Menjelang Gala Premiere Dilan 1991, Promosi Efektif atau Penjajahan Sinema?

Sebegitu pentingnyakah Dilan?

:

Tahun 2018 lalu ditandai dengan kesuksesan besar yang diraih Dilan 1990. Total ada 6,3 juta penonton yang menyaksikan film tersebut. Mungkin hal itu juga yang bikin Max Pictures sangat percaya diri untuk melanjutkan cerita Dilan di tahun 2019 ini. Kepercayaan diri mereka pun terbalas dengan antusiasme Dilanisme (sebutan untuk fans Dilan), yang menanti-nanti tanggal rilis Dilan 1991 dengan semangat menggelora.

Namun sebelum tanggal 28 Februari 2019 tiba, saya pengin mengajak kamu sebentar untuk menengok hal-hal yang cukup menarik dari film hasil adaptasi novel karya Pidi Baiq ini.

Minggu 24 Februari 2019, ditetapkan sebagai Hari Dilan

Gala premiere Dilan 1991 akan dilaksanakan pada Minggu, 24 Februari 2019 di kota kelahirannya, Bandung. Dan menariknya tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Dilan. Tapi jangan kira hari itu akan jadi tanggal merah. Hari Dilan hanya gimmick semata, yang tujuannya untuk memberikan ruang ke penonton agar bisa menyaksikan Dilan 1991 lebih awal

Tentu ditetapkannya Hari Dilan itu dibarengi juga dengan berbagai promosi menarik. Salah satunya, kamu bisa menyaksikan film ini dengan harga Rp10 ribu doang.

Kalau diingat-ingat, terakhir kali saya membeli tiket nonton film seharga Rp10 ribu di bioskop Bandung itu terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Di saat bioskop Bandung kini rata-rata mematok harga tiket sebesar Rp35.000 – Rp60.000 pada saat weeekend dan hari libur nasional, Rp 10 ribu itu murah banget!

Siapa yang sudah punya tiketnya/instagram.com/cinema.21

Presale tiket Dilan 1991 yang seharga Rp10 ribu itu sudah dibuka sejak 14 Februari 2019. Dan seperti yang sudah bisa diperkirakan, tiket tersebut ludes terjual hanya dalam beberapa jam saja.


Padahal tiket yang disediakan terhitung lumayan banyak. Menurut pengamatan saya, tiket presale yang dibuka di Cinema XXI mencapai 100 show yang tersebar di 9 bioskop. Kalau setiap show dirata-ratakan berkapasitas 200 penonton, artinya jumlah tiket yang ludes dalam beberapa jam tersebut sebanyak 20.000 tiket.

Perolehan angka itu mungkin biasa saja untuk film sebesar Dilan 1991, tapi cukup sulit diraih oleh sebagian besar film Indonesia di hari perdananya.

Apa benar nggak bakal ada film lain di Hari Dilan?

Angka penjualan 20.000 tiket hanyalah angka yang dibuka untuk publik. Tentunya berbagai media partner yang digandeng Dilan 1991 sudah punya jatah tiket sendiri. Artinya, jumlah tiket yang disediakan di Hari Dilan bisa saja melebihi angka tersebut.

Hal ini senada dan diperkuat tulisan dari Kompas yang menyatakan bahwa pihak Max Pictures akan menyediakan 65.000 tiket di hari Dilan. Jumlah itulah yang cukup menggelitik saya untuk melakukan perhitungan sekaligus mempertanyakan:

Apakah di Hari Dilan semua bioskop hanya akan menayangkan Dilan 1991? Apa nggak akan ada film lain yang ditayangkan? Mari kita hitung secara matematis.

Seakan nggak cukup puas dengan hari Dilan, film Dilan 1990 pun ditayangkan kembali oleh CGV selama 11 hari/instagram.com/cgv.id

Di Bandung terdapat sembilan Cinema XXI. Sembilan bioskop XXI itu terletak di Braga, BTC Ciwalk, Empire (BIP), Festival Citylink, Transmart Buah Batu, TSM, Ubertos, dan Jatos. Dari semuanya, hanya Ciwalk dan Empire yang punya studio paling banyak, yakni 8 studio. Sementara sisanya berkutat di angka 4 hingga 7 studio. Kalau ditotal, jumlah keseluruhan studio yang dimiliki Cinema XXI Bandung adalah 55 studio.

