Review Asih: Horor Main-Main yang Tak Mengindahkan Konsistensi Bercerita

Jadi awalnya Asih namanya Kasih, apa itu penting?

:

Masih ingat dengan sosok hantu yang menyamar jadi pengasuh di Danur: I Can See Ghost? Ya, Asih namanya.

Berbekal 2,7 juta penonton Danur, nampaknya MD Pictures cukup percaya diri membuatkan spin off tentang Asih. Kalau mau dibandingkan, mungkin mirip-mirip dengan Valak yang dibuatkan filmnya sendiri dalam The Nun.

Lalu bagaimanakah hasil dari Asih yang mengambil latar waktu di tahun 1980 ini?

Asih yang kurang dieksplorasi

Kalau kamu nonton Asih karena berharap ingin tahu siapa Asih sebenarnya, bagaimana kisah masa lalunya, mengapa ia membunuh anaknya, siapa yang menghamili dirinya, atau bagaimana cerita saat Asih jadi pengasuh, siap-siap saja untuk kecewa.

Asih tak banyak menceritakan masa lalu sosok hantu yang sekaligus juga dijadikan judul tersebut. Asih hanya diceritakan sebagai hantu yang menginginkan anaknya kembali dengan meneror satu keluarga yang baru saja mendapat anak. Bahkan porsi penceritaan Asih dalam film ini tak lebih banyak dibanding kemunculan Asih dalam Danur: I Can See Ghost.

Satu-satunya informasi baru yang akan kamu dapat dari Asih adalah nama asli dari hantu tersebut, yakni Kasih. Entah kapan nama Asih tersemat padanya. Saya jadi curiga, sebelum peran ini didapat Shareefa Danish, mungkin artis Aura Kasih pernah terpilih untuk memerankannya.

Meski terlihat lelah dan jenuh, Shareefa Danish masih menunjukkan kemampuannya sebagai Asih dengan baik. Ditambah tata rias mumpuni, Asih menjadi sosok hantu yang menyeramkan/via youtube.com

Karakter yang kosong

Seperti yang dikatakan sebelumnya, target teror dari Asih merupakan keluarga kecil yang terdiri dari Andi (Darius Sinarthya) istrinya, Ita (Citra Kirana), dan ibu dari Andi (Marini Soerjosoemarno).


Terdengar standar? Sesuatu yang biasa saja sesungguhnya bisa terlihat menarik jika diberi latar belakang yang mendalam atau menggugah rasa penasaran. Sayang beribu sayang, saya nggak menemukan hal itu pada karakter-karakter dalam Asih.

Ita hanya diceritakan sebagai seorang ibu yang khawatir terhadap anaknya, terlebih setelah mendengar cerita mistis dari Sekar (Djenar Maesa Ayu), bidan rempong yang membantu persalinan dirinya. Pun juga dengan Andi, kita hanya diberi tahu kalau ia hanya seorang pegawai (tanpa kantor) yang tidak percaya pada hal gaib. Sementara karakter sang ibu cuma digambarkan sebagai perempuan yang sudah mulai pikun.

Selain itu, karakter yang diciptakan sama sekali tak berkolerasi dengan jalan cerita. Pola cerita film ini umumnya hanya berisikan tokoh yang diteror hantu. Ada juga sih karakter yang awalnya tidak percaya hantu, tapi kemudian jadi percaya karena melihatnya sendiri. Setelah itu, sudah tertebak, si karakter ini memanggil orang pintar untuk menyelesaikannya.

Jadi pada initinya, penulis naskah hanya menjadikan karakter sebagai objek serangan Asih.

Meski tak sempurna dalam pelafalannya, usaha Darius dalam mengumandangkan azan perlu saya apresiasi/via youtube.com

Alur lambat dan durasi singkat, menghasilkan solusi yang terburu-buru

Hampir serupa Kafir: Bersekutu dengan Setan, Asih bergulir dengan cenderung lamban. Penonton diajak perlahan menyelami konflik dengan materi teror yang sebetulnya menarik. Sebut saja mitos tentang cara mengubur ari-ari bayi, suara ciak-ciak ayam, hingga arahan untuk menyimpan gunting di bawah bantal agar tak diganggu makhlus halus. Itu semua sangat potensial untuk bisa dikembangkan dengan baik oleh Awi Suryadi, yang kali ini kembali dipercaya duduk di bangku sutradara. Pembangunan cerita di awal film yang memaksimalkan kengerian-kengerian dengan suara musik minimalis pun sesungguhnya menjadi awal yang bagus untuk Asih.

