3 Kejutan Besar di Ajang IMA Awards 2019, Cukup Bikin Geleng-Geleng Kepala

Yang penting nggak bikin kita elus-elus kepala dan geleng-geleng dada

:

Ajang Indonesian Movie Actor (IMA) Awards 2019 selesai dihelat tanggal 14 Maret 2019. Seperti ajang penghargaan lainnya, acara yang dikhususkan untuk memberi penghargaan pada pelaku seni peran ini sudah rutin digelar tiap tahunnya sejak 2007. Tapi yang bikin ajang ini menarik adalah adanya pembagian kategori: Terbaik dan Terfavorit.

Untuk kategori Terbaik, para pemenang ditentukan oleh dewan juri yang berbeda setiap tahunnya. Sementara kategori Terfavorit dipilih oleh masyarakat melalui media yang disediakan oleh panitia seperti SMS, web voting, dan media sosial.

Bicara tentang penghargaan semacam ini, ia seringkali nggak lepas dari yang namanya kontroversi. Apalagi jika keputusan juri bersebrangan atau kurang cocok dengan pilihan sebagian kalangan. IMA Awards 2019 juga begitu. Ketika saya menonton acaranya semalam, ada beberapa daftar pemenang yang cukup menimbulkan efek kejut pada diri saya. Misalnya seperti…

1. Della Dartyan menang kategori Terbaik dan Terfavorit sekaligus

Nama Della Dartyan mungkin belum terlalu familiar di telinga masyarakat. Mungkin…

Itu masih bisa dimaklumi jika benar. Toh ia baru muncul lewat film Love for Sale yang tayang pada Maret 2018, meskipun aktingnya sudah cukup mencuri perhatian penonton film Indonesia. Saya pun menganggap Della sebagai salah satu aktor pendatang baru yang menjanjikan.

Dan sepertinya para juri IMA 2019 juga dibuat kesengsem oleh akting Della.

Della Dartyan menerima 2 piala atas peran apiknya sebagai escort di Love for Sale/suara.com

Melihat para pesaingnya di IMA 2019 ini, saya sendiri cukup yakin Della Dartyan akan membawa pulang piala Pendatang Baru Terbaik IMA Awards 2019. Della hanya melawan Isyana Sarasvati (Milly & Mamet), Yoshi Sudarso (Buffali Boys), dan Ruth Marini (Wiro Sableng). Dan jika melihat penampilan tiga nomine lainnya di kategori ini, mereka masih nggak cukup kuat untuk menandingi Della.


Tapi untuk kategori Terfavorit, peluangnya bisa saja diambil oleh dua nama yang mungkin lebih dikenal masyarakat luas. Mereka adalah Isyana Sarasvati yang mencuri perhatian di film Milly & Mamet, dan Yoshi Sudarso yang berperan sebagai koboy dalam film Buffalo Boys.

Namun rupanya ketenaran kedua artis tersebut nggak mampu membuat fans mereka untuk kasih voting. Kategori Terfavorit pun akhirnya digondol oleh Della Dartyan.

2. Asri Welas bawa pulang Pemeran Pembantu Wanita Terbaik

Semenjak IMA Awards 2019 mengumumkan daftar nomine di kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, saya nggak menjagokan Asri Welas. Pasalnya karakter Asri Welas di film Keluarga Cemara masih difungsikan sebagai pemancing tawa. Karakterisasinya masih serupa dengan peran-peran yang ia lakukan di film sebelumnya, semisal Cek Toko Sebelah dan Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur.

Bahkan jika ditinjau dari kedekatan karakter terhadap karakter utama dan benang merah cerita, Asri Welas nggak punya ikatan yang dekat terhadap cerita Keluarga Cemara. Makanya sejak awal, masuknya Asri Welas ke nomine Pemeran Pembantu Wanita sudah cukup mengherankan.

instagram.com/imaawards2019

Dan yang lebih mengherankannya lagi juri IMA Awards 2019 memenangkan Asri Welas. Ia mengalahkan nomine lain yang lebih diperhitungkan, semisal Hannah Al-Rashid yang punya pengaruh besar terhadap cerita Aruna dan Lidahnya sebagai karakter Nad. Pun jika ditinjau dari kebiasaannya berakting, Hannah Al-Rashid menyuguhkan sesuatu yang beda lewat karakter Nad .

Atau kita juga bisa membicarakan Adinia Wirasti yang begitu luar biasa memerankan Lembayung dewasa dalam film Sultan Agung. Kalau bicara tingkat kesulitan peran pun, karakter Lembayung jauh lebih sulit daripada karakter “loan woman” yang diperankan Asri Welas.

Tapi saya mencoba menerka-nerka kenapa Asri Welas bisa jadi pemenang? Apa mungkin karena di film Keluarga Cemara, Asri Welas juga harus melakoni adegan tangis? Sehingga para juri terkesima dan melupakan tangis getir Happy Salma di Buffalo Boys?

3. Si Doel kalahkan Richard dan Sultan Agung

Yang paling mengagetkan adalah kemenangan Rano Karno sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik IMA Awards 2019. Nggak tanggung-tanggung lho saingannya. Ada Gading Marten, perjaka tingting berusia 40+ yang berusaha mencari kekasih di film Love for Sale. Atau Ario Bayu yang mampu menerjemahkan konflik batin sang pahlawan dalam film Sultan Agung dengan sangat apik.

Keseriusan akting Gading Marten dan Ario Bayu pun sudah mendapat pengakuan dari dua festival film besar di negeri ini. Nama terakhir terlebih dahulu memenangkan penghargaan Festival Film Bandung, disusul oleh Gading Marten yang mendapat piala citra Festival Film Indonesia. Dan keduanya pun sama-sama masuk nominasi di kedua ajang tersebut.

Memang di antara seluruh nomine, Rano yang paling senior/inews

Kehadiran Rano Karno di IMA Awards 2019 memang membawa angin segar ketika festival lain nggak memasukkannya ke dalam nominasi. Berperan sebagai si Doel dalam film Si Doel the Movie, Rano Karno cukup konsisten memerankan karakter lama yang pernah melambungkan namanya itu. Tapi apakah itu saja cukup?

Saya jadi teringat dengan penilaian juri Festival Film Tempo 2017 yang memilih Ayu Laksmi (Pengabdi Setan) sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik. Dalam Majalah Tempo Edisi Khusus yg memuat pertanggungjawaban juri mengenai FFT 2017, diketahui alasannya mengapa juri memilih Ayu Laksmi.

Menurut mereka, dalam kesehariannya AyuLaksmi itu adalah seorang ibu yang cerewet. Sementara di Pengabdi Setan, ia harus berperan nyaris tanpa dialog dan hanya berbaring sepanjang film.

Mungkin itu juga yang jadi alasan juri IMA Awards 2019 memilih Rano Karno. Pasalnya Rano juga nyaris lebih banyak berakting diam di Si Doel the Movie. Ia digambarkan sebagai karakter yang galau dan sering menahan perasaannya. Dan bukankah menahan perasaan itu sulit?

Terlepas dari itu semua, saya tetap menghargai kerja keras dewan juri IMA Awards 2019. Bagaimanapun juga setiap orang punya penilaian masing-masing. Nggak cuma terhadap karya seni, tapi tentang apa pun juga.

Namun alasan itu juga biasanya dijadikan pembelaan untuk nggak membuat penilaian sebuah penghargaan, menjadi sesuatu yang menarik untuk didiskusikan.

Komentar:

Komentar