Pesan Moral Terselubung untuk Penonton ABG dalam Film Weathering With You

Cinta, deritanya tiada akhir

:

Jika ada satu hal yang mempertalikan film-film drama romantis, itu adalah pengorbanan yang dilakukan karakter utamanya untuk orang yang dicintainya. Ambil contoh di film Wedding Singer atau City of Angels. Di film yang disebut terakhir, Nicholas Cage bahkan rela melepaskan status pekerjaannya sebagai malaikat demi bisa hidup bersama manusia yang ia cintai.

And that’s, the power of love, dude! Kekuatan cinte!

Konsep cerita cinta seperti itu memang lumrah sih, nggak ada salahnya buat digunakan. Toh, cinta itu seringkali memang butuh banyak pengorbanan.

Tapi apa jadinya kalau pengorbanan cinta itu nggak hanya berdampak pada kehidupan karakter utamanya doang? Bagaimana kalau misalnya, penduduk satu kota ikut terkena dampak dari perbuatan si karakter utama? Hal itulah yang saya tangkap saat menonton Weathering With You, film anime terbaru dari Makoto Shinkai (5 Cm Per Second, The Garden of Words, Your Name).

Toho

Sama seperti Your Name, Weathering With You masih memberikan visual yang sangat memanjakan mata lewat pilihan warna dan animasi yang ciamik. Jalan ceritanya pun sekilas terlihat mirip; berkutat di seputar percintaan antara dua remaja. Poin pembedanya ada di konflik percintaan yang lebih pelik dan rumit di Weathering With You. Karena, seperti yang saya bilang, konflik antara dua karakter utamanya melibatkan nasib banyak orang.

Biar kebayang kayak gimana gambaran besar konfliknya, saya ceritakan dulu deh jalan cerita utama dari Weathering With You. Di film tersebut, Tokyo sedang mengalami perubahan cuaca yang drastis. Tokyo yang seharusnya sudah memasuki musim panas malah tak henti-hentinya diguyur hujan deras. Bahkan ada satu titik ketika Tokyo diramalkan akan tenggelam jika hujan tak lekas berhenti. Ngeri juga tuh.

Singkat cerita, kita akan diperkenalkan pada Hina, cewek yang punya kemampuan untuk menghentikan hujan dengan cara berdoa. Tapi semakin sering dia menggunakan kemampuan ajaibnya, tubuhnya akan semakin lemah. Dan lambat laun, cuaca di Tokyo pun akan semakin kacau.


Di sisi lain, kita juga akan dikenalkan pada Hodaka, cowok yang sangat mencintai Hina.

“Aduh, Gustiii, jemuran kapan keringnya kalau hujan terus?”/Toho

Saat film menginjak akhir durasi, terungkaplah fakta kalau satu-satunya cara untuk menghentikan hujan deras yang mengguyur Tokyo adalah dengan mengorbankan Hina kepada langit. Di sinilah puncak konflik percintaan muncul, di mana Hodaka nggak mau kehilangan gadis pujaannya itu. Hodaka nggak peduli kalau Tokyo terus diguyur hujan deras. Dia juga nggak peduli kalau Tokyo tenggelam oleh banjir. Yang ada di otaknya hanyalah Hina, Hina, dan Hina.

Sementara di sisi lain, Hina sendiri sesungguhnya rela mengorbankan diri demi menghentikan hujan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah keselamatan dari penduduk kota dan Hodaka.

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan jika ada di posisi Hina atau Hodaka?

Dilema pengambilan keputusan bagi seorang remaja

Menurut penelitian psikologis, kemampuan remaja untuk memproses suatu masalah dan mengambil keputusan masih sangat impulsif. Itu artinya, banyak remaja yang mengambil keputusan berdasarkan pengaruh intuisi dan emosi belaka. Saya mengambil kata “banyak” ya, bukan “semuanya”.

Terlepas dari kemampuan ajaibnya, Hina juga merupakan remaja biasa. Sama halnya dengan Hodaka. Mereka berdua merupakan contoh remaja yang bisa kamu temukan dengan gampang dalam keseharian.

Nggak ada kakek atau nenek yang gaya makannya kayak gini ‘kan? Ya, mereka berdua masih remaja/Toho

Dengan karakter utama yang masih belia, konflik percintaan di Weathering With You sekilas memang terlalu sulit untuk dihadapi Hodaka dan Hina. Keputusan yang mereka ambil akan melibatkan nasib banyak orang. Dan itu bukan beban yang bisa ditanggung dengan enteng oleh rata-rata remaja.

Meskipun, dalam kasus ini, Hina lebih menunjukkan kedewasaannya dengan mengorbankan diri demi nasib penduduk Tokyo. Ia mau berkorban demi nyawa banyak orang lho, bahkan orang-orang yang sama sekali nggak dikenalnya. Dengan kata lain, Hina lebih mengandalkan logika ketimbang emosi saat mengambil keputusannya itu.

Lain ceritanya dengan Hodaka. Keputusannya untuk tetap menyelamatkan Hina dan membiarkan Tokyo tenggelam sangat egoistis. Menurut saya, Hodaka adalah contoh bagus dari tipe orang yang lebih mementingkan emosi ketimbang logika saat bertindak.

“Jadi, kalau kata kamu, Hodaka itu jahat? Apa keputusan yang diambilnya merupakan langkah yang buruk?”

Toho

Nggak begitu juga. Dunia ini terlalu kompleks untuk dinilai berdasarkan kategori jahat dan baik, hitam dan putih doang. Banyak hal di dunia ini yang masuk dalam wilayah abu-abu. Bahkan orang dewasa pun bisa bertindak dengan lebih mementingkan emosi dan egoismenya di saat-saat genting. Jadi, tentu kita nggak bisa serta-merta menyalahkan Hodaka yang lebih mengutamakan keinginan dirinya sendiri ketimbang keselamatan orang lain. Sekalipun menurut logika, kita harus lebih mementingkan kemaslahatan hidup orang banyak ketimbang diri sendiri.

Justru itulah bagusnya karya seperti film Weathering With You. Film ini nggak langsung menghakimi orang kayak Hodaka itu jahat. Kita diajak mempertanyakan dan berpikir, lalu mencoba menginterpretasi apa yang Makoto Shintai coba tunjukkan melalui tindakan-tindakan para karakternya.

Menurut kamu sendiri gimana?

Secara kualitas keseluruhan, Weathering With You nggak semenarik karya Makoto Shintai sebelumnya, Your Name. Malahan, ini film terlalu mirip sama Your Name.

Biarpun begitu, banyak aspek-aspek yang layak buat kamu perhatikan dalam film ini. Salah satunya, ya soal pesan moral yang masuk dalam ranah abu-abu seperti yang dibahas dalam artikel ini.

Komentar:

Komentar