Review Aquaman, Sosok Penyelamat DCEU dari Keterpurukan Akhirnya Datang!

Akhirnya ada harapan baru dari DC!

:

Seperti ada jurang pemisah, film superhero dari DC itu berbeda dari film superhero Marvel. Salah satu perbedaan besarnya, kamu juga pasti tahu, yakni soal respons. Alih-alih mendapat sambutan hangat dari penonton dan kritikus, film-film superhero DC sering banget diserang kritik negatif nan tajam.

Justice League (2017) misalnya, film yang digadang-gadang sebagai proyek besar DC tersebut malah berakhir mengenaskan. Mungkin saking buruknya, sampai-sampai kumis Henry Cavill pun ditunjuk jadi biang kerok keterpurukan Justice League.

Pun demikian, reputasi DC bisa sedikit terselamatkan oleh Wonder Woman (2017) yang meraih banyak pujian. Dan reputasi DC nampaknya akan kembali berkilau berkat kisah anggota Justice League yang juga sang penguasa lautan: Aquaman.

Film superhero dengan selipan isu global

Plot Aquaman sebenarnya sedikit mengingatkan kita pada Black Panther (2018). Aquaman alias Arthur (Jason Momoa) dikisahkan harus melawan saudara tirinya, King Orm (Patrick Wilson) untuk menduduki tahta sebagai Raja Atlantis. Arthur sebenarnya enggan berseteru dengan saudaranya itu. Ia bahkan tetap bergeming meski dipaksa oleh Mera (Amber Heard) yang justru merupakan tunangan dari Orm. 

Mera beranggapan Arthur lebih pantas memimpin Atlantis dibanding Orm, yang dicurigainya punya niat jahat. Sedangkan Arthur? Mera punya penilaian lain tentangnya karena sebelumnya Arthur berhasil mengalahkan Steppenwolf. Buat kamu yang lupa, Steppenwolf adalah sosok antagonis yang muncul dalam Justice League. Mera sendiri juga sempat hadir dalam Justice League lewat satu adegan ketika Steppenwolf menyerang Atlantis guna mengambil Mother’s Box. Hal ini seolah menegaskan kalau setting waktu Aquaman berlangsung setelah Justice League.

Pertarungan kakak beradik demi tahta raja/via w3livenews.com

Ngomong-ngomong, apakah rencana jahat yang ingin dilaksanakan oleh Orm? Orm rupanya ingin menghancurkan daratan yang dihuni manusia. Mungkin kamu merasa motif jahat dari Orm klise abis. Penjahat yang ingin menghancurkan dunia? Hah! Berapa banyak film yang mengandakan motif seperti itu!?

Tapi yang keren dari Aquaman, film ini menyelipkan satu pesan khusus di balik rencana jahat Orm tersebut.

Jadi begini, Orm ingin menghancurkan daratan karena menganggap manusia telah bertanggung jawab dalam merusak lautan lewat tumpukan sampah. Siapa sangka di balik status film superhero yang disandangnya, Aquaman membawa isu global yang sangat relevan dengan kehidupan nyata?

Setelah kita sering dijejali dengan penjahat yang entah kenapa selalu ingin menguasai dunia, Aquaman menghadirkan Orm sebagai antagonis yang punya motif dan alasan realistis untuk menaklukan peradaban.

James Wan sukses meramu Aquaman dengan spektakuler

Sekilas visualisasi Atlantis yang menakjubkan/via inerd4u.com

Ya, saya nggak berlebihan saat menulis sub-judul di atas. Saya sampai terkagum-kagum melihat bagaimana James Wan yang identik dengan film horor ternyata mampu menuturkan jalan cerita Aquaman dengan rapi dan mendetail. Saking rapinya poin-poin cerita yang disampaikan, durasi film ini membengkak sampai hampir 2,5 jam.

Tapi kamu dijamin nggak akan rugi. Meskipun durasi 2,5 jam itu sedikit melelahkan buat ditonton, Wan menebusnya dengan terus menampilkan suguhan visual yang menakjubkan mata. Tampilan dunia Atlantis dibuat dengan sangat berwarna, sehingga saya terpaksa menulis catatan sambil terus memandangi layar.

Dan bukan cuma Atlantis yang dapat perlakuan spesial, kekaguman saya masih belum hilang ketika film menampilkan lokasi-lokasi lainnya. Mulai dari Gurun Sahara yang jadi petunjuk awal dalam mencari trisula Poseidon; Pulau Sicily di selatan Italia yang dibikin ‘babak belur’ oleh perkelahian Arthur dengan Black Manta; sampai pulau tersembunyi yang terletak di dalam inti bumi, semuanya diset dengan nyaris sempurna.

Black Manta yang punya misi sendiri terhadap Aquaman/via dccomics.com

Pengalaman Wan dalam membesut Furious 7 sepertinya turut membantu aksi spektakuler yang memenuhi Aquaman. Baku hantam, tembakan, ledakan, sampai pertarungan puncaknya seperti sengaja dirancang sedemikian rupa  untuk memenuhi dahaga para penggemar film superhero.

Segi visual efek dalam film ini pun layak diacungi jempol. Dengan banyak menggunakan latar di dalam air, saya nggak bisa menahan decak kagum kala melihat kibasan rambut dan jubah para karakter yang bisa terlihat natural selayaknya mereka sedang menyelam.

Ada lagi satu poin kecil tapi keren yang saya perhatikan dari film ini. Setiap kali karakter berbicara dalam air, suara mereka kentara banget perbedaannya dibanding saat mereka bicara di daratan. Kasarnya, ada efek redamnya gitu. Bayangkan saja kalau kamu lagi menyelam dalam air. Suara yang kamu dengar pasti nggak akan begitu jelas, teredam oleh air yang mengelilingi kamu.

Detail macam itu mungkin gampang banget terlewatkan oleh penonton. Tapi film ini nggak luput untuk menyertakannya. Dan bagi saya, itu adalah sesuatu yang patut mendapat pujian.

Patrick Wilson yang menjadi aktor langganan James Wan dalam filmnya/via reddit.com

Tapi karena Aquaman juga didukung oleh pasutri Zack dan Deborah Snyder yang duduk sebagai produser eksekutifnya, beberapa visual di dalamnya jadi terasa memiliki sentuhan Zack Snyder. Itu terlihat dengan masih digunakannya efek slow motion di beberapa adegan. Tujuannya pasti untuk dramatisasi adegan, tapi itu lebih terasa mengganggu.

Beberapa tone warna yang ditampilkan juga terlihat gelap (dark dan gloomy), mirip dengan yang dilakukan Snyder dalam Batman v Superman: Dawn of Justice. Adegan saat Arthur dan Mera bertarung melawan sekelompok makhluk bernama Trench di atas kapal adalah salah satu contohnya.

Hmm.. apa mungkin itu memang disengaja pihak studio demi tetap konsisten dalam memberikan tone  kelam khas DC?

Akhir kata, Aquaman muncul sebagai film superhero khas DC. Pembawaannya serius dan minim komedi, seperti orang yang sulit diajak bercanda.

Tapi pembawaan yang serius dan minimnya unsur komedi bukan patokan tepat untuk menilai film superhero. Selain Wonder Woman, Aquaman layak disebut sebagai yang  terbaik dalam rangkaian film DCEU. Apakah ini pertanda kita bisa berharap lagi pada film superhero DC di masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

18 Shares

Komentar:

Komentar