Review Asal Kau Bahagia: Drama Remaja Fantasi yang Nggak Punya Tujuan Jelas

"Kamu adalah cowok terculun yang pernah kukenal, dan aku mencintaimu"

:

Menyandang status sebagai film penutup akhir tahun, Asal Kau Bahagia seharusnya bisa membahagiakan penontonnya. Terlebih gala premierenya dilaksanakan di kapal pesiar yang tentunya akan membahagiakan para tamu undangan. Tak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, asal mereka bahagia. Mungkin itulah yang ada di pikiran Frederica, sang produser, ketika membuat film ini.

Tapi, apakah Asal Kau Bahagia memang memberikan kebahagiaan bagi penontonnya? Simak ulasannya berikut ini

Ide & konsep Out of Body Experience yang menarik

Suka dah sama warna dan sinematografinya/via youtube.com/Falcon Pictures

Asal Kau Bahagia bercerita tentang sepasang kekasih, Ali (Aliando) dan Aurora (Aurora Ribero). Namun, kisah cinta mereka diuji ketika Ali harus terbaring koma akibat kecelakaan parah yang menimpanya. Meski raganya terkulai lemah di ranjang rumah sakit, jiwanya tetap hidup layaknya manusia normal. Mungkin kebanyakan orang mengenal fenomena tersebut dengan istilah Out of Body Experience (OOBE).

Menariknya konsep OOBE ini langsung diungkap di awal-awal film. Sedari dini penonton sudah diberi tahu apa yang terjadi dengan raga dan jiwa Ali. Dalam hal ini, Asal Kau Bahagia berbeda dengan Something in Between yang menjadikan elemen fantasi sebagai twist/jawaban atas segala konflik yang sudah dibangun.

Oleh karena itu, timbul pertanyaan dalam pikiran saya: konflik apa yang hendak dicapai oleh Asal Kau Bahagia?

Konflik utama yang nggak punya tujuan

Inilah rahasia besar yang disembunyikan Aurora/via Falcon Pictures

Dengan menggunakan elemen fantasi yang dibuka di awal, Asal Kau Bahagia seperti hendak mengungkap rahasia besar yang disembunyikan oleh Aurora. Bagaimana caranya? Di sinilah tokoh Ali memainkan perannya.

Jadi, Ali harus mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi dengan kisah cintanya. Bermodal jiwa yang bisa melayang ke sana ke mari dan tak terlihat oleh orang lain, tentu membuat ia leluasa melakukan penyelidikan.


Untuk membantu Ali, tentu diperlukan tokoh nyata yang bisa berkomunikasi di dua alam yang berbeda. Selain berbicara dengan manusia lainnya, ia pun harus mampu berkomunikasi dengan jiwa Ali. Terpilihlah Dewa (Dewa Dayana), sahabat dekat Ali dan satu-satunya manusia yang mampu melihat dan berkomunikasi dengannya.

Film berdurasi 88 menit ini menyuguhkan pencarian tersebut sebagai konflik utama. Sayangnya, permasalahan yang seharusnya bisa kita nikmati saat menonton itu nggak pernah tersampaikan dengan baik. Nggak ada tujuan utama yang hendak dicapai oleh sang tokoh utama Ali selain untuk bertahan hidup.

Saya hanya merasakan apa yang tidak saya rasakan selama dua tahun ini. Yaitu kagum sama seseorang/via youtube.com/Falcon Pictures

Saya jadi teringat dengan film serupa, Love is Cinta (2007). Di film itu, Ryan si karakter utama harus kembali ke dunia nyata karena masih ingin menyelesaikan sesuatu hal yang belum diselesaikannya. Ya, Ryan ingin menyatakan cinta terpendam pada sahabatnya.

Asal Kau Bahagia justru berlaku sebaliknya. Konflik dimulai bukan oleh Ali, melainkan Aurora. Saya terpikir kenapa bukan Aurora yang menjelaskan untuk apa ia mengajak Ali ketemuan, sebelum kecelakaan yang menimpa Ali Terjadi. Mengapa harus Ali yang mencari tahu?

