu Laksmi menjadi kunci sukses kenapa Mata Batin 2 bisa semenyentuh ini.

Nggak percaya? Saya kasih bocoran. Saya sempat sedikit menitikkan air mata ketika Bu Laksmi memeluk Nadia (Nabilah Ayu) yang sedang terduduk di pojokan. Dan adegan tersebut juga sekaligus menunjukkan kepiawaian Nabilah dalam berdialog setelah sebelumnya datar-datar saja dari sejak awal ia muncul.

Mata Batin atau Mata Batin 2?

Semua bermula dari sini. Psikometri/via Hitmaker

Jika penilaiannya melibatkan unsur menegangkan atau menyeramkan, Mata Batin jelas lebih unggul. Tapi Mata Batin 2 punya pengembangan naskah yang bagus. Penulisannya juga lebih rapi, terutama dalam hal menyajikan variasi dari cara melihat mata batin itu sendiri.

Yang sama dari keduanya adalah pola kamera dan efek visual yang digunakan. Meski penataan kamera kedua film ini dikerjakan oleh orang yang berbeda (Asep Kalila di film pertama dan Dicky R. Maland di film kedua), keduanya patuh dan tunduk pada kekhasan dari seorang Rocky Soraya. Jadi jangan heran jika di sekuelnya masih ditemukan kaca pecah dengan efek slow motion dan kamera yang sering berputar-putar.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, Mata Batin 2 masih layak masuk jajaran horor terbaik yang dipunyai Hitmaker. Pengerjaan yang serius dan desain produksi yang matang adalah kelebihan lain yang nggak dipunya film horor kebanyakan saat ini.

Komentar:

Komentar