Review Anak Hoki: Sebuah Film yang Judulnya Lebih Baik Diganti Jadi “Temannya Ahok”


Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok boleh saja berbangga. Kisah hidup mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah diangkat ke dalam dua film yang rilisnya hanya berjarak empat bulan.

Rasanya baru saja kita disuguhi A Man Called Ahok karya Putrama Tuta yang tayang awal November 2018 lalu. Tanggal 21 Februari 2019 ini ada lagi film Anak Hoki karya Ginanti Rona.

Meskipun membahas sosok yang sama, dua film itu masih punya perbedaan mendasar. Jika A Man Called Ahok lebih menekankan sosok ayah Ahok sebagai teladan, Anak Hoki lebih banyak bercerita mengenai masa remaja Ahok.

instagram.com/filmanakhoki

Mengapa film ini judulnya lebih baik diganti jadi Temannya Ahok?

Anak Hoki dibuka dengan narasi ayah Ahok yang mengisahkan asal-usul mengapa seorang Basuki Tjahaja Purnama dipanggil dengan sebutan Ahok. Sejurus kemudian, narasi langsung berpindah pada sosok Ahok sendiri. Ia ditunjukkan tengah memperkenalkan teman-teman masa kecilnya, sebelum film dengan cepat beralih memperlihatkan Ahok versi remaja.

Dan Ahok remaja yang diperankan Kenny Austin (Reuni Z, Mata Dewa) memutuskan pergi ke Jakarta demi melanjutkan sekolahnya. Di ibu kota pula ia memulai persahabatannya dengan Eva (Nadine Waworuntu), Daniel (Lolox), dan Bayu (Christ Laurent). Untuk selanjutnya keseluruhan durasi Anak Hoki lebih didominasi kisah persahabatan mereka berempat.

Bagian pembukanya yang loncat-loncat itu, jujur saja, memunculkan banyak pertanyaan di benak saya. Apa cerita yang mau ditawarkan oleh film ini? Meskipun awalnya saya mencoba menyimpan pertanyaan tersebut hingga film selesai, tapi akhirnya saya sadar kalau Anak Hoki nggak pernah fokus menentukan titik sudut pandang penceritaan.

Sudut pandang karakter mana yang bakal jadi titik pijak penceritaan Anak Hoki? Itu nggak pernah jelas.

Nyaris nggak ada visi yang hendak disampaikan ketika Ahok kuliah, selain kegamangannya dalam memilih jurusan/instagram.com/filmanakhoki

Ally Alexandra yang bertugas menggawangi departemen naskah nampaknya nggak punya materi yang cukup mengenai masa remaja Ahok. Entah materinya nggak cukup atau memang nggak ada hal menarik yang harus dibagikan. Akibatnya Anak Hoki terkesan mengalihkan fokus penceritaan pada karakter pendukung, terutama Eva dan Daniel.

Dua karakter itu diceritakan punya masalah pribadi yang nyaris menutupi karakter Ahok. Sedangkan Ahok sendiri hanya digambarkan sebagai pihak yang terlibat tanpa pernah punya porsi tampil sebagai tokoh utama. Bahkan di salah satu adegan, ada kebodohan luar biasa terkait naskah yang dihadirkan film ini.

Itu bisa kamu lihat saat Eva dipaksa ayahnya untuk kuliah kedokteran, sementara ia sendiri lebih senang bermain musik. Perbedaan keinginan antara ayah dan anak itu berujung pada seringnya mereka bertengkar.

Mungkin karena muak dengan pertengkaran versus ayahnya, Eva nekat kabur dari rumah dan memilih kostan Ahok sebagai tempat pelariannya. Tapi belum lama Ahok punya teman sekamar yang baru, Eva keburu minggat lagi, menyebabkan kepanikan pada keluarga Eva dan Ahok.

Di tengah kepanikan itu, ayahnya Eva berkata seperti ini pada Ahok:

“Kalau terjadi apa-apa sama Eva, saya akan menyalahkan kalian. Terutama kamu Hok, karena kamu teman dekatnya Eva.”

Kelihatan di mana letak kebodohannya? Ya, si Eva ini kan ribut sama ayahnya sampai-sampai minggat dari rumah. Lah, kok ini malah Ahok yang disalahkan!? Dan apa hubungannya kalau Eva teman dekatnya Ahok?

Selain lagunya yang dipakai dalam cerita, Maia juga turut menjadi peran penting di film ini/instagram.com/filmanakhoki

Karakter sentral yang tumpang tindih ini — di mana Eva dan Daniel acapkali mencuri sorotan — bikin saya berpikir film ini lebih baik diganti saja judulnya jadi “Teman Ahok“. Pemikiran dan pengalaman hidup Ahok nggak pernah jadi penggerak utama dari film ini. Padahal Ahok pun punya konflik pribadi yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi fokus cerita yang solid.

Kebingungan Anak Hoki dalam bercerita bisa dimaklumi sebetulnya, terutama jika kita membandingkan isi ceritanya dengan A Man Called Ahok. Anak Hoki mungkin akan merasa terbebani jika harus bercerita hal selain masa remaja Ahok. Karena memang di A Man Called AHok, bagian kisah remaja Ahok dilewatkan.

Tapi rupanya Anak Hoki terlihat nggak percaya diri untuk tetap berada di jalur kisah remaja Ahok. Filosofi kehidupan tentang ayahnya Ahok hadir dengan cara dipaksakan. Itu terlihat dari bagaimana film mengenalkan kebaikan ayahnya melalui adegan motor Ahok yang mogok. Terlalu ceramah!

Kepingan-kepingan lain yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih dalam pun hanya dijelaskan dengan narasi. Dan nggak ada penjelasan yang memuaskan kenapa Ahok bisa mencapai kondisi hidup yang diperlihatkan di bagian ending. Kita hanya mendapat penjelasannya dari narasi singkat doang.

Lalu ke mana perginya teman-teman Ahok yang sedari tadi mengambil banyak porsi cerita itu? Batang hidung mereka nggak kelihatan saat film menyentuh bagian ending.

Film ini hanya terselamatkan oleh penampilan lucu Tamara Geraldine yang berperan sebagai Ibu Daniel/instagram.com/filmanakhoki

Film produksi Revolution Pictures dan Unlimited Production seakan hadir hanya memenuhi kewajiban tayang saja, sekadar formalitas. Visi yang hendak disampaikannya nggak kelihatan, gairah dalam berceritanya nol.

Ginanti Rona yang pernah memukau lewat film Midinight Show seakan membiarkan film ini tanpa arahan yang pasti.

 

Komentar:

Komentar