Kenapa Banyak Film Indonesia yang Judulnya Berbahasa Asing? Jaminan Laku?

Keren atau norak? Penilaiannya diserahkan ke kamu saja deh

:

“Di usia segini saya masih sering nonton film ke bioskop. Tapi terkadang saya sering melewatkan banyak film Indonesia secara nggak sengaja, karena judulnya pakai bahasa Inggris. Saya kira itu film luar, padahal film Indonesia.”

Begitu komentar aktor senior Ade Irawan ketika ditanya mengenai film Indonesia yang menggunakan judul bahasa asing. Aktor yang sudah bermain lebih dari 120 film ini lebih lanjut bilang bahwa judul adalah gerbang utama bagi penonton untuk memutuskan menonton suatu film.

Lebih dari itu, bahasa juga menjadi pembeda utama antara film Indonesia dengan film luar. Judul yang berbahasa Indonesia tentu akan mempermudah penonton mengenali bahwa karya yang dilihatnya adalah film Indonesia.

Lalu apakah film Indonesia yang judulnya berbahasa asing itu memang sebegitu banyak jumlahnya? Dan bagaimana pula perkembangan fenomena ini dari tahun ke tahun?

Bermula dari film produksi Starvision

Bahkan film ini berlanjut hingga jadi trilogi/via Starvision

Starvision adalah rumah produksi yang paling rajin menelurkan karya setiap tahunnya. Di antara film-film mereka, terdapatlah nama The Soul, film Starvision pertama yang memakai judul bahasa asing. Meskipun saat rilis tahun 2003, film yang dibintangi Marcella Zalianty ini nggak terlalu direspons baik oleh pasar.

Setahun setelahnya, Starvision masih memproduksi film dengan judul bahasa asing, Virgin (Ketika Keperawanan Dipertanyakan). Berbeda dengan The Soul, Virgin membuat Starvision menuai sukses baik dari sisi komersial maupun penghargaan.

Pascakesuksesan Virgin, Starvision di bawah komando Chand Parwez Servia menjadi rutin membuat film berjudul bahasa asing. Sebut saja Me vs High Heels (2005), Missing (2005), Heart (2006), Miracle (2007), Love is Cinta (2007), Get Married (2007), dan XL: Extra Large (2008).


Dan menariknya sebagian besar dari film tersebut laris di pasaran. Hal ini juga yang mungkin membuat Starvision sampai saat ini masih percaya diri membuat film dengan judul bahasa asing, sekalipun kontennya kental dengan budaya lokal.

Diangkat dari novel populer

Berlanjut ke sekuelnya yang tayang di tahun 2018/via Soraya Intercine Films

Kalau kita memperhatikan judul-judul film dengan bahasa asing, sebagian besar dari mereka merupakan adaptasi dari novel/buku yang judul aslinya sudah menggunakan bahasa asing.

Pertama kalinya novel remaja populer yang diangkat ke film adalah Eiffel I’m in Love karya Rachmania Arunita. Novel ini dialihwahanakan oleh Soraya Intercine Films pada 2003 dan berhasil melambungkan nama Samuel Rizal dan Shandy Aulia.

Karier Rachmania Arunita sebagai penulis novel nggak berhenti sampai di situ. Dan masih ada karya lainnya yang diangkat ke film, semisal Lost in Love yang diproduksi pada 2008.

Namun Selama kurun waktu 2000-2012, film yang diadaptasi dari novel populer berjudul bahasa asing nggak terlalu banyak. Itu bisa jadi karena novel populer yang judulnya memakai Bahasa Indonesia pun banyak yang difilmkan dan diminati pula oleh penonton.

Situasi mulai berubah lagi setelah banyak munculnya penulis muda seperti Wina Effendi. Sampai saat ini, tercatat ada tiga karya Wina yang telah difilmkan. Mereka adalah Refrain (2013), Remember When (2014), dan Melbourne Rewind (2016). Yup, semua judulnya berbahasa asing.

Selain Wina, ada juga Ilana Tan yang menghiasi layar lebar lewat Sunshine Becomes You (2015) dan Winter in Tokyo (2016). Beberapa nama lainnya adalah Iwan Setiawan (9 Summers 10 Autumns, 2013), Dwitasari (Spy in Love, 2016), Asma Nadia (Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, 2016), Rons Imawan (The Fabulous Udin, 2016), dan Ika Natassa (Critical Eleven, 2017).

via Gramedia & Starvision

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, sumber materi film nggak melulu berasal dari novel populer. Sebuah situs buatan Kanada yang mempertemukan penulis dan pembacanya pun bisa jadi rujukan. Coba, hari gini siapa yang nggak kenal Wattpad?

Dengan dimulainya era Wattpad, produser pun seakan menemukan lahan baru untuk jadi materi filmnya. Yang perlu diperhatikan di era ini adalah nggak semua cerita Wattpad itu dibuat novelnya dahulu baru difilmkan. Ada juga yang difilmkan dulu, baru dibuat novelnya belakangan.

