Pernah Dicap ‘Esek-Esek’, Bagaimana Sesungguhnya Wajah Film Horor Kita dari Masa ke Masa?

Esek-esek sih nggak masalah, asal dibuat serius.

Film ini dibuat pada tahun 1941 dan ditenggarai sebagai film horor pertama yang dibuat di Hindia Belanda/ via youtube.com

“Suka nonton film horor Indonesia?”

“Nggak ah, film horor Indonesia isinya esek-esek semua.”

“Eh, tapi sekarang film horor Indonesia bagus-bagus lho.”

Percakapan seperti di atas terkadang masih ditemui (sampai) saat ini. Entah kenapa masih ada orang yang menganggap film horor Indonesia itu semuanya ‘esek-esek’. Yang dimaksud film horor esek-esek sendiri adalah film yang lebih mengutamakan keseksian tubuh para pemainnya, ketimbang mengandalkan cerita untuk menonjolkan keseramannya.

Nggak salah sih anggapan seperti itu. Tapi waktu terus berjalan maju, dan pengetahuan kita pun harus mengikuti perkembangan zaman. Maka dari itu, di artikel ini saya mau mengajak kamu semua untuk menelusuri wajah film horor kita dari tahun ke tahun, terutama pascareformasi.

Baiklah, mari kita mulai saja.

Bangkitnya film Indonesia lewat Jelangkung

Setelah dunia perfilman Indonesia mati suri di era 90an, ada tiga film yang sering disebut-sebut sebagai pemicu bangkitnya perfilman Indonesia; Petualangan Sherina (2000), Jelangkung (2001) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Khusus untuk Jelangkung, kala itu film arahan Rizal Mantovani ini bahkan sanggup membuat produser lain percaya diri untuk membuat film horor dengan kekuatan sinematografi dan cerita.

Selepas Jelangkung, masih ada beberapa film horor lain yang cukup mencuri perhatian. Di antaranya Kafir (2002), Di Sini Ada Setan The Movie, Bangsal 13 (2004), Mirror (2005), Pocong 2, Kuntilanak, Bangku Kosong, Lentera Merah dan Hantu Jeruk Purut (2006).

Tak hanya dipuji para pengamat film, sejak tahun 2006 terhitung banyak film horor yang sukses menghiasi jajaran film terlaris setiap tahunnya.

Banyak hal dari film ini yang dibuat filmnya sendiri, mulai dari hantu suster ngesot, hingga lokasi rumah pondok indahnya

Top 15 Terlaris Film Indonesia

Bayangkan, 10 dari 15 film Indonesia terlaris tahun 2007 diisi oleh film horor. Bahkan 10 film tersebut masih patuh pada pola yang dipopulerkan Jelangkung, yakni mempertahankan dengan baik sisi ceritanya, pun dalam hal menakut-menakuti. Sebut saja Terowongan Casablanca, Suster Ngesot the Movie, Pulau Hantu, Lantai 13, Pocong 3, Beranak Dalam Kubur, Lawang Sewu, Lewat Tengah Malam, Malam Jumat Kliwon, dan Kuntilanak 2.

Namun tren ini tak berlangsung lama. Lakunya film horor sepertinya dimanfaatkan oleh beberapa produser hanya demi mengais rupiah sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya.

Pada tahun 2008, jumlah film horor yang masuk Top 15 berkurang 50% dari tahun sebelumnya. Hanya ada 5 film horor yang berhasil masuk Top 15, yakni Tali Pocong Perawan, Hantu Ambulance, Kereta Hantu Manggarai, Tiren: Mati Kemaren, dan 40 Hari Bangkitnya Pocong.

Kesuksesan Kuntilanak sebanyak 3 series, membuat produser membuat film serupa dengan judul sama dan berhasil meraih satu juta penonton/via montasefilm

Film yang mengumbar sensualitas aktor pun dimulai

Tahun 2008 ditandai dengan Tali Pocong Perawan yang berhasil menembus peringkat 3 film Indonesia terlaris. Film tersebut hanya kalah oleh Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta. Diakui atau tidak, dengan perolehan di atas satu juta penonton, Tali Pocong Perawan memunculkan spekulasi bahwa bintang seksi adalah salah satu magnet penarik penonton.

