Apa yang Bikin Film Hasil Adaptasi Video Game Sering Berujung Mengecewakan?

Sampai kapan harus menunggu kutukan ini berakhir?

:

Saat saya pertama kali mendengar Uncharted bakal dibuatkan filmnya, saya nggak bisa menutupi rasa sumringah. Saya bahkan sampai jingkrak-jingkrakkan ke sana ke mari, layaknya bocah tahun 90-an yang baru dibelikan tamagochi oleh pamannya yang baru datang dari desa.

Tapi kebahagiaan itu nggak berlangsung lama. Baru 10 menit setelah mendengar berita tersebut, keraguan langsung menyergap diri saya. “Heeey, duuude, ini seriusan? Apa nantinya nggak bakalan gagal itu film?”

Yeah, seingat saya memang jarang banget ada film hasil adaptasi video game yang kualitasnya bagus. Saya pakai kata “jarang banget” karena takutnya kata “nggak ada sama sekali” bakal terdengar terlalu kasar. Tapi ya memang begitulah kenyataannya. Dan saya bakal bilang sekali lagi: kebanyakan film hasil adaptasi video game itu jelek!

Lantas kenapa fenomena ini bisa terjadi? Dan kenapa Hollywood masih saja rajin mengadaptasi video game ke layar lebar?

Mungkin itu karena….

Melalui film kita hanya diajak menonton; melalui video game kita diajak terlibat

Salah satu kelebihan dari video game ketimbang film adalah adanya interaksi antara pemain dan karakter yang dimainkan. Saya menikmati waktu yang saya habiskan saat main game L. A. Noire misalnya.

via digitalspy.com

Melalui L.A. Noire, saya diajak untuk berandai-andai sebagai detektif melalui jalan ceritanya; saya diminta untuk mengenal karakter utamanya, Cole Phelps, sekaligus mengendalikannya; saya disuruh untuk menganalisis bukti dan membekuk penjahat; dan saya pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan Cole Phelps.

Saat saya memainkan L.A. Noire, secara nggak lansung saya merasa Cole Phelps adalah saya sendiri, dan saya adalah Cole Phelps. Selalu ada emosi yang terlibat saat kita bermain suatu game yang punya jalan cerita dan karakterisasi yang bagus. Ini baru L. A. Noire. Kita belum membicarakan game sekaliber Bioshock atau Red Dead Redemption.

Sedangkan apa bedanya dengan nonton film adaptasi game? Kalau mau dianalogikan, saat saya nonton film Tomb Raider misalnya, saya merasa seperti bocah ingusan di rental PS yang lagi nontonin om-om main game Tomb Raider. Saya nggak merasa terlibat dengan apa yang dirasakan Lara Croft. Peduli setan Lara Croft mati mengenaskan atau apa pun itu nasib yang bakal ia terima.

Belasan jam yang dibutuhkan untuk menamatkan game dipersingkat menjadi dua jam

via youtube.com

Kalau nggak salah ingat, saat pertama kali menamatkan The Last of Us saya butuh waktu sekitar 18 jam. Kelamaan, nggak? Yaah, entahlah, mungkin karena saya terlalu bodoh, saya jadi menghabiskan banyak waktu dengan melihat Joel mati konyol.

Tapi sedikit pun saya nggak menyesal telah menghabiskan waktu 18 jam untuk menamatkan satu game. Momen-momen kecil yang ada dalam game tersebut selalu bisa menambah rasa empati saya terhadap hubungan yang ditunjukkan duet Joel-Ellie, membawa saya terhanyut ke dalam konflik antara ayah dan anak di kala mereka berjuang bertahan hidup.

Lalu gimana jadinya jika waktu belasan jam itu direduksi jadi hanya, katakanlah, 90 hingga 120 menit? Apakah saya masih bisa melihat momen-momen kecil seperti saat Ellie pertama kali bersiul? Apa saya masih bisa mendengar lawakan-lawakan garing dari Ellie?

Mungkin masih bisa, dan itu juga untung kalau masih bisa. Tapi momen itu nggak akan terasa sekuat seperti saat saya memainkan game-nya. Waktu dua jam memang terlalu singkat untuk menampung pengalaman kita saat bermain game.

