Mari Berandai-andai, Gimana Jadinya kalau 3 Film Distopia Ini Terjadi di Dunia Nyata?

:

Dalam karya fiksi, distopia bisa diartikan sebagai kondisi kehidupan yang sama sekali nggak diidamkan manusia. Cerita distopia seringkali menunjukkan penderitaan masyarakat, entah itu karena negara yang otoriter, teknologi canggih, bencana dahsyat, atau bahkan serangan alien.

Sisi menariknya, kisah distopia selalu bikin kita tergoda buat membayangkan gimana jadinya jika kita termasuk ke dalam masyarakat distopia itu sendiri. Kamu yang pernah nonton Hunger Games pasti sempat berkhayal jadi salah satu tokoh jagoan di dalam ceritanya.

Oke, sekarang kita coba berkhayal lebih jauh lagi lewat 4 kisah distopia berikut ini. Kira-kira kalau kekacauan di empat cerita berikut terjadi di dunia nyata, apa yang mesti kamu lakukan supaya bisa bertahan hidup?

1. The Purge

via imdb.com

Kondisi distopia:

Tingkat pengangguran dan kriminalitas di Amerika Serikat menurun drastis semenjak pemerintah mencantumkan purge day (hari pembersihan) di kalender nasional. Yup, itulah hari di mana pemerintah membebaskan masyarakatnya melakukan segala jenis tindak kriminal, termasuk pembunuhan.

Penyusupnya di belakang mbak!/via gifer.com

Menurut saya, alangkah indahnya negeri kita jika jumlah pengangguran berkurang drastis atau bahkan nggak ada sama sekali. Tapi kalau mesti dibayar dengan mengorbankan nyawa di purge day, kira-kira gimana ya jadinya?

Oke, pertama saya nggak sanggup bayangin Pak Jokowi berpidato tentang pelegalan kriminalitas kayak di film The Purge. Kalau pun purge day terjadi di Indonesia, jutaan rakyat yang tertindas kemungkinan besar bakal meluapkan amarahnya ke para pemimpin yang melegalkan peraturan bodoh seperti purge day. Ya, mungkin bakal ada kerusuhan besar yang sebelumnya nggak pernah terjadi di Indonesia.


Tapi itu baru kemungkinan yang terjadi di perkotaan.

Sekarang coba kamu bayangin purge day di pedesaan. Korban-korban purge day di desa nggak bakal jauh dari orang kaya yang pelit tapi suka pamer harta (kayak di sinetron), preman kampung, atau lintah darat yang sering nipu rakyat miskin.

Sementara di jalanan, motor-motor berknalpot nyaring bakal bebas kebut-kebutan buat memeriahkan suasana kerusuhan. Ini bagian paling nyebelin memang.

2. Battle Royale

via imdb.com

Kondisi distopia:

Murid-murid sekolahan yang sering bikin onar dipaksa pemerintah diktatorial Jepang buat mengikuti Battle Royale, atau permainan yang mewajibkan pesertanya saling membunuh satu sama lain hingga cuma tersisa satu orang.

“Hari ini kita belajar saling bunuh ya, guys!”/via dosegifs.tumblr.com

Kelas 3-B di film Battle Royale kebanyakan dihuni siswa pemalas dan begajulan, atau bahasa gaulnya, madesu (masa depan suram). Bagi siswa 3-B, belajar itu hal yang paling membosankan di dunia. Jadi pemerintah Jepang sengaja bikin suasana belajar mereka lebih “seru” dan “menantang” dengan battle royale. Hayo, siapa di sini yang (dulu) suka bolos dan nggak pernah merhatiin guru di kelas?

Kalau skenario distopia ini terjadi di dunia nyata, kayaknya jumlah anak-anak putus sekolah di Indonesia bakal meningkat pesat. Siapa juga yang mau sekolah kalau akhirnya mereka disuruh buat membunuh satu sama lain?

Sekalipun para orang tua masih ngotot memasukkan anak mereka ke sekolah, mereka nggak akan pilih sekolah negeri atau swasta. Mereka bakal lebih milih masukin anak ke pesantren. Lebih bagus lagi kalau pesantrennya kayak pesantren di film The Santri arahan Livi Zheng.

Selain pesantren, mungkin ada juga orang tua yang masukin si anak ke home schooling. Pada akhirnya, sekolah-sekolah negeri dan swasta bakalan gulung tikar. Pengangguran bakal semakin meningkat, dan keahlian sumber daya manusia di Indonesia semakin tertinggal dari negara tetangga.

Entah apa RUU yang bakal diusulkan DPR versi dunia distopia jika kondisinya sekacau itu.

3. Planet of the Apes

via riotheatre.com

Kondisi distopia:

Sekelompok astronot mendarat di planet yang didominasi oleh spesies kera dengan peradaban dan teknologi canggih. Sebaliknya, bangsa manusia di planet itu tergolong masih primitif (belum mengenal bahasa lisan) dan sering diperlakukan layaknya hewan oleh kaum kera.

Saycheese!’/via rebloggy.com

Di kisah Planet of the Apes, kehidupan manusia dan kera jadi terbalik. Kira-kira gimana ya jadinya kalau situasi distopia semacam itu terjadi di dunia nyata?

Hmm… pertama, mungkin pertunjukan Topeng Monyet yang biasa kita lihat di lampu merah bakal ganti nama jadi Topeng Orang. Kamu nggak mau ‘kan jadi topeng orang? Mempertunjukkan berbagai atraksi di tengah perempatan jalan dengan leher terikat tali, capek, keringetan, tapi nggak ada kera yang merhatiin penampilan kamu. Kok rasanya sedih banget ya.

Di Planet of the Apes, kera memang suka bertindak semena-mena pada manusia. Dan kamu nggak punya pilihan selain jadi buruan di hutan, terus diajari berbagai trik pertunjukan Topeng Orang oleh kera. Yah, kalau kamu beruntung, kamu bisa tampil di acara sirkus yang ditonton ratusan kera gitu deh.

Sementara itu di kebun binatang, bakal ada kandang khusus manusia. Di laboratorium penelitian, manusia bakal jadi kelinci percobaan para ilmuwan kera. Terus tokoh utama di film King Kong bukan lagi gorila raksasa, tapi manusia primitif raksasa (yang jatuh cinta sama kera cantik).

Dan yang terpenting, nggak ada bakal ada lagi umpatan, “Dasar monyet!” Umpatan itu bakal diganti sama, “Dasar manusia!”

Ah, sudah cukup berkhayal tentang dunia distopia. Sekarang kita balik lagi deh ke dunia nyata. Kira-kira dunia distopia mana yang paling nggak kamu harapkan terjadi di dunia nyata?

bayubaharul :