Sayangnya, dengan modal durasi yang singkat (79 menit), cerita terasa terlalu terburu-buru memberikan solusi. Cukup mengherankan. Jika memang sedari awal durasi film dibuat seadanya, mengapa alur lambat dijadikan pilihan dalam bertutur?

Bukan ibunya yang pikun, tapi Ita. Ketika diminta untuk melakukan 2 hal oleh Sekar, ia hanya melakukan satu hal/via MD Pictures

Terbaik di Danur Universe?

Jika dibandingkan dengan Danur: I Can See Ghost dan Danur 2: Maddah, Asih sebetulnya tak benar-benar unggul. Ketiganya masih memiliki masalah serupa, terutama di cerita dan teknik penceritaan yang kosong. Salah satu kelebihannya mungkin terletak penyusunan set dan properti.

Tapi masalahnya, latar waktu Asih terjadi 37 tahun sebelum Danur. Secara otomatis pembuat film dituntut harus menciptakan set yang sesuai dengan keadaan zamannya.

Set yang ada seperti rumah dan perabotan tua memang selaras dengan tone film yang berusaha menampilkan suasana tahun 1980. Tapi… itu memang sudah menjadi konsekuensi logis. Jadi, apakah masalah set ini bisa dikatakan sebagai suatu kelebihan?

Mari kita perhatikan bagaimana Asih menjelaskan struktur rumah tua kepada penonton. Di salah satu adegan terlihat lorong yang membelah ruang mandi (bagian belakang) langsung tembus ke bagian depan, seakan pintu kamar tidur berada di bagian samping lorong tesebut. Tapi ketika ruang mandi diperlihatkan dari arah depan, Asih tidak pernah betul-betul menampakkan lorong tersebut memang tersambung.

Struktur rumah dan penjelasannya seharusnya jadi hal penting untuk diperhatikan agar pergerakan para tokoh bisa dimengerti oleh penonton. Tidak lucu juga ‘kan, di rumah yang sesempit itu kita harus teriak-teriak kalau manggil orang?

Lorong ini cuman untuk seram-seraman doang, tanpa memperhatikan bagaimana penataan artistiknya/via youtube.com

Jika kita mengingat bagaimana Pengabdi Setan memberikan informasi kepada penonton mengenai struktur rumahnya, saya dengan jelas mampu memahami denah rumah tersebut. Kamar ibu ada di mana, tangga di sebelah mana, ruang tamu ada di sebelah mana. Penting sekali dalam film horor yang hanya berlatarkan satu buah rumah memberikan gambaran jelas mengenai struktur rumahnya agar tak salah dalam melakukan screen direction.

Perhatikan kembali adegan menjelang akhir durasi di Asih. Semula ketiga karakter utama tengah duduk-duduk di meja ruang tamu ditemani Abah (Alex Abbad). Ketika Andi dan Abah pergi ke luar, tiba-tiba si ibu mertua meninggalkan Ita dan memintanya berzikir. Setelah itu Ita terlihat zikir di kamarnya.

Itu berarti, Ita pindah ke kamar dan si ibu pergi entah ke mana. Andi dan Abah balik lagi karena sudah berhasil mendapatkan bayinya yang diculik Asih. Dan entah kenapa tasbih Ita tercerai berai.

Scene berikutnya langsung menunjukkan Ita yang sudah berada di kursi goyang di ruang tamu. Melihat Ita yang terduduk di ruang tamu, Andi pun memberikan bayinya pada Ita, yang ternyata sudah dirasuki Asih. Tiba-tiba kursi melayang seperti adegan dalam Munafik, sebelum adegan pindah ke kamar mandi.  Ita yang masih dirasuki Asih lalu memandikan bayinya, dan Abah berusaha mengusir Asih untuk terlepas dari tubuh Ita.

Itu salah satu serangkaian adegan yang tak mengindahkan logika bercerita, konsistensi penceritaan, dan screen direction yang baik. Sepertinya yang terpenting bagi Asih itu hanya membuat penonton berteriak ketakutan; logika dan konsistensi penceritaan diabaikan.

Bagi saya, Asih terlihat dibuat kurang serius. Durasi singkat, klimaks kurang memuaskan, yang penting penontonnya banyak. Terbukti dalam empat hari pertama saja film ini bisa menghimpun sampai sekitar 800 ribu penonton.

Apa kamu termasuk dalam 800 ribu penonton itu?

Komentar:

Komentar