Maka dari itu, film pun kebingungan dalam menyampaikan maksud dan tujuan utamanya. Sebagai jalan menyiasati kegagapannya dalam bercerita, tokoh Dewa dijadikan pengalih perhatian (baca: pemancing tawa). Meskipun dari sisi hasil, debut akting Dewa Dayana memang patut diacungi jempol. Setiap kemunculannya di layar berhasil mengundang bahagia. Bahkan ketika ia harus menangani adegan drama pun, ia berhasil menjalankannya dengan sangat baik.

Karakterisasi yang minim

Jadi cewek tuh jangan kegoda sama yang baru. Itu adalah perasaan yang kamu rasakan saat pertama kali bertemu dengan yang lama/via youtube.com/Falcon Pictures

Mayoritas durasi film akhirnya jadi terbuang percuma karena hanya berkutat pada pencarian rahasia Aurora. Hal tersebut seyogianya bisa dimanfaatkan untuk pendalaman karakterisasi masing-masing tokoh, terutama Ali dan Aurora. Tapi hal itu nggak pernah terlihat.

Asal Kau Bahagia memang nggak banyak menggambarkan Ali dan Aurora sebagai kekasih yang tengah dimabuk asmara selain dari dialog ala-ala film remaja kebanyakan. Siapa mereka? Apa aktivitas yang suka mereka lakukan? Itu semua nggak pernah dijelaskan.

Awalnya saya nggak mempermasalahkan karakterisasi yang minim, selama itu memang nggak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan cerita. Tapi masalah timbul ketika di akhir film mereka disebutkan sebagai pasangan yang beruntung. Ali digambarkan sebagai cowok cupu yang beruntung mendapatkan Aurora, cewek populer di sekolah.

Narasi akhir tentang mereka harusnya bisa membuat mata ini mengeluarkan air mata. Tapi sayang, otak bekerja lebih cepat daripada mata. Saya langsung berpikir kapan mereka sekolah? Secupu apa Ali? Dan sepopuler apa Aurora di sekolah? Hal itu nggak pernah ada di film barang satu adegan pun.

Wah, kok bisa ya? Apa banyak scene yang dibuang, atau memang Upi dan Aline Djayakusuma yang mengurusi bagian naskah kecolongan? Entahlah.

Adaptasi lagu yang dipaksakan

Aliando memang aktor yang menjanjikan. Sering-sering main film ya/via Falcon Pictures

Setiap penikmat suatu karya punya hak untuk menafsirkan karya tersebut sesuai interpretasi masing-masing. Sutradara Rako Prijanto pun menafsirkan lirik lagu Asal Kau Bahagia menjadi film sesuai interpretasinya. Namun, kalau saya resapi kembali, beberapa potongan lirik dan alur cerita filmnya nggak pernah koheren. Sudut pandang yang digunakan pun nggak pernah jelas. Apakah “Aku” yang ada dalam lagu merujuk ke sosok Ali, Aurora, atau tokoh lain?

Walhasil, film Asal Kau Bahagia terlihat berusaha terlalu keras membuat judul lagu inspirasinya agar tetap koheren dengan jalan cerita. Salah satunya dengan munculnya frasa “Asal kau bahagia” yang diucapkan Ali kepada Aurora lebih dari tiga kali, seakan frasa tersebut ingin menegaskan apa yang menjadi ruh utama film ini. Tapi sayangnya, kalimat-kalimat tersebut sekadar numpang lewat.

Saya merasa Asal Kau Bahagia sesungguhnya memiliki materi cerita yang berdiri sendiri, terpisah dari lagunya. Nggak ada alasan kenapa film Asal Kau Bahagia harus mengadaptasi lagu yang dipopulerkan oleh Armada tersebut.

Sesungguhnya yang mencuri perhatian adalah Dewa bertopi ini/via youtube.com

Terlepas dari kekurangan yang ada, Asal Kau Bahagia masihlah menjadi suguhan akhir tahun yang menyenangkan. Aliando sanggup memberikan penampilan yang gemilang di film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini. Lagu-lagu yang mengirinya pun enak didengar.

Dan satu lagi, tema film remaja fantasi seperti ini terhitung masih langka di jagad perfilman nasional.

Komentar:

Komentar