Review Foxtrot Six: Intrik Politik dalam Kemasan Action-Thriller yang Memacu Adrenalin

Sang sutradara menantang kamu untuk menafsirkan kata Foxtrot lho.

Indonesia bakal bubar di tahun 2030. Jika kamu masih ingat, pernyatan tersebut sempat bikin heboh tempo hari. Waktu itu, salah satu calon presiden…

Aah, sudahlah. Saya nggak mau keterusan membahas tentang politik. Di artikel ini saya mau mengulas Foxtrot Six, sebuah film berlatar tahun 2031, satu tahun setelah ramalan Indonesia bubar.

Dalam film tersebut, di tahun 2031 Indonesia sudah jadi negara adikuasa yang menguasai pangan. Kebetulan juga saat itu dunia tengah dilanda krisis pangan, sehingga banyak negara yang bergantung penuh pada Indonesia. Namun di tengah kondisi krisis, sekelompok orang yang menamai diri mereka Reform memberontak terhadap pemerintah.

Sebagai tanggapan atas pemberontakan tersebut, Angga Saputra (Oka Antara), anggota Dewan dari partai penguasa, diberikan tugas untuk menjaga kepatuhan rakyat terhadap pemerintah dan menumpas gerakan pemberontakan Reform.

Namun dalam menjalankan tugasnya, Angga tertangkap oleh anggota Reform yang membawanya pada petualangan lain.

3 dari 6 karakter penting di film ini/MD Pictures

Kenapa judulnya Foxtrot Six?

Saya nggak akan membahas apa itu Foxtrot. Kamu bisa menafsirkannya sendiri selepas menonton filmnya. Sekarang saya bakal lebih menyoroti kata Six yang dalam bahasa Indonesia artinya “Enam”.

Karena memang, selain Angga ada lima orang lain yang menjadi karakter utama di Foxtrot Six. Mereka adalah Spec (Chicco Jerikho), Oggi (Verdi Solaeman), Bara (Rio Dewanto), Tino (Arifin Putra), dan Ethan (Mike Lewis). Mereka berenam akan menyerang Piranas, partai penguasa yang meloloskan Angga jadi anggota dewan. Dan Angga-lah yang memimpin penyerangan ke Piranas.

Kenapa Angga melibatkan kawan-kawannya untuk menyerang pemerintah, padahal ia sendiri berada di pihak pemerintah? Itu salah satu hal yang menarik dari film ini.

“Let’s Play,” begitu ucap Angga membuka film ini dari balkon, seraya menatap logo ojek online dan situs e-commerce/MD Pictures

Sepintas, Foxtrot Six mengingatkan saya pada film 2014: Siapa Di Atas Presiden? karya Hanung Bramantyo. Kesamaan mendasar keduanya ada pada cerita utama yang berbicara tentang politik, tapi dibalut dalam kemasan laga dan thriller. Aksi baku tembak, tusuk-menusuk, dan pembunuhan menjadi ruh utama Foxtrot Six.

Adegan demi adegan berlangsung menegangkan, hampir nggak menyisakan ruang untuk penonton bernapas. Koreografi laganya pun cukup asyik dan bervariasi, mungkin karena terlibatnya Uwais Team selaku pengarahnya. Jadi kamu nggak usah heran jika persembahan laganya hampir selevel dengan koreografi The Raid dan The Raid 2: Berandal.

Foxtrot Six juga mengemas banyak adegan brutal tersebut dengan efek visual yang cukup mulus. Maklum saja, departemen visualnya melibatkan Andrew Juano, visualis efek yang pernah menangani film seperti Life of Pie (2012) dan mendapatkan Oscar untuk kategori “Best Visual Effect”.

Pertarungan Rio Dewanto yang paling menegangkan/MD Pictures

Meski banyak dihiasi adegan laga yang menegangkan, film arahan Randy Korompis ini juga memasukkan unsur drama pada ceritanya lewat karakter Sari Nirmala (Julie Estelle), mantan jurnalis yang tergabung dalam gerakan Reform.

Sayangnya karakter Sari yang digambarkan sebagai pacar Angga hanya terkesan basa-basi saja. Hubungan Sari dan Angga terasa kurang kuat dari sisi emosinya. Randy Korompis yang juga membuat naskah untuk film ini, mungkin hanya bermaksud menjadikan hubungan percintaan Angga dan Sari sebagai jeda dari segala ketegangan yang ada.

Namun kekurangan itu bisa ditambal dari sumber yang nggak disangka-sangka. Momen emosional justru hadir dari penampilan singkat Dayu Wijanto (Sesuai Aplikasi, Generasi Micin) yang berperan sebagai ibu Oggi.

Dunia distopia dalam Foxtrot Six

Foxtrot Six sendiri melibatkan nama Mario Kassar, produser Hollywood yang pernah membuat film seperti Terminator 2: Judgement Day, I Spy, dan Total Recall. Film ini sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, yang menjadikannya sebagai tantangan tersendiri bagi para aktor yang terlibat. Namun untungnya, secara keseluruhan pengucapan bahasa Inggris dari para aktor terbilang memuaskan, walaupun di beberapa bagian masih sering terdengar kaku.

Selain terdapat sedikit kendala bahasa, kekurangan lain yang cukup terasa adalah latar sosial-budaya yang digambarkan. Jika film ini dimaksudkan untuk menggambarkan dunia distopia, Foxtrot Six masih malu-malu menggambarkannya. Ia nggak banyak menggambarkan kekacauan yang terjadi. Fokus cerita masih berputar pada enam tokoh utamanya, dan ini membuat Foxtrot Six cenderung terasa seperti film laga pada umumnya.

Senjata pemusnah massal, Kodiak/MD Pictures

Di perfilman Indonesia sendiri, sejauh yang saya tahu, baru ada satu film yang mengambil latar distopia. Film tersebut adalah 3: Alif Lam Mim (2015), yang saya yakini masih menjadi karya terbaik seorang Anggy Umbara.

Nah, jika dibandingkan dengan film 3: Alif Lam Mim, Foxtrot Six memang masih terasa lemah dalam menggambarkan latar negerinya. Tapi Foxtrot Six masih punya runtutan cerita yang sederhana dan mudah diikuti, nggak seperti 3: Alif Lam Mim yang punya beberapa lapisan cerita yang jika terlewat sedikit saja akan bikin kita bingung.

Sebagai sajian action-political-thriller, Foxtrot Six masih bisa tampil lebih baik lagi, terutama dari segi pengembangan cerita. Tapi sebagai sebuah hiburan, film ini sudah melakukannya tugasnya dengan baik.

Satu informasi lagi yang harus kamu tahu, Foxtrot Six mendapat rating 21+ dari Lembaga Sensor Film.

- Advertisement -
5 Shares

Komentar:

Komentar