Memanjakan Secara Visual, The Nutcracker and the Four Realms Hadir dengan Cerita yang Membingungkan

Judul yang lebih tepat mungkin The Adventure of Clara in a Magical World

Disney kayaknya masih belum bisa berhenti mengadaptasi kisah klasik anak-anak ke dalam bentuk live action, entah karena ketagihan atau apa tuh. Setelah pertengahan tahun kita disuguhi Christopher Robin, di penghujung tahun 2018 ini kamu bisa menyaksikan satu sajian baru dari adaptasi kisah klasik, The Nutcracker and the Four Realms.

The Nutcracker and the Four Realms merupakan film yang masuk kategori memanjakan mata lewat visualnya yang indah sekaligus cantik khas film Disney. Tapi kalau menyinggung jalan ceritanya, film ini malah terasa membingungkan dan meninggalkan banyak pertanyaan menggantung.

via tygpress.com

Cerita film ini sendiri berpusat pada petualangan Clara (Mackenzie Foy) dalam petualangannya di dunia magis bernama Empat Alam, suatu dunia ciptaan mendiang ibunya. Di sana ia menyadari kalau keempat Alam sedang berkecamuk akibat ulah Mother Ginger (Helen Mirren), penguasa Alam Hiburan. Dengan dibantu seorang prajurit Nutcracker (boneka pemecah kacang) bernama Kapten Phillip (Jayden Fowora-Knight), Clara berusaha menyelamatkan Empat Alam dari ambang kehancuran agar bisa kembali harmonis seperti dulu lagi.

Hubungan Clara dengan kedua orangtuanya yang membingungkan

Pertanyaan pertama yang menggelayuti The Nutcracker and the Four Realms adalah perihal latar belakang keluarga Clara. Setelah kematian ibunya, hubungan Clara dengan sang ayah terbilang kurang akur. Clara menganggap kematian ibunya adalah salah sang ayah. Clara juga sempat berujar kalau ayahnya terlalu egois karena mementingkan dirinya sendiri tanpa pernah memedulikan keluarganya.

Tapi sampai film berakhir, permasalahan dasar yang membuat hubungan keduanya renggang nggak pernah ditunjukkan. Hubungan Clara dengan dua saudaranya yang lain juga nggak diulas begitu mendalam. Mungkin jika Clara diceritakan sebagai anak tunggal, film bisa sedikit mengulas kisah yang lebih intim terkait hubungan Clara dengan kedua orangtuanya. Heran juga kenapa Clara seolah jadi satu-satunya anak paling spesial yang dicintai oleh sang ibu dibanding kedua kakaknya yang lain.

via imdb.com

Saking spesialnya Clara di mata ibunya, ia sampai diberikan hadiah khusus berupa telur tanpa kunci yang telah dipersiapkan oleh sang ibu. Di mana kuncinya? Ternyata itu disimpan oleh ayah baptis Clara sekaligus teman dari mendiang sang ibu, Drosselmeyer (Morgan Freeman). Lewat Drosselmeyer pula akhirnya Clara mengetahui tentang dunia Empat Alam yang diciptakan ibunya.

Ngomong-ngomong, Empat Alam tersebut adalah Alam Manisan yang dipimpin Sugar Plum (Keira Knightley), Alam Salju yang dipimpin Shiver (Richard E. Grant), Alam Bunga yang dipimpin Hawthorne (Eugenio Derbez), dan Alam Hiburan yang dipimpin Mother Ginger.

Penggunaan judul The Nutcracker and the Four Realms yang salah sasaran

Tiga dari empat raja tiap Alam/via polygon.com

Nggak berhenti sampai hubungan Clara dan orangtuanya, dunia Empat Alam yang menjadi inti dalam film pun sayangnya nggak dijabarkan dengan begitu detail. Sepanjang durasi saya dibuat bingung bagaimana caranya ibunda Clara bisa menciptakan Empat Alam tersebut. Lewat ilmu pengetahuan atau lewat bantuan magis? Nggak jelas sama sekali.

Benang merah yang terbaca kurang lebih mengindikasikan ibunda Clara menciptakan Empat Alam dengan bantuan alat yang bisa membuat mainan menjadi hidup layaknya manusia. Bagaimana cara ibunya bisa menciptakan alat tersebut tetap menjadi misteri hingga film berakhir.

Keempat Alam beserta para raja yang memimpin pun nggak dikasih banyak jatah untuk dieksplorasi. Clara hanya ditampilkan sekilas berkeliling ke tiga Alam dengan kereta kencana dan balon udara. Padahal kayaknya seru kalau penonton bisa diajak ikut mengenal lebih dalam tentang masing-masing Alam tersebut.

Clara dan prajurit Nutcracker/via theknockturnal.com

Dengan membawa judul The Nutcracker and the Four Realms, seharusnya film memang lebih memfokuskan cerita pada prajurit pemecah kacang dan Empat Alam. Tapi sepanjang durasi justru sosok Clara-lah yang menjadi fokus penggerak cerita. Si prajurit hanya sekadar membantu Clara mengenalkan dunia Empat Alam, layaknya seorang tour guide, meski ia juga sempat ikut berperang melawan para mainan kaleng menjelang penghujung film.

Dan nggak usah berharap kamu bisa melihat adegan aksi yang bombastis di adegan peperangannya. Pertarungan Clara dan si Nutcracker nggak lebih dari kejar-kejaran serta adu pedang dalam skala kecil, sama sekali nggak melibatkan banyak pasukan.

Visualisasi megah yang dihadirkan The Nutcracker and the Four Realms akhirnya hanya terasa sebagai pemanis untuk menutupi banyaknya kekurangan yang ada. Tribut adegan balet di pertengahan film juga kurang bisa mengangkat film ini dari kegagalan meski tetap terhitung menarik disimak. Apalagi adegan balet tersebut dibawakan oleh Misty Copeland, salah satu penari balet kawakan yang tampil dengan khusus.

Secara keseluruhan, The Nutcracker and the Four Realms terkesan terlalu dipaksakan dengan hanya menjual banyak nama besar aktor-aktornya semata. Dengan tampilan dunia imajinatif yang memanjakan mata dan kostum yang aduhai gemerlapnya, visualisasi film ini mungkin akan memuaskan anak atau ponakan kamu, meskipun mereka mungkin nggak akan mengerti jalan ceritanya. Tapi untuk konsumsi orang dewasa, The Nutcracker and the Four Realms terlihat sebagai film dengan cerita setengah jadi.

- Advertisement -
Shares 7

Komentar:

Komentar