Bisa jadi ini adalah awal mula kenapa film horor banyak mengumbar sensualitas. Dewi Perssik yang juga main di Tali Pocong Perawan pun banyak menelurkan karya-karya sensual lainnya seperti Susuk Pocong, Setan Budeg (2009), Tiran-Mati di Ranjang (2010), Arwah Kuntilanak Duyung, Pacar Hantu Perawan, dan Arwah Goyang Karawang (2011).

Selain Dewi Perssik, mulai bermunculan pula aktor-aktor seksi lainnya di film horor, seperti almarhum Julia Perez (Kuntilanak Kamar Mayat, Hantu Jamu Gendong), Andi Soraya (Dendam Pocong Mupeng), Baby Margaretha (Pocong Mandi Goyang Pinggul, Bangkitnya Suster Gepeng), Fifie Buntaran (Eyang Kubur, Rumah Bekas Kuburan), Shinta Bachir (Suster Keramas, Mati Muda di Pelukan Janda), Chintyara Alona (Diperkosa Setan, Pengantin Pantai Biru), atau Catherine Wilson (Rintihan Kuntilanak Perawan, Pocong Keliling).

Kalau kamu tahu adegan ini ada di film apa, berarti mainmu memang sempurna/via youtube.com

Impor bintang luar

Produser semakin gila dan semakin menjadi-jadi. Tak cukup dengan pemain lokal, beberapa film menghadirkan bintang seksi dari luar negeri (beberapanya ada yang merupakan bintang film biru atau mantan bintang film biru). Coba saja tengok nama-nama seperti Maria Ozawa, Terra Patrick, Sora Aoi, Sasha Grey, hingga Misa Campo.

Sejak tren film horor menjual keseksian tubuh para pemainnya, cerita film horor pun perlahantapi pasti mulai berubah. Dari semula seram, malah menjadi lucu; dari yang membuat dada jadi berdegup kencang, malah membuat bagian tubuh lain jadi tegang.

Dan…. film-film tersebut sanggup bertahan lama sekaligus dicintai penontonnya. Terbukti sepanjang 2008-2012, film horor esek-esek dan horor komedi nggak jelas masih betah nangkring di Top 15 terlaris. Mereka di antaranya adalah Setan Budeg, Suster Keramas, Paku Kuntilanak dan Hantu Jamu Gendong di 2009; Tiran (Mati di Ranjang) dan Kain Kafan Perawan di 2010; Kuntilanak Kesurupan dan Pocong Ngesot di 2011; hingga Rumah Bekas Kuburan dan Bangkit dari Kubur di 2012.

Mulai hilang dari Top 15

Kemunculan 5 CM dan Habibie & Ainun di penghujung 2012 bisa dibilang membawa angin segar untuk perfilman Indonesia, dengan keduanya memperoleh jutaan penonton. Tahun-tahun setelahnya masyarakat Indonesia cenderung lebih senang menonton film seperti itu dibanding film horor esek-esek atau komedi. Terbukti film-film seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Soekarno: Indonesia Merdeka menempati tiga besar film Indonesia terlaris di tahun 2013.

Namun apakah film horor esek-esek sudah tenggelam ditelan zaman?

Secara produksi, film horor semacam itu masih banyak, meskipun sudah tak mampu menembus deretan film terlaris. Pada 2013 hanya ada 3 film horor yang masuk top 15, dan itu pun bukan film horor esek-esek. Film-film itu adalah sajian horror-adventure tentang legenda Nyi Roro Kidul dalam 308, horor komedi Olga Syahputra dalam Taman Lawang, dan horor thriller dalam Air Terjun Pengantin Phuket (yang nangkring di posisi buncit).

Bahkan Dewi Perssik pun seakan hilang kejayaannya di tahun ini. Keseksiannya dalam Pantai Selatan dan Bangkit dari Lumpur tak mampu mendobrak daftar film terlaris.

