Mortal Engines, Satu Lagi Film Distopia Remaja yang Mengandalkan Kisah Klise

Apakah bisa mengembalikan tren dunia post apocalyptic di layar lebar?

Saya pernah memberikan kritik tentang tren film distopia yang belakang ini jadi semakin terasa membosankan. Lihat saja betapa garingnya The Darkest Minds, film distopia yang banyak dihujat di tahun 2018 ini. Situs Rotten Tomatoes bahkan kasih nilai yang amat rendah untuk film tersebut, cuma 17 persen!

Tapi itu bukan berarti saya kehilangan harapan sama tema distopia. Dan harapan itu juga yang saya bawa ketika menonton Mortal Engines, film distopia terbaru yang terlihat cukup percaya diri menggandeng nama besar Peter Jackson sebagai produsernya. Mungkin saja film ini bisa mematahkan opini negatif saya terhadap film distopia belakangan ini.

Namun, apa mau dikata, harapan hanyalah tinggal harapan.

Kisah post-apocalyptic yang klise

Berdasarkan informasi dari dialog antar karakternya, Mortal Engines mengambil setting di tahun 3118. Saat itu perkotaan telah berubah jadi semacam kendaraan bermesin yang bisa bergerak ke mana pun. Dan dari semua kota yang ada, London merupakan kota yang paling kuat. Ia gemar berburu serta memangsa kota-kota kecil untuk memenuhi kebutuhan sumber dayanya, sehingga julukan London sebagai kota Predator pun terlahir.

London sang predator yang bahkan mengalahkan elang dalam rantai makanan/via polygon.com

Nggak puas dengan status terkuat, London yang dipimpin Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) diam-diam membangun suatu senjata mematikan, Medusa. Nama alat yang serupa dengan makhluk dari mitologi Yunani tersebut dibuat untuk menghancurkan Shao Gao, sebuah kota menetap yang ada di balik pegunungan.

Di sisi lain, diceritakanlah seorang wanita bernama Hester Shaw (Hera Hilmar) yang bertujuan pergi ke London untuk menemui Thaddeus. Dalam usahanya tersebut, Hester secara nggak sengaja bertemu dengan Tom (Robert Sheehan) dan Anna Fang (Jihae). Mereka akhirnya membantu Hester menjalankan misi pribadinya tersebut.

Lalu apa yang bikin cerita Mortal Engines terasa spesial dibanding film distopia kebanyakan? Nyaris nggak ada. Ini adalah film yang lagi-lagi mengandalkan konsep pemimpin kejam yang ingin menaklukkan dunia dengan menindas kelompok inferior.

Dan kamu tahu apa pasangan paling serasi dari tiran yang ingin menguasai dunia? Ya, jawabannya adalah karakter protagonis wanita yang tangguh. Dalam Mortal Engines, tugas maha berat itu jatuh pada pundak Hester.

Hera Hilmar alias Hester Shaw alias… Franck Ribery?/via ew.com

Singkat kata, premis cerita yang ditawarkan Mortal Engines itu klise. Ia hanya mengulang formula yang sudah sering diangkat di film distopia remaja. Jika Mortal Engines rilis sekitar satu dasawarsa yang lalu, mungkin ia bakal jadi film yang dapat banyak apresiasi. Tapi sekarang? Ia cuma film dengan plot yang klise.

Visualnya epik, tapi…

Sebuah usaha yang cukup tepat jika melihat keputusan studio untuk menggaet Peter Jackson sebagai salah satu produsernya. Pengalaman Jackson dalam menghasilkan film berskala epik akhirnya terulang dengan baik di Mortal Engines, sekalipun ia nggak bertindak sebagai sutradara.

Mortal Engines sendiri disutradarai oleh Christian Rivers. Meski ini menjadi proyek debut penyutradaraan pertamanya, ia pernah bekerja sama dengan Jackson dalam trilogi The Lord of the Rings dan The Hobbit sebagai special effect supervisor.

Visualisasi Airhaven yang bikin saya pengin coba nginap di sana/via artstation.com

Memang benar, Mortal Engines berhasil menyajikan visual yang memanjakan mata. Dunia post apocalyptic yang sering tampil muram malah hadir dengan berwarna dalam film ini. Visualisasi Airhaven sebagai traksi yang terletak di atas awan adalah contohnya.

Meski menarik, visual efek dan CGI dalam Mortal Engines hanya sekadar pemoles belaka untuk mengalihkan penonton dari lemahnya jalan cerita.

Jalan cerita lemah dengan terlalu banyak karakter

Shrike si robot yang punya masa lalu dengan Hester/via pageone.ph

Sebagai sebuah kisah pembuka dari empat bagian buku, Mortal Engines hadir dengan karakter yang terhitung cukup banyak. Keempat karakter yang sebelumnya sudah saya sebut hanyalah seupil dari banyaknya karakter. Dan seperti halnya kebanyakan film dengan karakter yang menumpuk, karakter di samping tokoh utama kurang tereksplorasi dengan baik.

Saya ambil contoh Katherine (Leila George), yang merupakan anak dari Thaddeus; Bevis Pod (Ronan Raftery), yang merupakan teman dari Tom;  Shrike (Stephen Lang), robot yang punya masa lalu dengan Hester; Governor Khan (Kee Chan), pemimpin kota Shao Gao; dan termasuk beberapa rekan dari Anna Fang yang hanya kebagian porsi sedikit. Padahal karakter-karakter tersebut secara nggak langsung ikut membantu menggerakkan jalan cerita.

“Woah, ka… kacamatanya nampol abis, Mbak!” ujar ibu-ibu yang ada di sebelah kiri Anna Fang/via scmp.com

Dengan menyisipkan jalan cerita yang maju-mundur, fokus memang lebih dikhususkan kepada Hester Shaw seorang. Nggak bisa disalahkan sih, karena memang ia tokoh utamanya. Tapi saya penasaran juga kenapa Anna Fang bisa jadi buronan tanpa jelas diketahui bagaimana latar belakangnya.

Hadir dengan berbekal banyak kekurangan, Mortal Engines kemudian berusaha “main aman” lewat cara mengakhiri film tanpa mengindikasikan adanya sekuel lanjutan. Mungkin pihak studio ingin melihat tanggapan dari film ini terlebih dahulu daripada mengambil risiko.

Toh bukan nggak mungkin kalau ternyata film ini berhasil sukses dari sisi pemasukan, novel lanjutannya ikut diadaptasi ke layar lebar.

- Advertisement -
Shares 12

Komentar:

Komentar