Review Calon Bini: Drama Komedi tentang Perjodohan yang Tampil Menyegarkan

"Saya pergi menemui teman-teman itu hanya untuk mengusir sepi"

:

Konon katanya, kodrat perempuan itu ada di seputaran tiga hal: sumur, dapur, dan kasur. Prinsip ini masih banyak berkembang terutama di daerah-daerah yang masih jauh dari kemajuan kota. Kebanyakan orangtua di daerah tersebut akan merasa resah tatkala anak perempuannya belum menikah, sekalipun ia punya karier dan pendidikan yang mentereng.

Hal serupa terjadi pada Ningsih, gadis desa asal Bantul yang dijodohkan oleh pamannya dengan anak kepala desa. Tapi di lubuk hatinya, Ningsih yang baru saja lulus SMA lebih pengin menggapai cita-cita daripada menikah muda. Maka untuk menghindari perjodohan tersebut, Ningsih nekat pergi ke Jakarta.

Kisah Ningsih selanjutnya ada di film Calon Bini, karya drama komedi produksi Screenplay Films.

Premis utamanya sering ditemukan di FTV Screenplay

Screenplay Films

Rupanya Ningsih (Michelle Ziudith) pergi ke Jakarta untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah konglomerat Pak Prawira (Slamet Rahardjo). Di rumah tersebut, Pak Prawira tinggal bersama istrinya, Andini (Minati Atmanegara) dan mertuanya (Niniek L. Karim) yang kerap dipanggil Oma.

Satu lagi deh, hampir ketinggalan. Pak Prawira juga tinggal bersama anak laki-lakinya. Dan nggak usah saya jelaskan juga kamu pasti bakal bisa nebak bagaimana dan seperti apa karakterisasi anak konglomerat itu.

Tokoh utama seorang gadis Jawa yang berperan sebagai ART adalah hal lumrah di FTV komedi romantis. Screenplay Production termasuk salah satu rumah produksi yang menyuplai FTV jenis ini. Jadi ketika premis ini diangkat ke layar lebar, saya sendiri nggak terlalu berekspektasi tinggi akan jalan ceritanya.

Tapi ternyata film yang naskahnya ditulis oleh Titien Wattimena dan Novia Faizal (Something in Between) ini tahu betul bagaimana menceritakan premis usang agar tetap tampil menyenangkan.


Bukan kisah cinta yang biasa

Sayapku sudah nggak bisa diobati lagi. Dan sayapmu nggak pantas buat aku/Screenplay Films

Dalam promonya Calon Bini kerap kali menggemborkan diri sebagai panggung kembalinya duet emas aktor kesayangan Screenplay: Michelle Ziudith & Rizky Nazar. Sedikit kilas balik, duet mereka berdua dalam film seringkali bikin baper yang nonton. Tengok saja film-film seperti Magic Hour, I Love You From 38000ft, dan London Love Story 2.

Tapi buat kamu yang berharap dibikin baper dengan penampilan keduanya di Calon Bini, lupakan dulu harapan kamu itu. Pasalnya film arahan Asep Kusdinar (One Fine Day, Promise) ini nggak menduetkan mereka seperti pada film-film romansa sebelumnya. Kehadiran Rizky Nazar dalam Calon Bini hanya sebagai resolusi akhir yang dipilih film ini.

Meski nggak banyak tampil dalam satu scene, kisah percintaan mereka dialihkan dalam bentuk lain.

Jajaran pemain bermain apik

Moment keluarga Ningsih pergi ke Jakarta adalah momen yang norak, membahagiakan sekaligus bakal bikin sedih/Screenplay Films

Beberapa waktu terakhir ini, Screenplay seringkali memasang aktor senior untuk memperkuat filmnya. Bukan hanya senior dari sisi usia, tapi juga suguhan aktingnya. Sebut saja Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Yayu Unru. Dan mereka pun hampir selalu berhasil menambah nyawa bagi film yang mereka bintangi.

Metode serupa kembali digunakan dalam Calon Bini yang menggandeng Slamet Rahardjo, Minati Atmanegara, Cut Mini, dan Butet Kertaradjasa yang turut memperkuat film ini. Tapi dari semua deretan pemain senior yang ada, penampil terbaik tetaplah Niniek L. Karim. Ia bukan saja menjadi pendukung terkuat ikatannya dengan Ziudith, tapi juga mampu memberikan impresi lewat dialog-dialognya yang terasa sampai ke hati.

Kalau kalian sudah setua aku, kalian akan paham mengapa aku membiarkan Ningsih melakukan ini semua/Screenplay Films

Jajaran aktor mudanya pun nggak kalah keren. Kehadiran para pemain pendukung di sisi keluarga Ningsih memberikan suguhan yang pas sebagai orang Jawa. Apresiasi lebih saya berikan pada Dian Siddik yang berperan sebagai Sapto, anak Kepala Desa yang dijodohkan dengan Ningsih.

Lalu bagaimana dengan Michelle Ziudith sendiri? Saya rasa Ziudith yang biasa berperan sebagai gadis remaja yang mengharap kasih sayang cowok secara berlebihan sudah berani keluar dari zona nyamannya. Di Calon Bini, Ziudith tampak berusaha keras menjadi Ningsih, gadis yang lugu dan polos.

Hasilnya bisa saya bilang Ziudith berhasil memainkan perannya dengan cukup baik. Tapi ketika diberikan adegan drama, Ziudith masih menampilkan tangis yang agak berlebihan. Meskipun kadarnya nggak sampai mengganggu kekhusyuan menonton.

Berani menggunakan bahasa Jawa

Kerja kamu harus sebagus Sri ya. Tapi Sri yang mana, ia nggak pernah ada di filmnya/Screenplay Films

Satu hal lain yang menjadikan Calon Bini berbeda dengan FTV adalah keputusannya menggunakan bahasa Jawa secara total. Kalau FTV lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang dimedok-medokkan, Calon Bini nggak begitu. Ia tampil percaya diri menggunakan bahasa daerah. Kamu yang nggak ngerti bahasa Jawa pun nggak usah bingung. Film ini sudah menyediakan subtitle bahasa Indonesia yang mudah dimengerti.

Menariknya lagi, penggunaan latar kedaerahan ini nggak terbatas pada bahasa saja, Calon Bini juga banyak menggunakan musik modern dengan sentuhan musik lokal. Salah satunya tercermin saat adegan pembuka. Instrumen lagu Wanita Terbahagia milik Bunga Citra Lestari dipadukan oleh Joseph S Djaffar dengan musik lokal yang kental. Dan penempatannya pun sangat pas di suasana-suasana tertentu.

Sebagai film drama komedi ringan, Calon Bini terhitung berhasil melaksanakan tugasnya. Kalaupun ada yang kurang adalah kehadiran Antonio Blanco Jr yang nggak punya relevansi terhadap benang merah cerita utama.

 

Komentar:

Komentar