Mengintip Langkah-Langkah Pembuatan Anime, Ribet tapi Mengasyikkan!

Siapa yang mau jadi animator nih!?

:

Buat saya yang termasuk generasi milenial, salah satu hal yang bikin masa kecil saya begitu berwarna adalah tayangan anime seperti Let’s & Go!!, Digimon, Inuyasha, dan Crush Gear Turbo di hari Minggu pagi. Saya sampai sering rebutan remote TV dengan kakek yang lebih suka nonton Wiro Sableng. Dari kecil sudah berantem sama kakek, berwarna sekali masa kanak-kanak saya bukan?

Anime memang menyuguhkan tontonan yang asyik bagi sebagian orang. Tapi apa kamu pernah terpikir bagaimana anime dibuat?

Pembuatan anime sebetulnya agak rumit lho, nggak bisa dianggap gampang. Nah, daripada kita cuma nonton doang, mendingan sekarang kita sama-sama cari tahu gimana proses produksi anime. Check this out!

Tahap-tahap produksi anime

Melansir ComicsVerse, proses produksi anime dibagi menjadi tiga tahapan utama: praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Kamu bisa melihat contoh alurnya di bagan ini:

via washiblog.wordpress.com

Praproduksi

1. Planning

Pada tahapan ini, salah satu hal penting yang paling dicari adalah ide cerita. Sebuah ide untuk pembuatan anime bisa didapat dari dua cara. Pertama, ide cerita asli dari sutradara. Kedua, adaptasi dari novel atau manga.

Ide cerita yang sudah didapat kemudian dibahas bersama produser. Beberapa hal terkait penulisan naskah, jadwal pembuatan anime, desain karakter, target penonton, anggaran serta rekrutmen staf menjadi poin penting dalam pembahasan tersebut. Jika dalam proses ini kesepakatan nggak kunjung tercapai, rencana pembuatan anime bisa saja dibatalkan. Tapi, jika ide cerita yang diajukan mendapat persetujuan dari produser, maka proses pembuatan anime bisa berlanjut ke bagian pembuatan storyboard.


2. Storyboard

Di tahap kedua ini, sutradara punya andil besar karena tanggung jawab pembuatan storyboard ada di tangannya. Berbeda dengan film, sutradara anime mengarahkan setiap adegan dari masing-masing tokoh lewat storyboard.

Sutradara nggak bekerja sendirian. Mereka juga dibantu oleh penata artistik, penata warna, serta desainer karakter buat mengarahkan beberapa hal teknis. Misalnya pembuatan background atau desain karakter.

via anime.stackexchange.com

Biasanya storyboard berisi jumlah potongan adegan, pergerakan kamera, gerakan aktor, dialog, dan panjang frame setiap detiknya. Setiap kolom pada storyboard tersebut diisi oleh sutradara. Jadi kamu bisa bayangkan jika satu episode anime berisi 300 potong adegan, berapa banyak gambar yang harus dibuat sutradara. Pusing pasti ya?

Produksi

via fandompost.com

Setelah storyboard selesai dibuat, barulah proses produksi anime dimulai. Selanjutnya tanggung jawab penggarapan tiap episode anime diberikan ke masing-masing asisten sutradara (atau disebut juga episode director). Tugas utama dari asisten sutradara adalah mengatur kelancaran proses pembuatan anime di tiap episodenya.

Untuk proses produksi animasinya meliputi beberapa tahapan: mulai dari layout, key-animation, in-between, kemudian digitalize, dan diakhiri pada tahap editing.

1. Layout

via comicsverse.com

Orang yang bertugas pada proses layout biasanya diberi tanggung jawab untuk memberikan detail atau latar pada storyboard. Sebagai contoh, jika potongan adegan dari storyboard hanya berisi adegan karakter dalam anime, layout berfungsi untuk memberi sentuhan pada gambar agar potongan adegannya menjadi lebih hidup.

2. Key Animation

via comicsverse.com

Berlanjut ke proses berikutnya, key-animation bisa dibilang merupakan proses utama pada pembuatan anime. Di tahap ini storyboard yang sudah diberi layout akan dibuat ulang berdasarkan frame yang dibutuhkan untuk tiap adegannya. Contohnya untuk potongan adegan menoleh, key animator bisa membuat dua frame: frame pertama untuk tatapan ke depan, sedangkan frame kedua untuk menoleh ke samping

Selain itu, satu episode anime bisa membutuhkan lebih dari 20 key-animator lho. Itu karena jumlah frame yang dibutuhkan untuk menciptakan satu potongan adegan bisa menghabiskan banyak gambar.

3. In-Between Animation 

via goboiano.com

In-between animator bisa juga berperan menjadi supervisor key-animator. Soalnya pada tahap ini, hasil dari key-animator bisa saja menerima revisi, tergantung dari relevansi setiap gambar yang dibuat.

Jika semua gambar yang dibuat sudah relevan, tugas selanjutnya dari in-between animator adalah memastikan setiap adegan bergerak secara halus dengan menambahkan frame yang dibutuhkan.

4. Digitalize

via kotaku.com

Nah, tahapan penutup dari proses produksi anime adalah digitalize, yakni pemberian warna serta efek visual oleh colorist (penata warna) dan SFX artist (penata efek visual).

Pascaproduksi

Setelah semua proses produksi pembuatan animasi selesai, barulah proses editing dimulai. Proses editing dalam anime meliputi pengisian suara atau dubbing, serta editing efek suara dan latar musik. Semuanya dilakukan di bawah arahan sutradara.

Jika editing sudah selesai, selanjutnya sutradara beserta asistennya akan memeriksa setiap tahapan pada proses produksi, juga memastikan semua proses berjalan dengan baik. Setelahnya, tim sutradara biasanya memberikan ulasan dan masukan untuk proses pembuatan episode anime selanjutnya.

via theglorioblog.com

Kalau kamu ingin tahu lebih jauh mengenai betapa ribet dan sulitnya membuat suatu anime, saya rekomendasikan kamu buat nonton anime yang membahas soal pembuatan anime. Judulnya Shirobako.

Well, gimana menurut kamu proses dari penggarapan anime? Cukup ribet ‘kan? Belum lagi jika ada kesalahan yang terjadi di salah satu tahapan, bakalan kacau tuh.

Ribet sih ribet. Tapi, kalau kita dasarnya memang suka, pekerjaan sesulit apa pun bisa terasa menyenangkan. Apa kamu tertarik untuk berkarier sebagai animator?

Komentar:

Komentar