Jump Scare dalam Film Horor: Antara Cara Efektif Buat Menakuti Penonton dan Kemiskinan Kreativitas

Kyaaaaaaa...!

:

Di artikel sebelumnya, saya udah pernah bilang kalau jump scare itu sebenarnya salah satu cara buat meningkatkan tensi film. Ia juga cara yang ampuh buat bikin penonton terkaget-kaget dan ketakutan setengah mampus kalau dieksekusi dengan baik.

Sementara permasalahannya, banyak sineas yang menyisipkan jump scare ala kadarnya dan asal-asalan. Mereka seperti memandang jump scare sebagai metode yang paling gampang, paling murah, untuk menakuti penonton, tanpa pedulli apa yang membuat jump scare bisa jadi cara efektif untuk menakuti penonton. Mungkin karena kemudahannya pula, akhirnya ada banyak film horor yang isinya nggak lebih dari parade jump scare.

via storyboardfilm.wordpres.com

Dan itu, sobat, yang bikin sebagian orang jengah sama film yang terlalu mengandalkan jump scare. Mereka umumnya beropini, “Ada acara lain yang bisa dipakai untuk membuat film horor jadi seram. Jadi kenapa harus memaksakan jump scare? Karena alih-alih dibikin takut atau kaget, gendang telinga saya sakit karena terus-terusan diperdengarkan suara yang volumenya gila-gilaan.”

(Ingat, banyak jump scare yang disertai dengan musik menggelegar, biar bisa lebih bikin kaget)

Saya pun termasuk orang yang nggak suka kalau melihat tontonan yang terlalu mengandalkan dan/atau memaksakan jump scare. Saya kurang bisa menikmati tontonan kayak gitu. Itu karena…

Nggak sedikit Jump scare di film horor yang gitu-gitu aja

Coba ingat-ingat seberapa sering kamu lihat adegan seperti ini di film horor:

Karakter utama (atau karakter nggak penting) tengah memandang/mengagumi bayangannya sendiri di depan cermin wastafel. Mungkin di dalam hati ia berpikir, “Ya Tuhan, kenapa Engkau menciptakan diriku seindah ini?”


Jujur, apa yang ada dalam pikirannya nggak begitu penting sih. Yang harus diperhatikan adalah ia lagi sendirian ketika memandangi cermin.

Merasa situasi aman terkendali, ia pun membuka laci kotak obat yang ada di atas wastafel. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika menutup laci tersebut beberapa detik kemudian. Ia memandang kembali cermin untuk menemukan ada sosok (hantu, monster, atau manusia) yang tiba-tiba berada di belakangnya! Nggak lupa juga, musik bernada tinggi nan dramatis pun diputar untuk mengiringi adegan tersebut.

Bila imajinasi kamu kurang kuat, kamu bisa lihat contoh adegannya lewat video ini:

Sekali lagi, coba ingat-ingat seberapa sering kamu lihat adegan seperti ini di film horor?

Saya nggak bermaksud buat menuntut orang lain biar menciptakan jenis jump scare baru yang belum pasaran. Jump scare cermin atau jump scare penampakan hantu yang muncul tiba-tiba pun bisa terasa mengerikan. Problem utamanya, banyak jump scare yang mengandalkan pola terlalu mirip dengan jump scare yang sebelumnya udah terbukti sukses menakuti penonton. Gimana kita bisa terkejut kalau udah bisa menebak apa yang akan terjadi?

Adegan yang seharusnya biasa aja kadang dipaksa untuk disisipi jump scare

Inilah yang saya maksud dengan terlalu memaksakan jump scare.

Jump scare sendiri bakal terasa efektif jika diterapkan di waktu dan tempat yang tepat. Jika terlalu dipaksakan, hasilnya mungkin bakal jadi menyebalkan. Bayangkan kalau saya lagi berbicara topik membosankan dengan seorang teman, lalu di tengah-tengah obrolan tiba-tiba terdengar musik bernada tinggi.

“Hey, kemarin saya sarapan pakai Koko Crunch lho. Enak banget.” *Jeng, jeng, jeng, jeng! Beletaaak! Wiiiiiiiiwwww!

(Kata-kata yang dibubuhi * itu merupakan efek suara jump scare)

Rasanya nggak pas banget ‘kan? Kalau obrolan kayak gitu dijadikan adegan dalam film, itu bukan adegan yang cocok buat disisipi/dijadikan jump scare. Tapi beberapa film horor merasa perlu mengubah (atau memaksakan) adegan biasa jadi jump scare.

Biar lebih jelas, izinkan saya buat menceritakan adegan jump scare terburuk favorit saya. Adegan itu ada di film Silent Hill: Revelation.

Jadi ceritanya, Heather Mason sang karakter utama tengah bermimpi buruk. Di mimpinya itu, ia melihat ayahnya mati. Heather pun terbangun, lalu menyadari semua itu hanyalah mimpi buruk. Jika kamu melihat adegan seperti itu, apa yang selanjutnya kamu harapkan bakal terjadi?

