Review Alita: Battle Angel, Membuang Potensi demi Kisah Percintaan Cyborg dan Manusia

Kisah tentang cyborg berwajah dan berhati malaikat, dan bermata mirip karakter anime

Saya punya harapan yang cukup besar pada film Alita: Battle Angel. Apalagi kalau bukan karena faktor James Cameron selaku produser dan penulis naskahnya, serta Robert Rodriguez yang bertugas di bangku penyutradaraan.

Bukan tanpa alasan dong jika mereka dengan percaya diri menyebut “Dari produser Titanic dan Avatar” dalam setiap materi promosi Alita?

Alita: Battle Angel memang merupakan proyek ambisius dari James Cameron sejak tahun 2000. Ia sudah mempersiapkan naskahnya dengan matang dari dulu, meskipun nasibnya terus terkatung-katung karena ia memilih fokus terhadap Avatar. Pun ketika akhirnya Cameron melepaskan statusnya sebagai sutradara Alita dan menyerahkannya ke Robert Rodriguez, Saya agak sedikit menyayangkannya.

Bukan, Alita nggak sepenuhnya jelek. Daya jual Alita dalam bentuk visual sangatlah memanjakan mata. Namun hasil visual yang ciamik tersebut harus sedikit ternoda dengan penuturan ceritanya.

Alita: Battle Angel seperti kehilangan arah dalam krisis identitas yang diciptakannya sendiri.

via imdb.com/20th Century Fox

Dunia post-apocalyptic, lagi…

Diangkat dari manga berjudul Gunnm karangan Yukito Kishiro, Alita: Battle Angel menggunakan latar dunia distopia. Ya, lagi-lagi setting post-apocalyptic kembali digunakan dalam film meski pamornya nggak sebagus satu dekade yang lalu.

Alkisah di tahun 2563, manusia sudah hidup berdampingan dengan cyborg. Tapi karena meletusnya perang dahsyat The Fall 300 tahun sebelumnya, di tahun 2563 hanya ada satu kota normal yang tersisa: Iron City.

Tapi Iron City belum sepenuhnya aman. Khususnya saat malam tiba, para manusia dihadapkan pada sekelompok cyborg jahat yang membahayakan nyawa. Sebaliknya, para cyborg pun nggak bisa hidup tenang karena kelompok pencuri onderdil cyborg suka berkeliaran di malam hari.

Salah satu buronan di Iron City/via imdb.com/20th Century Fox

Di atas Iron City masih ada satu kota melayang yang disebut dengan Zalem, tempat tinggal impian para penduduk Iron City. Entah mengapa banyak dari mereka yang berminat pindah ke Zalem. Sampai film berakhir pun saya masih belum menemukan jawaban yang jelas. Dugaan saya mungkin karena mereka sudah bosan hidup di Iron City. Wajar sih, mengingat Iron City itu cuma kota pembuangan rongsokan mesin dari Zalem.

Lalu bagaimana caranya agar orang bisa masuk ke Zalem? Ternyata caranya nggak mudah. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi pemenang dalam ajang olahraga brutal, Motorball.

Motorball dan efek membingungkan yang ditimbulkannya

Alita dalam arena Motorball/via imdb.com/20th Century Fox

Motorball itu semacam ajang turnamen sekaligus hiburan penduduk Iron City. Layaknya permainan basket, pemain dibagi ke dalam dua tim dan diwajibkan mengejar bola di dalam arena untuk dimasukkan ke dalam ring.

Untuk menambah keseruan, Motorball diset menjadi olahraga penuh kekerasan. Sensasi kejar-kejaran para cyborg dalam Motorball akhirnya bisa sedikit membantu menaikkan tensi film (yang didominasi unsur drama).

Jujur saja, ini adalah film hasil adaptasi manga bergenre battle. Tapi saya berulang kali menahan kantuk sebelum akhirnya bisa terbelalak karena adegan Motorball. Saya mungkin saja benar-benar terlelap kalau nggak ada turnamen Motorball ini.

