Review Laundry Show: Bicara Bisnis dan Pesan Kehidupan dengan Cara Menyenangkan

Kenapa mesti laundry? Kenapa bukan martabak?

Punya usaha sendiri mungkin menjadi mimpi banyak orang di dunia ini. Tapi banyak juga dari mimpi itu yang nggak terwujud di dunia nyata karena kurangnya keberanian. Akhirnya mimpi itu hanyalah tinggal mimpi.

Tapi Uki (Boy William) mungkin manusia yang berani beda. Tepatnya sih ia bisa disebut nekat. Bayangkan saja, ia memutuskan keluar dari kantor agensi kreatif yang sudah digelutinya selama lima tahun. Dan alasannya terangkum dalam film terbaru MVP Pictures, Laundry Show.

Fokus pada wirausaha

Uki akhirnya memutuskan untuk membuka usaha laundry. Kenapa ia pilih usaha laundry, bukan jualan pisang goreng atau martabak? Itu ada alasannya. Bahkan gambaran cukup mendetail mengenai alasan Uki tersebut bakal menjadi subplot drama yang menguras hati dan emosi sepanjang film bergulir.

Dengan segala daya dan upaya, termasuk menguras tabungan dan menjual mobil, Uki mulai menyewa ruko dan membeli peralatan untuk usaha laundry. Itu masih belum termasuk keharusannya untuk merekrut karyawan dan langkah-langkah kecil lainnya demi memajukan usaha laundry.

Nggak terjebak pada drama keluarga mengharu biru, tapi karakter Ibu Uki ini punya dukungan kuat terhadap film/via MVP

Kalau kita melihat film-film Indonesia sebelumnya yang membawa tema wirausaha semisal Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar, Bunda Kisah Cinta 2 Kodi, Cek Toko Sebelah, dan Filosopi Kopi, Laundry Show jelas unggul satu tingkat di atas mereka.

Kenapa demikian? Laundry Show fokus dan konsisten bercerita tentang perjuangan seseorang menjadi wirausahawan. Proses bagaimana menjadi wirausaha digambarkan dengan detail, tanpa harus berpindah fokus menjadi komedi receh atau drama keluarga mengharu biru. Semua subplot yang ada benar-benar difungsikan untuk memperkuat bangunan utamanya: wirausaha.

Kelebihan dari Laundry Show ini sekaligus menunjukkan kekuatan Upi selaku penulis naskah dalam menyusun struktur penceritaan. Ceritanya memang sederhana dan mungkin akan mudah ditebak seperti apa akhirnya. Tapi Upi menyiasatinya dengan mengisi materi yang pas pada setiap perjalanan Laundry Show. Adanya karakter karyawan yang punya karakterisasi masing-masing adalah salah satu contoh bagaimana Upi menulis film ini dengan serius.

Hidup nggak semudah bacot Ario Keukeuh

Boy William mempersembahkan akting terbaiknya sejauh ini/via MVP

“Jadi bos, kaya raya, hidup bahagia”

Sering nonton acara motivator di televisi? Kalau iya, kamu nggak akan asing lagi dengan slogan di atas. Ya untaian kata yang dilontarkan Ario Keukeuh-lah yang membuat Uki nekat keluar dari pekerjaannya. Laundry Show dengan sangat menyenangkan menggambarkan proses ini.

Tapi rupanya hidup nggak semudah bacot Ario Keukeuh. Menjadi bos nggak semudah yang dibayangkan oleh Uki. Nggak ada jalan pintas untuk meraih banyak uang selain dengan kerja keras dan komitmen. Kecuali kalau kamu bersekutu dengan iblis, sebagaimana yang sering ditampilkan oleh film horor Indonesia belakangan ini.

Maka dari itu, dengan seabrek tantangan, Uki harus memutar otak supaya bisnisnya laundry maju dan mendapat banyak pelanggan. Tapi baru saja bisnisnya melangkah satu anak tangga, Uki harus mendapat saingan dari Agustina (Gisella Anastasia) yang mendirikan usaha serupa di seberang laundry milik Uki.