Setiap studionya berkapasitas kurang lebih 100-300 penonton. Untuk memudahkan perhitungan, mari kita pukul rata saja kapasitasnya jadi 200. Setiap studio umumnya menayangkan satu film sebanyak lima kali pemutaran.

Sekarang kita hitung berapa tiket yang diperlukan jika Dilan 1991 diputar penuh di seluruh bioskop Cinema XXI Bandung.

Perhitungannya sederhana: 200 penonton x 5 show x 55 studio = 55.000 tiket.

Merujuk kembali pada artikel Kompas yang menyebutkan bahwa Dilan 1991 akan menyediakan 65.000 tiket, maka ada sisa 10.000 tiket. Sisa inilah yang mungkin dijadwalkan untuk bioskop lain di Bandung, yakni 5 CGV dan 1 Cinemaxx.

Jadi kesimpulannnya, apakah saat Hari Dilan bakal ada film lain yang diputar di bioskop? Kamu bisa simpulkan sendiri.

Promosi efektif atau penjajahan sinema?

Max Pictures

Berkembangnya jumlah penonton perfilman Indonesia beberapa tahun terakhir ini tentu sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. Tapi di sisi lain, ada keresahan yang hinggap di pikiran saya. Saya khawatir pencapaian penonton ini akan dijadikan tolak ukur satu-satunya terhadap keberhasilan suatu film.

Memang jika ditinjau dari sisi bisnis, nggak ada yang salah dengan hal ini. Nggak ada satu pun produser yang mau filmnya rugi. Kecuali mungkin Raffi Ahmad yang nggak peduli filmnya mau ditonton orang atau nnggak.

Sejauh ini memang nggak ada formula efektif yang bisa menentukan laris atau nggaknya suatu film. Tapi setidaknya, pengalaman bisa menunjukkan kita tentang tren yang berkembang. Apa kamu ingat bagaimana film My Stupid Boss (2016) bisa meraup tiga juta penonton? Film tersebut sebelumnya malah nggak banyak diperhitungkan.

Dari My Stupid Boss kita bisa mempelajari strategi promosi film yang tepat sasaran. Ia cukup jeli dalam menentukan target penontonnya, dengan banyak melakukan promo ke perkantoran. Targetnya jelas, karyawan kantoran yang mungkin punya bos seperti yang digambarkan My Stupid Boss. Hasilnya tagar #nobarsekantor sempat jadi trending, dan bukan nggak mungkin jadi salah satu pendukung suksesnya My Stupid Boss.

Selamat menikmati hari Dilan/instagram.com/cinema.21

Lalu bagaimana dengan yang dilakukan Dilan 1991?

Mungkin banyak dari kita yang masih menyuarakan keadilan porsi jumlah tayang film Indonesia dan film impor. Selama ini disinyalir lebih banyak layar di bioskop yang diisi film impor. Masalah ini saja belum menemukan titik temu dengan nggak pernah selesainya Undang-Undang tentang perfilman.

Di tengah keadaan seperti ini, berdasarkan perhitungan matematis, Dilan 1991 punya kemungkinan mem-booking seluruh bioskop di Kota Bandung saat Hari Dilan. Jika itu jadi kenyataan, film-film lain yang tayang pada hari Minggu (24/2) harus rela menjadi arsip untuk sementara waktu.

Tapi yang perlu diingat, deretan film yang menjadi arsip tersebut nggak hanya terdiri dari film impor. Ada juga film Indonesia yang masih butuh bernapas.

Ada tiga film Indonesia yang memasuki hari keempatnya di Hari Dilan. Mereka adalah 11.11, Anak Hoki, dan Foxtrot Six. Dari ketiga film tersebut, mungkin napas 11.11 akan berhenti bahkan sebelum Hari Dilan tiba. Bahkan film lainnya semisal Calon Bini dan Antologi Rasa yang juga masih memerlukan amunisi akan terhenti sementara.

Masih syukur jika Cinema XXI menayangkan kembali film-film tersebut di hari Seninnya. Kalau nggak?

Bahkan baliho Dilan 1991 sudah tersebar di titik strategis kota Bandung/entertainment.kompas.com

Hari Dilan mungkin akan menyenangkan bagi mereka yang demen rayuan gombal ala Dilan atau cewek-cewek yang merasa dirinya Milea. Tapi tanpa sadar Hari Dilan adalah bentuk praktik kanibalisme yang dilakukan Dilan 1991 kepada sesamanya. Lebih dari itu, hari Dilan adalah proses kudeta terhadap pilihan dan selera penonton.

Komentar:

Komentar