Namun, di balik serunya turnamen Motorball, ada sedikit pertanyaan mengganjal mengenainya.

Jika memang cara untuk pergi ke Zalem adalah dengan menjadi pemenang Motorball, itu berarti manusia sama sekali nggak punya kesempatan berhubung turnamen tersebut hanya bisa diikuti cyborg.

Dan mengingat cyborg juga dulunya manusia, apakah ini berarti manusia harus merelakan hidupnya untuk berubah menjadi cyborg demi bisa pergi ke Zalem? Bagaimana dengan penduduk yang tetap ingin bertahan dalam tubuh manusia? Apakah pada akhirnya Iron City bakal didominasi oleh cyborg alih-alih kehidupan manusia ke depannya?

Ah, membingungkan!

Alita sebagai ujung tombak cerita dan tim hore

Dr. Ido sang ahli bedah cyborg/via imdb.com/20th Century Fox

Penggerak utama cerita memang berpusat pada karakter Alita. Dan di sinilah Rosa Salazar yang bertugas memerankan Alita terbukti mampu memberikan performa yang sangat mumpuni. Ia sanggup menanggung beban sebagai penopang cerita, meskipun seluruh tubuhnya dibalut dengan efek CGI.

Hal ini berbanding terbalik dengan karakter pendukung lain yang tampil utuh sebagai manusia. Sebagian dari mereka mampu membantu menggiring jalan cerita, sementara sebagian lainnya hanya berfungsi nggak lebih dari sekadar tim penggembira yang kurang penting.

Munculnya Keean Johnson sebagai Hugo yang menjadi love interest dari Alita nggak punya pengaruh besar. Tanpa adanya Hugo pun penonton sudah tahu kalau Alita adalah cyborg yang punya hati paling humanis dibanding manusia utuh itu sendiri.

Mungkin sudah waktunya esensi percintaan agak dikesampingkan dalam film non-romansa/via imdb.com/20th Century Fox

Tapi keputusan sudah dibuat, dan dimasukkannya romansa antara Hugo dan Alita berbuah jadi blunder. Untuk jadi pemanis pun, nggak ada faktor krusial yang bikin kita peduli sama hubungan mereka. Masa bodoh jika hubungan cyborg bermata mirip karakter anime dan pacar manusianya itu kandas di tengah jalan. Karena toh, saya nggak melihat chemistry yang terjalin di antara keduanya.

Keputusan tersebut akhirnya mengantarkan kita pada pertanyaan: kenapa Robert Rodriguez dan James Cameron mesti berfokus pada drama?

Dari Hugo, mari kita beralih ke karakter lain. Christoph Waltz yang berperan sebagai Dr. Ido juga nggak diberi karakterisasi yang kuat. Dr. Ido “hanyalah” dokter bedah robot yang membangunkan Alita dari tidur panjangnya di tempat pembuangan sampah. Perannya nggak lebih dari itu.

Penyia-nyiaan talenta juga terjadi pada peran yang dijalani Jennifer Connely dan Mahershala Ali.

Vector dan Dr. Chiren/via imdb.com/20th Century Fox

Jangan lupakan juga identitas karakter antagonis Nova yang masih menjadi misteri hingga film berakhir. James Cameron sepertinya sengaja membuat kisah Alita menggantung demi mempersiapkan sekuelnya. Itu pun kalau mereka mau membuat sekuelnya, karena saya sendiri nggak yakin setelah menonton film ini.

Sekuel Avatar saja membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk bisa dibuat atas dasar alasan kecanggihan teknologi. Maukah kamu menunggu entah berapa lama untuk menyaksikan sekuel dari Alita?

James Cameron dan Robert Rodriguez… saya yakin sebenarnya engkau bisa membuat film yang lebih baik dari ini.

- Advertisement -
Shares 2

Komentar:

Komentar