One Cut of the Dead: Surat Cinta Kreatif yang Dipersembahkan untuk Pencinta Film

Ngomong-ngomong, ini film komedi loh!

:

Kalau kamu membuka artikel ini dan berharap bakal menemukan ulasan teknis tentang One Cut of the Dead, kamu nggak akan menemukannya. Ini adalah salah satu film yang lebih baik kamu tonton tanpa tahu apa-apa tentangnya. Dan saya menyarankan banget agar kamu tonton film karya sutradara Shinichirou Ude ini deh. Saya nggak ragu untuk menyebut film ini sebagai karya masterpiece!

Alasannya banyak. Komedinya dibawakan dengan cerdas, nyaris tanpa cela dalam membuat saya terbahak-bahak. Setiap adegannya dibuat untuk memberikan penonton pengalaman yang jarang ditemukan di film mainstream. Jika saya mau menyebut semua hal yang saya kagumi dari One Cut of the Dead, tulisan ini mungkin akan menghabiskan 10 lembar kertas A4.

Tapi ada satu hal yang jadi perhatian utama saya dari film ini. Itu adalah teknik pengambilan gambar yang sering disebut long take atau one take.

Teknik satu kali pengambilan gambar yang bikin kita belajar menghargai produksi film

via johnnyalucard.com

Inti cerita film ini terpusat pada seorang sutradara yang ditantang untuk membuat film zombie dengan konsep satu kali pengambilan gambar. Nggak tanggung-tanggung, proses one take dalam One Cut of the Dead berjalan selama hampir 30 menit.

Proses one take sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dalam proses produksi film. Ada satu saja adegan yang salah atau pemain lupa dialog, mau nggak mau semuanya harus diulang lagi dari awal.

Setelah disuguhi dengan bagaimana serunya menonton film tanpa cut, kamu kemudian bakal diajak untuk mengetahui proses pengerjaan film tersebut. Kamu bakalan tahu bagaimana panjangnya proses produksi sebuah film sampai bisa siap tayang. Toh bukan hanya teknik one take saja yang sulit, proses produksi film secara keseluruhan pun butuh waktu serta usaha.

Mulai dari penulisan naskah, pencarian pemain dan kru, proses reading, latihan, dan segala tetek bengek lainnya makin menguatkan kalau memproduksi film itu nggak mudah. Belum lagi kalau ada hambatan yang bisa muncul secara tak terduga di saat-saat terakhir. Dalam film ini misalnya, diceritakan sang pemain utama yang terlibat produksi film tersebut malah berhalangan hadir di hari-H syuting karena tertimpa kecelakaan.


Zombie yang ternyata sedang teler/via kaorinusantara.or.id

Bagi saya sendiri, saya melihat masalah-masalah yang ada di One Cut of the Dead sebagai semacam pesan bagi penonton untuk bisa menghargai proses panjang dari produksi film.

Ya, karena mungkin saja selama ini kita terlalu fokus pada hasil akhir.

Apakah suatu film itu bagus atau nggak? Apakah suatu film layak tonton atau nggak? Seringkali itu yang jadi fokus utama kita sebagai penonton film. Kita nggak tahu apa kesulitan yang harus dihadapi para sineas, atau apa saja hambatan yang dihadapi setiap kru film.

Tapi bukan cuma tentang kesulitannya doang, One Cut of the Dead juga memberi kita pengetahuan tentang hal-hal unik yang bisa terjadi saat proses produksi film.

Apa kamu tahu kalau tiang penyangga kamera yang disiapkan untuk mengambil gambar dari ketinggian, bisa digantikan dengan sekumpulan kru yang bertumpuk bak formasi cheerleader? Jangankan itu, bahkan kita bisa saja nggak menyadari kalau aktor yang bermain dalam film sebenarnya sedang teler akibat pengaruh minuman beralkohol.

Bahu membahu demi bisa mengangkat kamera dari ketinggian/via filmfreakcentral.net

Semua pesan tersebut akan terasa sedikit membosankan bagi kebanyakan penonton jika dibawakan dengan gaya dokumenter. Tapi untungnya, One Cut of the Dead berhasil membungkusnya dengan sajian komedi yang amat sangat menghibur.

Dan teruntuk kamu yang belum nonton film ini, saya bilang: rugi banget kalau kamu melewatkannya!

Komentar:

Komentar