Review Dreadout: Menegangkan Sekaligus Membosankan, Kok Bisa?

Saya orang pertama yang bakal beli, jika ada orang jual Super Smartphone yang dipakai Linda

Jika ada satu film horor Indonesia yang paling ditunggu-tunggu tayangnya di tahun 2019 ini, mungkin film itu adalah Dreadout. Pasalnya Dreadout merupakan film Indonesia pertama yang diadaptasi dari video game yang juga buatan anak bangsa.

Lalu bagaimana Dreadout versi film ini berkisah?

Adegan pembuka yang menegangkan

Dreadout langsung dibuka tanpa basa-basi, dengan menyuguhkan adegan penculikan (hampir jadi adegan pembunuhan) yang melibatkan anak kecil di suatu apartemen. Dengan iringan musik yang mumpuni, adegan pembuka ini sukses memberikan impresi yang baik di mata saya. Dan tak lupa pula adegan pembuka ini akan jadi kunci bagi keseluruhan cerita.

Jadi, saya sarankan banget kamu untuk cermati baik-baik adegan pembukanya.

Bakal ada bonus adegan Jefri Nichol telanjang dada/via youtube.com/Screenplay Films

Dari adegan pembuka, Dreadout mengalihkan fokusnya pada tokoh Linda (Caitlin Halderman) yang mengalami daydreaming (baca: mimpi di siang hari). Bisa jadi hal itu disebabkan karena Linda kelelahan. Maklum saja, sehabis pulang sekolah Linda masih harus bekerja di minimarket yang penuh dengan produk-produk makanan. Merek produknya pun berkali-kali disorot kamera, walaupun harus saya akui, produk-produk tersebut disorot dengan fokus yang sangat ciamik oleh kamera.

Dari sini, mulailah kita akan berkenalan dengan para karakter lainnya. Mereka adalah sekumpulan anak SMA yang eksis di media sosial, terutama Jessica (Marsha Aruan). Jessica merasa iri karena follower-nya lebih sedikit dibanding Linda, adik kelasnya. Padahal Jessica termasuk cewek cantik, kaya, dan populer di sekolah.

Sebagai cewek metropolis masa kini, Jessica tentu nggak mau kalah dari Linda. Jessica dan kawan-kawan pun memutuskan untuk uji nyali di gedung kosong yang terkenal angker. Alasannya? Demi menaikkan follower.

Tapi karena nggak ada satu pun dari mereka yang kenal sama satpam gedung tersebut, terpaksa deh mereka mengajak Linda. Ya, hanya Linda yang akrab dengan sang satpam pemberani penjaga gedung kosong.

Cailtlin Halderman memukau, lainnya menjengkelkan

Siapakah yang mati di antara mereka?/via Screenplay Films

Selain Linda, Jessica pun ditemani oleh Erik (Jefri Nichol), Beni (Isryadillah), Dian (Susan Sameh), dan Alex (Ciccio Manassero). Keenam orang inilah yang akhirnya akan menemukan sesuatu di gedung kosong tersebut.

Kimo Stamboel yang juga mengisi departemen penulisan naskah cukup piawai dalam membuat karakterisasi. Terbukti enam karakter itu punya peran dan fungsi masing-masing. Meskipun sayangnya, sebagian besar dari mereka gagal dalam menuntaskan tugas, terutama dalam hal berekspresi.

Beruntung, Cailtin Halderman yang didapuk sebagai pemeran utama nggak termasuk dalam jajaran yang gagal. Caitlin yang terbiasa bermain di drama romantis berhasil berperan sebagai Linda, dengan segala bentuk ketakutan dan kepanikannya tanpa perlu banyak berkata-kata.

Pingin uji nyali, tapi baru lihat bayangan saja takutnya minta ampun / via Screenplay Films

Lalu yang lainnya bagaimana? Memang benar ada Marsha Aruan yang harus berperan ganda di film ini. Tapi perannya hanya dibatasi untuk menggerakkan plot dan menunjukkan bahwa ciri khas sang sutradara cukup terasa. Sementara Jefri Nichol masih lumayan lah berperan sebagai pelindung Linda, meskipun permainannya nggak konsisten.

