Menikmati Aksi Perebutan Software yang Dikemas bak Spionase dalam The Girl in the Spider’s Web

Lebih suka Lisbeth versi Rooney Mara atau Claire Foy?

:

The Girl in the Spider’s Web sejatinya merupakan sekuel dari The Girl with the Dragon Tattoo yang rilis tahun 2011. Meski berstatus sebagai film lanjutan, Spider’s Web nyatanya diset menjadi soft-reboot dengan perubahan aktor utama, yang asalnya Rooney Mara diganti jadi Claire Foy. Inilah yang akhirnya bikin Spider’s Web tetap bisa dengan mudah diikuti walaupun kamu belum sempat menonton film pendahulunya.

Rooney Mara sebagai Lisbeth Salander dalam The Girl with the Dragon Tattoo/via geekinsider.com

Usaha mencuri balik barang curian

The Girl di dalam judul merujuk pada sosok Lisbeth Salander (Claire Foy), seorang peretas atau hacker yang ingin menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Salah satu aksinya, yang terbilang unik dan keren, bisa kamu lihat saat Lisbeth membobol rumah seorang pelaku dan menggantungnya di langit-langit rumah.

via variety.com

Sepak terjang Lisbeth yang beraksi secara underground membuatnya dipercaya oleh Frans Balder (Stephen Merchant) untuk mengemban tugas penting. Balder meminta Lisbeth menggondol suatu program bernama Firefall yang sebelumnya diambil oleh kelompok kriminal. Karena merasa bertanggung jawab pada Balder, Lisbeth pun berusaha mengambil kembali Firefall sambil mencari tahu identitas kelompok kriminal tersebut.

Ibaratnya sih Lisbeth berusaha mencuri barang yang sebelumnya juga dicuri oleh dirinya sendiri. Keadaan jadi menjadi semakin rumit ketika pihak Amerika memburu Lisbeth karena dianggap telah mencuri Firefall.

Plot bak jaring laba-laba yang mudah dicerna

Karena Spider’s Web merupakan film action, sudah bisa dipastikan kamu bakal melihat banyak aksi menegangkan yang dilakukan oleh Lisbeth. Dan berhubung Lisbeth digambarkan sebagai peretas, aksi-aksinya sering melibatkan kemampuan Lisbeth dalam memanfaatkan teknologi.

Alih-alih menggunakan perangkat komputer, handphone yang Lisbeth bawa seolah menjadi senjata mematikan. Lisbeth bisa dengan mudah melakukan banyak aksi yang menghadangnya, seperti mengendalikan mobil atau memata-matai dari jauh hanya dengan bermodalkan ponsel.


via rogerebert.com

Meskipun jualan utama dari Spider’s Web terletak pada sajian action yang beberapa kali digeber di sepanjang durasi, film ini juga menghadirkan kelebihan yang terletak pada drama kisah masa lalu Lisbeth. Isu politik, keluarga, sampai LGBT juga bisa kamu temukan tanpa harus merasa terganggu dengan cara penyisipannya.

Sama seperti judulnya, Spider’s Web atau jaring laba-laba, banyak isu yang saling berpilin dalam film ini. Tapi untungnya, jalinan cerita dalam Spider’s Web bisa mengalir tanpa terasa bertele-tele. Padahal awalnya saya pikir film bakal berjalan dengan rumit dan penuh intrik layaknya permainan catur yang dimainkan Lisbeth muda di awal film dimulai.

Penggunaan Stockholm sebagai latar tempat cerita dan penggambaran dinginnya salju juga terbukti mampu memperkuat tone cerita, sekaligus turut mengentalkan pribadi karakter Lisbeth secara nggak langsung. Sepak terjang Lisbeth yang tampil dingin dan tangguh bikin ia terlihat layaknya Jason Bourne versi perempuan.

Ya, Lisbeth bisa dikata merupakan satu-satunya karakter yang memegang peranan penting untuk menghidupkan cerita secara keseluruhan.

via theplaylist.net

Meski awalnya bukan diset sebagai film bertema spionase, Claire Foy kayaknya layak diadukan dengan karakter mata-mata pria. Semoga saja sekuel lanjutannya nanti nggak mengganti Claire Foy sebagai pemeran utamanya.

Komentar:

Komentar