Bahan dari sumber aslinya terlau banyak diubah

Sineas punya hak untuk merubah aspek-aspek tertentu dalam suatu game ketika mereka mengadaptasinya jadi film. Tapi itu bukan berarti penonton rela jika Mario dan Luigi diubah jadi kayak gini:

via gameretrospect.com

Film Super Mario Bros. yang dirilis tahun 1993 itu adalah contoh yang bagus, gimana jadinya kalau film adaptasi game sama sekali nggak ada hubungannya dengan sumber aslinya.

Video game sendiri seringkali penuh dengan kemustahilan yang nggak mungkin terjadi di dunia nyata. Dan hal-hal mustahil seperti itu memang harus diubah atau bahkan dihilangkan ketika suatu game diadaptasi ke film. Namun ketika terlalu banyak perubahan yang dilakukan, saat itulah penggemar video game akan berpikir…

Orang yang terlibat dalam pembuatan film mungkin nggak pernah memainkan game yang diadaptasi

via pexels.com

Mau tahu kenapa film live-action Dragon Ball yang judulnya Dragon Ball Berevolusi (Dragon Ball: Evolution kalau dalam bahasa Inggris) terlihat kacau balau? Itu karena penulis naskahnya nggak pernah tertarik sama manga karangan Akira Toriyama itu. Sutradaranya bahkan nggak tahu menahu tentang Dragon Ball saat dia tanda tangan kontrak. Hmm… saya seperti mendengar seorang pengantin baru yang nggak tahu harus ngapain di malam pertama karena dia belum pernah mimpi basah.

Walaupun saya mengambil contoh dari film adaptasi manga, tapi contoh tersebut bisa saja berlaku di film adaptasi game. Memang ada beberapa sutradara, seperti sutradara film Silent Hill atau Metal Gear Solid, yang mengaku sebagai penggemar berat gamenya. Tapi bagaimana dengan film adaptasi game lainnya?

via thewrap.com

Selama ini jarang banget ada film adaptasi game yang sukses. Apa itu karena sutradaranya nggak pernah memainkan game-nya?

Hollywood masih terus dan akan mengadaptasi video game karena di situ ada ladang uang yang menggiurkan

via pexels.com

Kamu tahu berapa fulus yang dihasilkan franchise Resident Evil? Dari film pertamanya yang dirilis tahun 2001, sampai film terakhirnya yang dikasih sub-judul The Final Chapter, franchise ini sudah mengumpulkan sekitar $1.22 miliar atau kurang lebih Rp17 triliun dari worldwide box office.

Kalau saya dapat uang segitu, mungkin saya bakal langsung pensiun muda sebagai penulis. Terus saya bakal pindah ke wilayah pedesaan yang masih hijau dan menghabiskan sisa hidup saya kayak si Kabayan.

Okay, back to the topic… Meskipun seri film Resident Evil dapat banyak respons negatif dari kritikus dan fans sejati game-nya, Alice dan kawan-kawan terbilang menghasilkan untung dari sisi finansial. Potensi kegagalan memang akan selalu membayangi setiap film (Assasin’s Creed contohnya), tapi coba kita tengok dulu gimana menggiurkannya mengadaptasi film dari video game.

GTA V itu termasuk salah game paling sukses sepanjang masa yang sampai sekarang sudah terjual lebih dari 90 juta copy. Sekarang coba bayangkan gimana jika kesuksesan GTA V bisa didapat juga dalam bentuk film? Menggiurkan, bukan?

Dan mungkin itu kenapa dalam beberapa tahun ke depan, kita masih akan dibanjiri oleh film-film hasil adaptasi video game meskipun para sineas sadar betul itu bukan pekerjaan gampang.

But, hey… semua ini cuma racauan dari saya. Saya bukan kritikus film profesional, jadi mungkin saja saya salah. Toh, kamu juga pasti punya opini sendiri.

Tapi yang paling penting: semoga saja ke depannya ada film adaptasi game yang sukses. Bukan hanya sukses dari sisi finansialnya doang, tapi sukses secara kualitasnya juga. Bukankah kita juga nggak akan menolak kalau disodori film yang kualitasnya memang beneran bagus?

66 Shares

Komentar:

Komentar