Persaingan ini mengantarkan pada hubungan Uki dan Agustina (kok sepintas mirip dengan nama mantan istri Pasha Ungu) yang saling menabuhkan genderang perang. Keduanya sama-sama harus berjuang, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang menaruh harapan pada mereka.

Tuh ‘kan, lagi-lagi hidup nggak semudah bacot Ario Keukeuh.

Karakter yang saling melengkapi

via MVP

Film yang disutradarai Rizki Balki (Ananta, A: Aku, Benci, & Cinta) ini menambahkan karakter pendukung dalam wujud karyawan laundry. Dan Laundry Show melakukannya tanpa perlu menghadirkan deretan bintang yang nggak kasih pengaruh ke cerita, tapi selalu muncul di setiap scene hanya untuk menghadirkan komedi.

Nggak, film ini cukup piawai memanfaatkan para karakter untuk saling melengkapi dan membangun cerita yang utuh.

Fokus terhadap karakter pendukung ini memang lebih banyak ditaruh pada karyawan Laundry milik Uki. Mulai dari resepsionis, tukang cuci, tukang setrika, hingga petugas pengepakan punya peran sendiri yang nggak hanya difungsikan untuk pekerjaan rutin saja.

Sementara karakter pendukung di laundry milik Agustina hanya digali beberapa saja. Tapi penggalian ini menjadi menarik karena Agustina punya fungsi dalam subplot yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan karakter Uki.

Namun ketika film berjalan menuju paruh akhir, saya sedikit kecewa karena ternyata Agustina diberikan porsi lebih. Hal ini membuat pemeran utama di film ini menjadi bias. Dan parahnya,  Gisel yang diberikan kepercayaan menangani peran lebih ini nggak mampu memanfaatkannya dengan maksimal.

Ia tampil nggak meyakinkan sebagai anak muda yang sedang melakukan pembuktian diri. Gisel mungkin lebih baik tetap sebagai anak muda kaya raya yang mendirikan bisnis hanya untuk main-main sebagaimana sangkaan Uki.

Membawa pesan keberagaman

Yang perlu saya puji dan berikan apresiasi lebih dari Laundry Show adalah pesan keberagaman yang disampaikannya. Dan saya kira pesan ini bukan kebetulan semata karena Laundry Show menegaskannya berkali-kali. Hal ini ini penting mengingat keadaan dunia maya akhir-akhir ini yang terkadang kurang menghargai keberagaman.

Dengan mengusung tokoh utama dari keluarga Tionghoa, film ini bisa jadi diniatkan untuk merayakan Imlek. Serupa dengan film Mooncake Story, film produksi MVP dua tahun lalu yang juga dipersembahkan untuk merayakan Imlek.

Namun siapa sangka filosopi budaya hadir nggak hanya dari sokongan karakter ibunda Uki saja. Keberagaman juga digambarkan melalui para karyawan laundry yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Keputusan Uki memperkerjakan mbok Ani yang sudah tua dan bermata rabun pun menyiratkan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk mendapat kehidupan. Dan Laundry Show dengan jelas menggambarkan pesan anti diskriminatif tersebut melalui tokoh Mbok Ani di salah satu scene.

via MVP

Nggak cukup di situ saja, momen hangat juga hadir ketika latar waktu Laundry Show pindah ke bulan Ramadan. Film ini nggak perlu cerewet berceramah untuk mengajarkan arti toleransi dan saling menghargai. Dengan beberapa adegan saat buka puasa dan menjelang salat tarawih, Laundry Show sudah cukup menunjukkan bahwa keberagamann itu indah.

Lebih gokilnya lagi di saat suasana haru tersebut, Laundry Show masih menyempatkan diri untuk membuat lelucon. “Mau maju malu, mau mundur sudah terlalu sayang,” begitulah ucapan mbok Ani pada Uki yang membuat suasana haru bisa hadir bersamaan dengan tawa.

Pada akhirnya Laundry Show membawa banyak pesan kehidupan tanpa mereduksi fokus utama cerita filmnya. Semuanya bersatu pada menjadi jalinan cerita yang utuh.

Satu lagi, film ini kasih kita tips tentang cuci mencuci. Berguna banget tuh, apalagi untuk anak kost yang terbiasa nyuci sendiri.

7 Shares

Komentar:

Komentar