Fakta Unik Suzanna, Ratu Horor yang Pernah Bermain di Film Musikal

Siapa yang pantas menyandang Ratu Film Horor selanjutnya? Siapa, ya?

:

Membahas Suzanna memang nggak akan ada habisnya. Meskipun sang aktris yang dibicarakan telah tiada, ia akan tetap dikenal sebagai ratu film horor Indonesia. Setiap kali kamu membuka daftar film horor Indonesia terseram, pasti bakal ada film Suzanna yang terselip di dalamnya.

Belum lama ini pula rumah produksi Soraya Intercine Films membuat ulang film tentang Suzanna yang sudah ditonton lebih dari 3 juta orang. Dan tersiar kabar Soraya akan tetap melanjutkan proyek film-film Suzanna berikutnya. Maka berbahagialah pencinta film nasional, karena sang legenda akan tetap hidup. Meskipun sayangnya, kita hanya bisa melihatnya lewat layar.

Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, semasa hidupnya Suzanna nggak cuma membintangi film horor. Nggak kebayang? Kenyataannya ia memang pernah berperan di film drama dan bahkan musikal.

Lalu apa saja film-film bergenre non-horor yang pernah dibintanginya? Dan kenapa ia mendapat julukan ratu film horor Indonesia?

Bermula dari film musikal

via youtube.com/khaky

Karier Suzanna sebagai aktor ternyata bukan berawal dari film horor. Film pertama yang melambungkan namanya adalah Asrama Dara (1958), drama musikal karya sutradara Usmar Ismail. Dalam film ini Suzanna berperan sebagai gadis remaja yang dititipkan ke asrama, karena kedua orangtuanya terlalu sibuk berkecimpung di dunia politik.

Dan kala bermain di Asrama Dara, Suzanna baru berumur 16 tahun. Peran Suzanna dalam film yang juga dibintangi aktor senior Aminah Cendrakasih tersebut berbuah penghargaan. Suzanna diganjar piala The Best Child Actress Asian Film Festival di Tokyo pada tahun 1960.

Setelah mendapat penghargaan tersebut, Suzanna banyak berkiprah di film bergenre drama. Beberapa di antaranya adalah Mira (1961), Antara Timur dan Barat (1963), dan Segenggam Tanah Perbatasan (1965). Namun film drama nggak mampu membawanya ke puncak popularitas sebagai aktor.


Barulah ketika Suzanna beralih pada genre horor mistik (Bernapas dalam Lumpur di tahun 1970) dan (Beranak dalam Kubur di tahun 1971), kariernya sebagai aktor mulai melejit. Bahkan banyak pengamat sepakat bahwa kedua film tersebut adalah karya masterpiece yang dibintangi Suzanna.

via wikipedia.org

Ratu horor pun terlahir

via pelantar

Pada film horor masa kini, kemunculan hantu di film horor sebagian besarnya difungsikan untuk menakuti tokoh utama dalam film tersebut. Dan pada akhirnya selalu terjadi pertarungan antara hantu melawan manusia.

Tapi agak sedikit berbeda dengan film horornya Suzanna. Ia lebih banyak berperan jadi hantu sekaligus manusia.

Misalnya ketika ia bermain dalam Sundel Bolong (1981). Ia berperan sebagai Alisa, gadis cantik jelita yang digagahi dan akhirnya bunuh diri. Lalu arwah Alisa gentayangan dalam bentuk sundel bolong dan menjadi Shinta ketika ia berwujud manusia. Ia membunuh laki-laki yang menggoda dirinya dalam wujud Shinta sebagai upaya balas dendam.

Hebatnya, ketiga peran ini (Alisa-Shinta-sundel bolong) dilakoni langsung oleh Suzanna dengan sangat apik.

Dalam film Suzanna yang lain seperti Nyi Blorong (1982), ia memerankan sosok Nyi Blorong yang merupakan anak dari Nyi Roro Kidul. Nyi Blorong sendiri adalah sosok mitologi penguasa laut Jawa selatan yang digambarkan bertubuh setengah manusia setengah ular. Pastinya untuk mendalami peran sebagai Nyi Blorong adalah hal yang nggak mudah.