Yang kurang berfaedah adalah ketiga karakter lainnya. Terasa sekali mereka kesulitan dalam berakting. Sehingga dalam keadaan-keadaan tertentu yang seharusnya hanya membutuhkan ekspresi, mereka tetap harus berdialog.

Ya, dialog adalah salah satu bentuk siasat yang digunakan film ini, ketika para pemeran nggak bisa menunjukkan emosi hanya dengan mimik dan ekspresi wajah. Jadinya, banyak adegan yang dilakukan para karakter di film ini jatuhnya jadi terasa konyol.

Tapi Dreadout masih mending kok. Ia nggak sekonyol dwilogi Arwah Tumbal Nyai.

Sinematografi dan efek visual yang mengagumkan

Unsur Sundanya agak nanggung, baik dari segi dialog maupun budaya lokalnya/via Screenplay Films

Yang paling perlu diapresiasi dari Dreadout adalah camera work dan penggunaan efek visualnya. Di paruh awal durasi, penonton bakal diposisikan layaknya subjek dalam film. Efek visual yang dihadirkan pun terasa seperti kita sedang memainkan game-nya. Kita akan dengan mudah mengikuti perjalanan Linda yang harus tersesat ke portal gaib dan bertemu dengan hantu.

Selain itu, penataan kamera ala Patrick Tashadian (Bulan Terbelah di Langit Amerika 1 & 2), bekerja dengan sangat solid sesuai dengan suasana yang sedang bergulir di film. Kamera mampu mengikuti kepanikan Linda saat dikejar hantu, menyoroti bagian-bagian artistik di rumah tua dengan fokus, dan sejumlah pendekatan lain yang membuat Dreadout tetap bisa menegangkan hingga akhir film.

Banyak adegan repetitif dan menyisakan banyak pertanyaan

Sigana mah ieu pocong rek ngored jukut/via Screenplay Films

Sebagai film yang mengusung genre survival horor, film Dreadout nggak terlalu banyak menyuguhkan bagaimana usaha karakter utama untuk bertahan hidup dari serangan hantu. Hantu yang dihadapi Linda dan kawan-kawan hanya dua saja: pocong berclurit dan hantu kebaya merah. Menjadi wajar ketika film ini kerap kali tampil membosankan, hasil dari banyaknya adegan yang repetitif untuk mengisi durasi.

Sila perhatikan berapa kali Jessica berucap masalah sinyal di tempat yang sama. Atau bagaimana mereka dengan gampangnya keluar masuk portal gaib yang buka tutup sesuka hati. Ibarat kata Syahrini, hempas masuk lagi, hempas masuk lagi.

Adegan klimaks mereka yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan para hantu pun nggak terlalu terasa. Coba dibayangkan, dalam keadaan panik, para karakter bisa-bisanya ganti baju seragam SMA dan membereskan buku-buku yang berjatuhan.

Apa mungkin ada PR yang harus dikumpulkan besoknya kali ya? Hehe.

Segudang adegan repetitif mungkin akan lebih baik jika dialokasikan pada hal-hal yang kurang dieksplorasi dalam Dreadout. Semisal pembangunan karakter Beni yang ternyata memiliki peran penting di akhir film, asal-usul para hantu, atau tentang latar belakang keluarga Linda sendiri.

Meskipun secara penilaian pribadi, semua kekurangan tersebut nggak akan sampai menganggu pengalaman sinematik ketika kamu menonton Dreadout.

Dengan mengabaikan sejumlah hal yang tak ada jawabannya, Dreadout masih bisa dinikmati sebagai sebuah karya yang menegangkan. Dan awalan yang bagus untuk film horor yang diadaptasi dari sebuah permainan.

Satu lagi, Dreadout termasuk langka karena ia adalah jenis film horor yang menakuti-nakuti tokoh utama, bukan penonton. Dan ini perlu dicatat sebagai satu kelebihan lain dari Dreadout.

11 Shares

Komentar:

Komentar