Film Distopia: Dunia Suram dengan Isu Sosial yang Mulai Membosankan

Era keemasan film distopia yang sudah memudar, apa bisa bersinar lagi?

:

Aah, distopia… suatu latar dunia yang sampai saat ini sering diangkat dalam film. Gambaran dunia masa depan yang digambarkan berantakan dan kacau balau dalam film distopia membuat saya sering bertanya sendiri: apakah masa depan akan berakhir sebegitu muram?

Dunia distopia sendiri bukanlah satu hal baru dalam dunia perfilman. Jauh sebelum generasi millennial disuguhi franchise The Hunger Games dan kawan-kawannya, tema distopia sempat beberapa kali dipakai dalam film (1984, misalnya). Sebagian film distopia memang menghasilkan reaksi positif dari penonton, bahkan Selipan pun pernah membahas sisi menarik dari film distopia. Tapi karena perkembangan waktu, beberapa poin dalam artikel tersebut sudah nggak relevan lagi. Ya, berbeda dengan dulu, di masa sekarang film bertema distopia – atau film distopia dengan karakter remaja lebih tepatnya – sudah mulai terasa membosankan.

Alasannya? Well, sebelum itu baiknya kita bahas sedikit tentang film distopia.

Dunia masa depan yang suram

Kebanyakan film dengan latar distopia lebih mengedepankan sisi suram, meski tetap mengedepankan esensi futuristik. Sebut saja Death Race (2008), Mad Max: Fury Road (2015), Blade Runner 2049 (2017), hingga ke trilogi reboot Planet Apes; Rise of The Planet of The Apes (2011), Dawn of The Planet of The Apes (2014), dan War for The Planet of The Apes (2017). Semua film itu menggambarkan kalau dunia masa depan tampil gelap dan berada di ambang kehancuran.

Dengan kata lain, film-film itu menggambarkan kondisi dunia yang nggak terbayangkan oleh kita saat ini. Film dengan latar distopia macam itu memang pernah berjaya. Mad Max: Fury Road bahkan bisa masuk nominasi Oscar dan Golden Globe untuk kategori film terbaik.

Mad Max: Fury Road/via medium.com

Konsep dunia distopia sebagai sindiran sosial

Berawal ketika The Hunger Games (2012) dirilis, satu pakem baru tentang dunia distopia seolah hadir dalam geliat perfilman Hollywood. Pakem atau formula tersebut jadi semacam analogi sindiran sosial terhadap tatanan kehidupan masyarakat saat ini. Dan ibarat primadona baru, formula yang ditawarkan dalam The Hunger Games akhirnya diikuti oleh beberapa film sejenis. Sistem pengkotakan manusia misalnya, jadi salah satu landasan dasar yang rutin diangkat di dalam film-film distopia.

Lewat seri film The Hunger Games, penonton disuguhkan konsep pengkotakan berdasarkan wilayah distrik yang terbagi hingga tiga belas. Konsep seperti ini kemudian diikuti oleh franchise Divergent yang membagi kelompok masyarakat ke dalam beberapa faksi seperti Abnegation, Amity, Candor, Dauntless, Erudite, dan termasuk juga kelompok tanpa faksi bernama Factionless.


Konsep dasar ini seperti menyindir kehidupan sosial masyarakat umum yang selalu membandingkan kelompok manusia berdasarkan ras, warna kulit, status sosial, dan kelas.

Adegan pemilihan faksi dalam Divergent/via youtube.com

Konsep tersebut terus dilanjutkan oleh film-film distopia yang selanjutnya dirilis, sampai muncullah The Maze Runner. Perilisan film tersebut seolah memberikan angin segar bagi film bertema distopia. Dalam The Maze Runner dikisahkan ada satu kelompok yang menjadi bahan percobaan untuk obat karena adanya penyakit berbahaya. Lebih jauh lagi, kelompok yang didominasi oleh para remaja itu berontak melawan satu sistem superior yang sudah lama terjadi di antara mereka.

