Mile 22 dan Aksi Menegangkan yang Hanya Menjual Nama Iko Uwais Semata

The Raid masih lebih bagus dibanding film ini

:

Masyarakat Indonesia bisa kembali berbangga karena salah satu aktornya, Iko Uwais, kembali terlibat dalam satu film produksi Hollywood. Setelah muncul dalam Beyond Skyline untuk melawan alien, Iko kini memamerkan aksinya dalam Mile 22. Film ini bisa dibilang merupakan salah satu titik karier terbesar bagi seorang Iko Uwais, mengingat porsi perannya kali ini setara dengan pemeran utamanya.

Sinopsis

Mile 22 menceritakan tentang anggota CIA, James Silva (Mark Wahlberg) yang ditugaskan untuk mengantar aset berharga ke bandar. Apakah aset yang dimaksud itu? Ternyata asetnya adalah Li Noor (Iko Uwais). Li Noor dianggap berharga karena hanya dia yang memiliki kode untuk membuka akses terhadap kepingan disc yang menyimpan lokasi bahan peledak. Proses pengantaran Li sejauh 22 mil alias 35 kilometer ini harus mendapat banyak rintangan di sepanjang perjalanannya, karena  Li juga diburu oleh pihak lain.

via forbes.com

Hmm… masuk akal. Kalau proses pengantaran Lee ke bandara diceritakan macam ngantar anak ke sekolah, bisa-bisa filmnya cuma berjalan setengah jam. Jadi kurang seru dong. Iya, nggak?

Penempatan latar yang membingungkan

Hal yang jadi pertanyaan utama saya saat nonton Mile 22 menyoal latar tempat yang digunakan. Setting Mile 22 digambarkan berada di kota fiktif bernama Indocarr City (nggak ada hubungannya sama stasiun TV swasta yang itu). Tapi dengan banyaknya penggunaan Bahasa Indonesia di dalam film, kenapa nggak langsung disebutkan dengan gamblang kalau lokasinya berada di Indonesia? Dan kalau memang settingnya berada di Indonesia, entah kenapa latar kotanya malah lebih mirip Hong Kong, lengkap dengan penduduk yang lebih terlihat sebagai ras Mongoloid.

Di luar dari keanehan ini, kita seenggaknya bisa berbangga diri terkait banyaknya penggunaan dialog berbahasa Indonesia.

Mile 22 = Pesona seorang Iko Uwais semata

Jalan cerita Mile 22 digarap dengan alur maju mundur yang bisa membingungkan penontonnya. Namun sayangnya, penuturan yang mungkin diharapkan bisa menarik atensi penonton untuk menebak kelanjutan cerita malah berakhir membosankan. Esensi twist yang diberikan di penghujung cerita juga malah nggak terlalu mengejutkan. Toh jalan ceritanya sendiri sudah gamblang bakal digiring ke arah twist tersebut mengingat plot film terus bolak-balik menyoroti satu pihak tertentu.

Komentar singkatnya sih, mungkin kamu nggak perlu terlalu perhatikan detail cerita di dalam film ini. Nikmati saja sajian aksi yang penuh dengan tembakan, ledakan, dan tentunya… baku hantam!


via mtrnetwork.net

Oke, saya enggak munafik kalau film ini bakal jadi sorotan hanya karena faktor iko Uwais semata. Setelah kesuksesan film The Raid, nama Iko Uwais sudah mendapat satu tempat tersendiri di industri perfilman Hollywood karena kemahirannya dalam pencak silat. Yup, pertarungan dengan tangan kosong menjadi satu hal yang dianggap unik bagi penonton di luar sana.

Sutradara Peter Berg bahkan membuat pernyataan kalau Iko Uwais-lah yang jadi alasannya untuk membuat Mile 22. Hal ini yang akhirnya bikin porsi tampil seorang Iko dibanding Mark Wahlberg sebagai pemeran utamanya.

via rollingstone.com

Mungkin saking terpukaunya dengan aksi Iko, adegan ketika James, Alice, dan Li harus bersembunyi ke satu apartemen pun seolah jadi tribut untuk The Raid. Eksekusi visualnya bisa dibilang mirip, meski nggak memakai sosok Mad Dog di dalamnya.

Saking fokusnya dengan Iko, Berg seakan abai dengan karakter lain. Karakterisasi James Silva yang dibawakan Mark Wahlberg malah berakhir macam tipikal anggota elite yang bisanya hanya membentak bawahan dan banyak omong. Sosok Alice (Lauren Cohan) juga malah jadi semacam pemanis, meskipun dia punya peran aksi tersendiri di dalam film. Padahal Alice punya informasi penting mengenai Li lewat adegan interogasi yang dilakukannya di kantor kedutaan.

via collider.com

Bagaimana dengan adegan aksinya sendiri? Untuk esensi hiburan dari segi ‘bag big bug’ maupun ‘dar der dor’, sisi aksinya mungkin jadi satu hal tersendiri yang diharapkan sebagian penonton. Kamu masih bisa melihat gimana gaharnya Iko Uwais ketika harus menghadapi dua orang sekaligus. Atau gimana serunya kelompok James saat dihadang oleh kelompok lain yang menginginkan Li di tengah pengirimannya ke bandara. Tapi kalau dilihat secara keseluruhan, Mile 22 masih jauh dari kata sempurna selain hanya menonjolkan adegan aksi di sepanjang durasinya.

Dengan juga melibatkan unsur spionase di dalamnya, kalaupun memang film ini akhirnya benar-benar dikembangkan secara maksimal untuk dilanjut dalam bentuk sekuel, franchise Mile 22 butuh usaha lebih maksimal untuk bisa sekedar menyamai kualitas The Raid sekalipun.

Komentar:

Komentar