Tapi Suzanna memang aktor yang selalu memberikan totalitasnya di seni peran. Kabarnya properti yang diletakkan di atas kepala Suzanna adalah ular asli. Nggak heran ketika menonton aksinya di film itu, banyak penonton yang dibuat ngeri hanya dengan melihat ekspresi muka Suzanna dengan ular-ularnya.

via wikipedia

Karakter Nyi Blorong yang lekat dengan nama Suzanna masih berlanjut dalam film-film selanjutnya. Sebut saja Perkawinan Nyi Blorong (1983), Bangunnya Nyi Roro Kidul (1985), dan Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986).

Dari peran-perannya yang menantang di film horor itulah Suzanna akhirnya dijuluki sebagai ratu horor Indonesia. Menurut saya, bahkan sampai saat ini belum ada aktor yang sepadan untuk mengkudeta posisi Suzanna sebagai ratu horor.

Kalau hanya dihitung dari jumlah film horor yang dimainkan, mungkin Dewi Perssik, Prilly Latuconsina, Luna Maya atau Shandy Aulia bisa menjadi penerusnya. Tapi jika diukur dari kadar keseraman dan aura yang dipancarkan, keempat aktor tersebut masih butuh jam terbang untuk menjadi penerus Suzanna.

Berbuah dua kali nomine FFI

Peran-peran yang dilakoni Suzanna nggak hanya mengantarkannya ke puncak popularitas. Ia juga berhasil masuk nominasi ajang penghargaaan film tertinggi tanah air, Festival Film Indonesia (FFI), sebanyak dua kali.

Kali pertama ia masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI 1979 lewat film Pulau Cinta.

via flickr.com

Namun di kategori penghargaan ini, ia harus bersaing dengan aktor sekaliber Yenny Rachman dan Tutie Kirana. Meskipun pada akhirnya piala harus jatuh ke pelukan Christine Hakim yang menampilkan akting menawan di film Pengemis dan Tukang Becak.

Selang beberapa tahun, Suzanna kembali masuk nominasi yang sama di ajang FFI 1982 berkat aktingnya di Ratu Ilmu Hitam. Tapi lagi-lagi ia harus bersaing dengan Yenny Rachman yang ternyata membawa pulang piala citra lewat Gadis Marathon.

Berpasangan dengan aktor ganteng

Ada fakta lain yang tak kalah menariknya dari film Suzanna. Di film yang dibintanginya, Suzanna kerap kali mendapat lawan main aktor ganteng yang juga punya kualitas akting mumpuni.

Di dua film yang dianggap film terbaiknya, Suzanna dipasangkan dengan Dicky Suprapto yang juga merupakan suami aslinya. Nggak hanya di dua film itu, ia dan suaminya melanjutkan duet mereka di film Napsu Gila (1973), Bumi Makin Panas (1973), dan Tante Girang (1974).

Selain Dicky Suprapto, Suzanna juga kerap kali beradu akting dengan bintang muda Clift Sangra. Ya, waktu itu Clift Sangra memang masih muda.

Pertemuan pertama Suzanna dengan Clift terjadi di film Sangkuriang (1982). Namun siapa sangka, kolaborasi mereka dalam film membawa kedua aktor tersebut ke jenjang pernikahan setahun setelahnya. Saat itu usia Clift baru 18 tahun dan jauh lebih muda dibanding Suzanna.

via flickr.com

Aktor lain yang juga pernah menghiasi film Suzanna adalah Barry Prima. Aktor yang satu ini memang dikenal sebagai aktor laga yang sangat sukses pada masanya. Jika seseorang pengin menyombongkan tampangnya, pasti ia bakal bilang dirinya mirip dengan Barry Prima.

Kerjasama antara Suzanna-Barry Prima bisa kamu lihat dalam film Sundel Bolong (1981), Nyi Ageng Ratu Pemikat (1983), dan Ratu Sakti Calon Arang (1985).

Film terakhir Suzanna

Suzanna sudah tak aktif bermain film sejak 1992. Namun sebelum ia meninggal pada Oktober 2008, ia berhasil menyelesaikan film terakhirnya: Hantu Ambulance. Di film yang disutradarai oleh Koya Pagayo itu, Suzanna berkesempatan beradu akting dengan aktor muda Dimas Andrean dan Ratna Galih.

Begitulah sepak terjang seorang Suzanna sang legenda horor tanah air. Kiprahnya di perfilman nasional sudah cukup banyak menginspirasi para seniman lain dan juga memberi warna bagi masyarakat. Sampai kapan pun, film-film Suzanna akan tetap jadi kenangan manis bagi para pencintanya.

Komentar:

Komentar