Beberapa film Indonesia berjudul bahasa asing yang diadaptasi dari Wattpad adalah Dear Nathan (Erisca Febriani, 2017), The Perfect Husband (Indah Riyana, 2018), dan Matt and Mou (Wulan Fadi, 2019). Dan kabarnya beberapa cerita Wattpad lainnya akan diadaptasi ke layar lebar tahun ini. Seperti Resign, FriendZone: Lempar Kode Sembunyi Hati, She’s The Boss, dan Invalidite: The Bridge of Perfection.

Pertama kalinya menang di Festival Film Indonesia

Padahal lebih asyik kalau judulnya adalah Bis Malam/via Kaninga Pictures

Maraknya penggunaan judul bahasa asing pada film berimbas juga pada penghargaan tertinggi perfilman tanah air, Festival Film Indonesia. Pada tahun 2017, juri FFI pertama kalinya memenangkan film berjudul bahasa asing di antara empat pesaingnya yang berjudul Bahasa Indonesia. Night Bus melenggang mulus sebagai pemenang, menyingkirkan Cek Toko Sebelah, Kartini, Pengabdi Setan, dan Posesif.

Di tahun yang sama, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan & Kebudayaan mengkritik film Indonesia yang cenderung memakai bahasa asing dengan alasan untuk menarik minat penonton. Menurut Dadang Sunendar Kepala Badan Bahasa Kemendikbud RI di sebuah kesempatan, terdapat 41% film Indonesia di tahun 2017 yang menggunakan judul bahasa asing, padahal dialognya pakai bahasa Indonesia.

Menurut Dadang hal ini adalah persoalan serius. Karena jika kita tidak bangga dengan bahasa milik sendiri, semakin lama bahasa kita akan terkikis dan masyarakat akan lebih senang dengan bahasa asing.

Senada dengan Dadang, penulis novel terkenal, Eddy D. Iskandar, pun berpendapat akan hal ini. Beberapa kali Eddy menuliskan keresahannya di Facebook pribadinya.

Ditemui di Markas FFB di Jalan Zamrud 21, Buah Batu, Bandung, Eddy menegaskan bahwa film Indonesia dengan judul bahasa asing bisa jadi bentuk ketidakpercayaan diri para pembuatnya dan hanya mementingkan bisnis semata.

Keresahan sang penulis Gita Cita dari SMA terhadap fenomena film Indonesia yang berjudul bahasa asing/via facebook.com/Eddy D Iskandar

Apakah judul bahasa asing itu jaminan laris?

Menarik minat penonton kerap kali dijadikan alasan untuk membuat karya dengan judul bahasa asing. Apakah penikmat karya saat ini memang adanya demikian? Mari kita bicara fakta!

Dari 15 Film Indonesia terlaris 2018, hanya ada tiga yang judulnya menggunakan komponen bahasa asing: Si Doel the Movie, A Man Called Ahok, dan Eiffel I’m in Love 2.

Sementara di tahun sebelumnya, jumlahnya memang lebih banyak. Tercatat ada tujuh dari 15 film terlaris: Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss part 1, Danur I Can See Ghost, The Doll 2, Surat Cinta untuk Starla the Movie, Sweet 20, Critical Eleven, dan London Love Story 2.

Selama dua tahun tersebut, ternyata jumlah film Indonesia berjudul bahasa asing yang ada di deretan terlaris nggak sampai 50%. Kalau diperhatikan lebih lanjut, sebagian besar dari film terlaris yang disebutkan di atas sudah punya kekuatan dari materi aslinya. Kebanyakan film tersebut diadaptasi dari karya lain.

Jadi apakah film berbahasa asing adalah jaminan laris?

via Starvision

Kita simak fakta lainnya. Film pemenang FFI 2017, Night Bus bahkan termasuk film yang sepi penonton. Ketika tayang reguler di bioskop jumlah penontonnya nggak sampai 50 ribu. Atau ada juga film yang diproduksi oleh Starvision, Shy Shy Cat (2016). Film yang penuh dengan konten lokal tapi berjudul bahasa asing ini juga sepi penonton.

Beberapa film berjudul bahasa asing lainnya yang juga sepi dari penonton adalah The Origin of Santet, Kasinem is Coming, Love Reborn, Moonrise Over Egypt, Love for Sale, Get Lost, Forever Holiday in Bali, The Gift, After School Horror 2, My Generation, My Stupid Boyfriend, Hantu Jeruk Purut Reborn, Perfect Dream, Mooncake Story, Trinity: The Nekad Traveler, Remember the Flavor, The Chocolate Chance, The Promise, dan The Last Barongsai.

Semua film yang saya sebutkan adalah film Indonesia yang tayang pada 2017 & 2018.

Jadi, jika film yang berjudul Bahasa Indonesia dan bahasa asing punya peluang yang sama untuk menjadi laris atau nggak laris, kenapa nggak pakai Bahasa Indonesia saja? Setidaknya dengan menggunakan bahasa sendiri, kita ikut melestarikan salah satu identitas bangsa.

Komentar:

Komentar