Top 15 Film Indonesia Terlaris 2013/via filmindonesia.or.id

Konsistensi horor produksi Hitmaker

Sejak Rumah Kentang, film pertama produksi Hitmaker Studios yang berhasil masuk deretan film Indonesia terlaris 2012, perfilman horor Indonesia mulai kembali beralih dari tipe esek-esek ke tipe serupa Jelangkung. Sejak saat itu pula horor esek-esek mulai menghilang dari deretan film terlaris, sementara film produksi Hitmaker konsisten masuk di Top 15 setiap tahunnya.

Secara kualitas film produksi Hitmaker pun banyak mendapat pujian dari pengamat film. Meski harus diakui kalau karya-karya mereka masih belum sempurna, tapi horor Hitmaker menancapkan standar tersendiri untuk film horor selanjutnya. Beberapa filmnya yang masuk di Top 15 adalah 308 (2013), Mall Klender & Rumah Gurita (2014), Tarot (2015), The Doll (2016), Mata Batin & The Doll 2 (2017).

Film pertama hitmaker yang menjadikannya rumah produksi paling konsisten membuat film horor bagus dan laris/ via youtube.com

Dan… horor esek-esek semakin tenggelam, bahkan nyaris tak ada lagi.

Kini, film horor dengan sinematografi dan cerita yang kuat sedang berjaya

Rasanya bukan hanya saya saja yang bangga akan film horor Indonesia saat ini. Sebagai pencinta horor, saya cukup antusias dengan film-film horor yang menawarkan cerita menarik dan penggarapan yang baik. Tak hanya itu, mereka pun berhasil kembali ke puncak deretan film terlaris.

2017 mungkin bisa dikatakan awal mula film horor Indonesia berjaya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pengabdi Setan karya Joko Anwar bertengger tangguh di posisi satu film Indonesia terlaris dengan membukukan lebih dari 4 juta penonton. Bahkan Pengabdi Setan menguasai nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2017, termasuk untuk kategori Film Terbaik.

Rasa-rasanya ini film horor pertama setelah Ratu Ilmu Hitam (1981) yang banyak masuk nominasi FFI. Dan bukan tak mungkin tahun ini FFI kembali memasukan film horor ke dalam nominasinya.

Meski remake, tapi kita perlu berterimakasih kepada Pengabdi Setan. Selain dicintai penonton, ia sukses masuk festival bergengsi, pun melanglangbuana di bioskop luar negeri/via Rapi Films

Mulai masuknya film horor ke festival tanah air sebetulnya bermula dari Badoet (2015) yang berhasil masuk dua nominasi Festival Film Bandung 2016 dan memenangkan satu penghargaan untuk Penata Musik Terpuji. Tahun ini, FFB pun memasukkan film horor Kafir:Bersekutu dengan Setan dan Sebelum Iblis Menjemput ke nominasi Festival Film Bandung 2018.

Bisa jadi terinspirasi oleh serial dari luar, tapi Badoet cukup membawanya ke kearifan lokal kita/via DT Films

Betul-betul film horor esek-esek sudah hilang dari peredaran. Tapi… apakah dengan menghilangnya horor esek-esek, dengan seketika film horor kita layak disebut bagus dan berkualitas?

Beberapanya, iya. Tapi jangan salah, masih banyak film horor yang digarap asal jadi menghiasi bioskop setiap minggunya. Meski tak lagi menjual sensualitas, tapi film horor asal jadi masih menjamur.

Dan fakta masih menyebutkan jumlah penontonnya masih terbilang tinggi. Sebagian besar dari mereka menyentuh angka ratusan ribu penonton. Yang terbaru, Arwah Tumbal Nyai: Part Arwah saja bisa mengalahkan Aruna & Lidahnya dan Something in Between.

Begitulah kira-kita keadaan film horor kita. Bagaimana nasib film horor setelah kamu baca tulisan ini? Semua tergantung kamu dalam memilih tontonan!

- Advertisement -
Shares 16

Komentar:

Komentar