Lihat nggak kemiripan antara The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner?

Seperti yang bisa lihat, The Hunger Games menghasilkan sosok Katniss (Jennifer Lawrence), Divergent menghasilkan Beatrice ‘Tris’ Prior (Shailene Woodley), dan The Maze Runner menghasilkan Thomas (Dylan O’Brien) sebagai tokoh utama yang juga menjadi simbol dari pemberontakan.

Katniss sendiri diceritakan memberontak melawan President Snow (Donald Sutherland), Tris melawan Jeanine (Kate Winslet), dan Thomas harus melawan Ava (Patricia Clarkson). Ketiga sosok Snow-Jeanine-Ava ini juga bisa dibilang sebagai analogi dari sosok seorang pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan abai terhadap masyarakat.

Sosok Katniss, Tris, dan Thomas sebagai tokoh utama/via yle.fi

Meski sedikit berbeda, tapi yah… nyatanya The Maze Runner pun memiliki elemen yang serupa dengan The Hunger Games dan Divergent. Pada akhirnya The Maze Runner hanya bisa memberikan sedikit angin segar.

Sudah terlanjur membosankan

Konsep distopia tersebut memang terlihat menarik, selain bisa mengingatkan kita untuk berlaku lebih bijak dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Tapi kalau terus menerus diproduksi tiap tahun, ya jadinya malah berakhir membosankan juga.

Gimana nggak membosankan kalau premis dan eksekusinya mirip: mengisahkan satu pemerintahan jahat, tokoh utama yang memberontak, tokoh utama yang memiliki beberapa ‘pendukung’ di tengah pemberontakannya, tokoh utama beserta kelompok kecil yang kabur dari tirani pemerintah, mereka menyusun rencana dan secara nggak sengaja ketemu kelompok lain yang ikut membantu, diselingi kisah cinta sang tokoh utama sebagai bumbu drama tersendiri, kembali ke pemerintahan, ditangkap (entah murni kelalaian karakter sebagai dramatisasi atau ada pengkhianat), sang pemimpin mengungkapkan gagasan-gagasan ‘bijaknya’, sang pemimpin berhasil dikalahkan, satu kehidupan baru dimulai.

Jangan lupakan juga fakta jika kisah-kisah tersebut minimal hadir dalam bentuk trilogi, entah bermaksud eksplorasi atau sengaja mengulur cerita demi mengeruk keuntungan semata. The Hunger Games bahkan membagi kisah final dalam Mockingjay ke dalam dua bagian. Konsep serupa diikuti oleh Ascending sebagai bagian terakhir dari Divergent, yang sayangnya malah mandeg karena Allegiant (2016) dapat respons negatif saat dirilis.

via dailydot.com

Ya, suatu hal yang terus dieksploitasi akhirnya malah menimbulkan efek bosan bagi penontonnya. Produser pun mungkin mau nggak mau harus ikut menangguhkan film-film distopia ke depannya terkait permintaan pasar yang sudah menurun.

Melihat fakta lain jika film-film tersebut diadaptasi dari novel, mungkin produser awalnya berasumsi bahwa film adaptasinya akan sukses karena novelnya punya basis penggemar fanatiknya. Tapi dengan penyesuaian visualisasi yang terkadang melenceng dari gambaran yang ada di novelnya, hal tersebut malah bisa berubah jadi bumerang tersendiri.

The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner seenggaknya bisa lebih beruntung karena berhasil menjelma jadi franchise. Beda nasibnya dibanding The Giver (2014) yang hasil akhirnya kurang disukai kritikus. Nasib adaptasi lanjutannya pun jadi nggak jelas, terlepas dari fakta kalau film itu ikut dibintangi aktor sekaliber Meryl Streep.

Tapi jika nanti ada film distopia yang bisa menggebrak dengan konsep yang lebih unik, bukan nggak dunia distopia akan kembali mendapatkan tempat tersendiri bagi penikmat film. Menurut kamu gimana?

Komentar:

Komentar