5 Contoh Film ‘Low-Budget’ yang Nggak Cuma Berkualitas Tinggi, tapi Juga Sukses Besar

Banyak jalan menuju Roma

:

Di artikel terdahulu saya pernah membahas film berbujet besar yang merugi, kali ini saya bakal membahas kebalikannya. Yup, ini adalah artikel yang membahas tentang film berbujet kecil tapi sukses dari sisi pemasukan dan respons publik.

Produksi film sendiri memang nggak melulu berorientasi pada modal dan keuntungan raksasa (tapi itu juga tergantung siapa dulu produsernya sih). Banyak kok sineas yang bermodal pas-pasan malah nekat untuk membuat film. Meskipun bujet produksinya minim, hal itu nggak serta-merta bikin kualitas filmnya jadi murahan. Contohnya 5 film low-budget ini yang bahkan bisa sampai melambungkan nama sutradaranya.

Kamu yang mau berkecimpung di dunia film mungkin bisa dapat inspirasi dari kesuksesan mereka. Siapa tahu, ‘kan?

1. Monster (2010)

via moviefone.com

Andai saja Gareth Edward pada saat itu malas buat mengirim ide cerita ke Vertigo Films, kayaknya sekarang dia nggak bakal mendapat kesempatan untuk menggarap salah satu film dari franchise favoritnya, Star Wars.

Keberuntungan yang didapatnya nggak datang begitu saja. Berbekal dana sebesar £15 ribu (sekitar Rp284 juta) dan enam orang kru, Edward mempertaruhkan debutnya untuk membuat Monster, film yang bercerita tentang perjalanan wartawan dan turis Amerika dalam melewati perbatasan Meksiko yang diserang alien.

Untuk sekelas film bertema monster, modal £15 ribu memang jauh di bawah rata-rata. Bahkan jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan biaya produksi Godzilla versi tahun 1998 yang mencapai $130 juta (Rp1,8 triliun).

Tapi kendala yang dihadapi Edward nggak lantas bikin dia menyerah. Buktinya, film yang mengambil setting di lima negara dan menggunakan tempat syuting tanpa izin ini berhasil meraih keuntungan sebesar $4,2 juta (Rp60 miliar).


2. El Mariachi (1992)

via californiaherps.com

Siapa yang menyangka kalau seorang filmmaker berusia 23 tahun mampu meraih sukses di kancah Hollywood hanya dengan berbekal film berbujet sekitar $7000 (Rp100 juta)?

Padahal saat itu, film yang menjadi inspirasi terciptanya Desperado ini terkendala banyak hambatan: mulai dari kurangnya ketersedian alat dan prop yang digunakan, hingga sedikitnya jumlah kru. Robert Rodriguez pun harus merangkap beberapa posisi sekaligus: sutradara, editor, director of photography, komposer, desain produksi, supervisor efek visual, dan editor suara.

Alih-alih mengalami kesulitan, Rodriguez justru nggak pernah hilang akal. Sebagai contoh saja, untuk mengatasi kurangnya jumlah kru, Rodriguez biasanya meminta bantuan aktor untuk mengoperasikan alat yang digunakan selama proses syuting berlangsung.

Melihat kecintaan serta caranya yang unik dalam pembuatan film, saya bisa bilang kalau Rodriguez pantas jadi inspirasi bagi banyak sineas muda untuk coba mulai membuat film tanpa harus dibuat terlalu pusing dengan keterbatasan yang dimiliki.

3. Following (1998)

via nerdophiles.com

Saat ini Christopher Nolan mungkin lebih dikenal sebagai sutradara di balik kesuksesan film seperti Dark Knight, Interstellar, Inception, dan The Prestige. Tapi dia juga pernah menggarap film berbujet minim, salah satunya adalah Following, film yang sekaligus jadi debut penyutradaraan Nolan.

Hanya berbekal $6000 (Rp86 juta), produksi film ini mau nggak mau harus dilakukan secara cermat. Demi menghemat penggunaan stok film, para aktor harus memaksimalkan setiap latihan adegan. Selain itu Nolan juga memanfaatkan penggunaan lampu seadanya untuk pencahayaan film.

4. Primer (2004)

via medialifecrisis.com

Buat kamu yang menyukai film dengan tema fiksi ilmiah, saya sarankan coba tonton film arahan dari Shane Carruth yang sukses meraih penghargaan di Festival Film Sundance 2004 ini deh. Film ini menceritakan tentang dua orang ilmuwan yang menemukan konsep mesin waktu dengan menggunakan “box”.

Kedengarannya memang cukup sederhana, tapi saya jamin otak kamu nggak bakal berhenti berpikir ketika menonton film ini. Film ini memang mengandalkan struktur plot yang kompleks dan dialog yang berbau hal teknis; dua hal yang bisa menjadi bumerang andaikan nggak dibalut dengan apik.

Kalau soal anggaran, film ini hanya punya bujet produksi sekitar $7000 (Rp100 juta).

5. The Texas Chainsaw Massacre (1974)

via spin.com

Sebelum Paranormal Activity menjadi film horor tersukses dengan biaya produksi paling minim, The Texas Chainsaw Massacre sudah lebih dulu menorehkan prestasi tersebut. Dengan biaya produksi yang hanya berkisar $80 ribu (Rp1,15 milliar), film yang menampilkan sosok Leatherface ini memang menjadi tonggak awal dari kesuksesan sutradara Tobbe Hopper.

Hopper mempunyai cara unik untuk menyiasati minimnya bujet yang dia punya. Ya, andalkan saja aktor kurang terkenal. Meskipun begitu, nggak ada pihak yang merendahkan hasil akhir dari film ini.

Kesuksesan film ini juga bisa dilihat dari jumlah pemasukan yang diperoleh dari penjualan tiket yang mencapai $30,9 juta (Rp445 milliar). Menimbang keberhasilan Texas Chainsaw Massacre, rasanya layak bagi Hopper untuk menerima tawaran menggarap film yang lebih punya prestise seperti Poltergeist di tahun 1982.

Apa kamu tertarik membuat film setelah mengetahui pengalaman kelima sutradara di atas? Seperti yang dibilang jargon salah satu merek sepatu dari Jerman: impossible is nothing. Coba saja dulu. Kalau gagal… ya anggap saja kesuksesan yang tertunda.

Kalau gagal terus-terusan? Ya tinggal nyerah aja. Toh masih banyak pekerjaan lain di luar sana. Hehehe, just kidding, duude!

Komentar:

Komentar