  1. Heather keluar dari kamarnya, mendobrak kamar ayahnya, lalu menceritakan mimpi buruknya itu
  2. Heather nggak bisa tidur. Tubuhnya menggigil hebat karena teringat akan mimpi buruknya
  3. Waktu langsung melompat ke keesokan harinya, dan kita diperlihatkan bagaimana Heather ketakutan sembari memandang ayahnya, berharap ayahnya itu nggak akan pergi meninggalkannya seorang diri

Apa kamu memilih salah satu dari tiga pilihan ganda di atas? Berarti tebakan kamu salah, karena adegan selanjutnya adalah ini:

Yup, jump scare pop-tart! Lewat film ini, saya baru tahu kalau pop-tart pun bisa dipakai sebagai jump scare. Bukan hantu, bukan monster, tapi pop-tart!

Terlalu banyak jump scare, efek kejutnya bakal semakin berkurang

Sejauh pengetahuan saya yang sejatinya nggak tahu apa-apa ini, adegan klimaks atau adegan yang paling mengerikan dalam film jarang banget ditaruh di awal. Adegan semacam itu biasanya disimpan di pertengahan atau akhir durasi film.

Sekarang bayangkan kalau kamu diberi lebih dari 10 jump scare dalam satu film? Satu sampai empat jump scare pertama mungkin bakal kerasa seram. Tapi begitu kamu melihat jump scare ketujuh atau kesembilan, mungkin kamu udah mulai capek buat berteriak dan melompat dari kursi. Terus, saat film mencapai adegan klimaks, kamu malah terlalu sibuk meneguk minuman berenergi buat mengembalikan tenaga yang kamu keluarkan saat teriak-teriak.

Yeah, antusiasme yang seharusnya kamu keluarkan saat klimaks udah terlanjur tergerus, karena kamu harus melihat 20 jump scare dalam waktu kurang dari satu jam.

“Saya pengin teriak, tapi saya terlalu capek. Sedih rasanya.”/Universal Pictures

Oke, mungkin pengandaian yang saya buat terlalu lebay. Tapi kamu juga pasti punya pengalaman nonton film dengan bejibun jump scare. Iya ‘kan? Kamu lupa? Coba tonton Pet Semetary rilisan tahun 2019. Itu contoh yang bagus dari film horor yang terlalu mengandalkan jump scare, sampai-sampai teknik tersebut memenuhi film.

Saat nonton horor, saya sendiri nggak pernah berharap buat dibikin kaget setiap 5-10 menit sekali. Bahkan jika suatu film cuma punya satu atau dua momen mengejutkan, itu masih lebih baik ketimbang memaksakan delapan jump scare yang sama sekali nggak punya efek kejut.

Akhir kata

Di tahun 2019 ini, saya masih suka menemukan orang yang berkomentar: “Ngomong doang mah gampang. Gue yakin kalau elu disuruh bikin film, elu nggak akan bisa!”

Well, saya punya pertanyaan buat orang yang suka mengeluarkan pernyataan jenius seperti itu. Gimana ya pendapat mereka kalau mendengar ada politisi ngomong:

“Kalian ini cuma rakyat jelata. Elu-elu pada nggak pernah merasakan langsung gimana rasanya mengurus negara. Begini, Bung, menjalankan roda pemerintahan itu nggak gampang. Jadi kalian lebih baik diam dan nggak usah sok-sokan mengkritik. Biarkan kami yang berpikir, karena otak kalian terlalu lemah buat memikirkan hal-hal yang rumit. Saya yakin kalau kalian jadi pejabat negara, kalian nggak bakalan becus!”

Hahaha, saya nggak kebayang kalau memang ada politisi yang secongkak itu.

Kritikan adalah hal penting yang diperlukan agar peradaban manusia bisa berkembang. Bila seseorang mengkritik pembuat roti karena merasa roti bikinannya nggak enak, orang itu nggak harus punya kemampuan untuk membuat roti. Ia mengkritik si tukang roti dari sudut pandang sebagai penikmat roti, bukan produsen roti. Kritikannya boleh saja terdengar pedas, dan orang lain bisa saja nggak setuju sama kritikannya, tapi ia melakukannya semata-mata karena ingin si tukang roti itu bisa membuat roti yang lebih enak di masa depan.

Melarang orang untuk mengkritik adalah buah dari pemikiran banal yang membahayakan. Karena ketika budaya kritik-mengkritik dilarang, daya kritis kita akan tersumbat dan nggak terasah. Ketika daya kritis kita nggak terasah, kita akan berevolusi menjadi manusia yang hanya bisa manggut-manggut saat disodorkan karya nggak bermutu.

Eeeh, kenapa saya jadi bahas soal kritik ya? Bukannya saya lagi bahas soal jump scare? Oh iya, maaf, saya memang pengin sekalian nyindir orang-orang yang suka ngomong, “Gue yakin kalau elu disuruh bikin film, elu nggak akan bisa!”

Terima kasih udah membaca tulisan opini yang sok-sokan mengkritik ini.

Komentar:

Komentar