Review A Man Called Ahok: Drama Keluarga yang Penuh dengan Nilai Kebaikan

Meski keteteran di paruh kedua

Beberapa hari sebelum A Man Called Ahok tayang, tersiar kabar larangan menonton film ini karena dianggap propaganda, terutama terkait kasusnya yang dituding sebagai penista agama. Eitts… bentar dulu. Kayaknya mereka yang menyebar info tersebut belum nonton ya. Setelah saya nonton, ternyata film ini nggak membahas kasus tersebut sedikit pun. A Man Called Ahok malah bercerita masa kecil Ahok di Belitung dan porsinya pun malah tak banyak.

Penasaran seperti apa filmnya? Yuk simak!

Drama keluarga yang menyentuh

Diceritakan Ahok kecil (Eric Febrian) lahir di keluarga Kim Nam (Deny Sumargo), pengusaha tambang terpandang di Belitung. Kim Nam dikenal sebagai seorang yang dermawan, sering membantu tetangga yang kesulitan keuangan. Apa yang dilakukan Kim Nam semata-mata untuk mendidik anaknya agar memiliki jiwa penolong.

Kehidupan keluarga Kim Nam dilukiskan dengan baik pada paruh pertama film. Bagian ini dipergunakan sutradara Putrama Tuta untuk mengeskplorasi karakter utama. Putrama pun berhasil membuat saya peduli pada karakter-karakter yang ada di keluarga Kim Nam. Filosopi-filosopi dan nasihat yang dilontarkan dari seorang ayah kepada anaknya begitu meresap di hati. Yang paling membekas tentu ketika Kim Nam mengajarkan filosopi tentang “Berburu dengan saudara sekandung”. Paham bagaimana maksudnya?

Selain itu ada banyak nilai yang dihadirkan dalam paruh pertama film, mulai dari tanggungjawab, kejujuran, hingga kepedulian terhadap sesama.

Selalu merasa hangat jika melihat kebersamaan keluarga di layar lebar/via youtube.com

Intensitas yang kurang terjaga

Tidaklah mudah menjaga konsistensi satu karakter yang diperankan oleh dua orang yang berbeda. Selain tanggungjawab aktor untuk bermain dengan pas, ada peran sutradara yang harus lihai menjaga konsistensi. Nggak akan sama persis, tapi setidaknya nggak melenceng jauh dari awalnya.

Berkaitan dengan intensitas tersebut, paruh kedua film ini berjalan sedikit keteteran. Transisi dari paruh pertama yang menceritakan masa kecil Ahok ke paruh kedua saat Ahok dewasa (Daniel Mananta) sedikit kurang mulus. Meskipun di paruh pertama saya sudah dibuat peduli pada karakter utama, saya seperti harus menjalani lagi proses memahami karakter yang sama di paruh kedua.

Namun, seakan menyadari hal tersebut, A Man Called Ahok cukup cerdas menyiasatinya. Sesekali masa kecil Ahok dan ayahnya ditampilkan kembali di paruh kedua, sehingga saya merasa diingatkan akan karakter yang sudah dibangun sebelumnya.

Belum apa-apa udah ngutang/via youtube.com

Sokongan pemeran pendukung yang apik

Jajaran aktor dalam film ini diberikan tantangan untuk berbicara dengan logat asli Belitung, meski sesekali mereka juga harus menggunakan bahasa Tionghoa. Atas tantangan ini, hampir seluruh pemeran pendukung memainkan perannya dengan sangat apik. Mulai dari Dewi Irawan, Donny Damara, Verdi Solaiman, Donny Alamsyah, hingga Ferry Salim. Tapi yang paling mencuri perhatian saya tentu aktor Deny Sumargo yang berhasil memerankan sosok ayah ketika Ahok kecil.

Penggunaan dwi bahasa dalam film ini pun seakan menjadi pengantar pertanyaan Ahok kepada ayahnya, “Kita ini Indonesia apa Cina?”, sekaligus menjadikan film ini sebagai karya yang menghargai keragaman budaya.

Suka nih aktingnya Eric sebagai Ahok kecil. Pas dalam memainkan ekspresi / via youtube.com

Ahok tidak dominan kok

Ahok dewasa justru tak tampil dominan di A Man Called Ahok. Awalnya saya kira setelah transisi ke paruh kedua, sosok Ahok akan mengambil peran, tapi rupanya sosok ayahnya (Chew Kin Wah) tetaplah dominan. Dari sini saya merasa penulis sedikit kebingungan bagaimana memunculkan sosok Ahok ke permukaan. Karena bagaimanapun juga, judul film ini adalah A Man Called Ahok, maka penonton harus tahu siapa Ahok; bukan sebatas kisah hidupnya, tapi juga pemikirannya.

Kebingungan ini menjadikan perkenalan Ahok tak ubahnya seperti tulisan biografi di situs Wikipedia. Penulis skenario hanya mengumpulkan peristiwa-peristiwa penting yang dijalani Ahok dan sedikit melupakan visi, misi dan pemikirannya. Seharusnya dengan eksplorasi keluarga yang begitu baik di paruh pertama, bisa berimplikasi pada perkembangan karakter Ahok dewasa.

Tapi…usaha Daniel Mananta dalam meniru Ahok layak diapresiasi. Awal yang bagus untuk karir akting Daniel / via youtube.com

Pada akhirnya, A Man Called Ahok bisa saja fokus pada nilai-nilai keluarga yang ingin disampaikan, daripada dipaksakan sebagai biopik yang menampilkan perjalanan Ahok hingga terpilih menjadi bupati. Perjalanan Ahok masih panjang!

- Advertisement -
Shares 16

Komentar:

Komentar