Dua Garis Biru: Film yang Nggak Cuma Berisi Pendidikan Seks, tapi Juga Kritik Pedas buat Softboy

Kritikannya ladaaaaa...!

:

Sebut saja namanya Helianthus Annuus (nama latin untuk bunga matahari). Saya memakai nama Helianthus Annuus sebagai nama samaran untuk teman saya yang pernah curhat tentang pengalamannya saat menggunakan Tinder. Itu lho, aplikasi kencan buat cari jodoh. Pasti kamu pernah lah iseng-iseng pakai Tinder pas lagi jomblo bosan.

Singkat cerita, Helianthus Annuus sempat match sama beberapa cowok di Tinder. Menurut Helianthus Annuus, cowok-cowok itu “Baeeeeek banget sama aku.” Tutur bahasa mereka halus dan sopan kayak bangsawan feodal zaman dulu. Setelan pakaian mereka pun nggak norak, agak-agak mirip lah sama setelan boyband dari Korea.

“Jujur aja,” kata Helianthus Annuus, “Aku udah terlanjut nyaman ngobrol sama cowok-cowok itu.”

Berawal dari perkenalan, hubungan mereka pun berlanjut jadi ketemuan. Helianthus Annuus bahkan udah beberapa kali ketemuan sama mereka. Tapi ternyata, setelah dijalani beberapa waktu sebagai proses kurasi, hampir semua cowok itu ujung-ujungnya minta berhubungan badan. Hadeeeh, klasik benar ya modus operandinya.

Cowok-cowok yang kayak gitu, yang jago ngomong dan ujung-ujungnya ngajak cewek tidur, di zaman now ini sering disebut softboy. Cara kerja dari softboy biasanya melibatkan cara yang lebih halus dibanding cowok-cowok lain pada umumnya. Kata-kata manis nan puitis, dandanan indie ala Boy Pablo, sampai playlist lagu keren di akun Spotify biasanya jadi amunisi wajib buat para softboy untuk meluluhkan hati para wanita.

Ada yang cocok sama kamu nggak ciri-cirinya?/via zula.sg

Untuk urusan percakapan, mereka sering memanfaatkan topik yang unik dan mendalam buat memulai suatu percakapan. Tujuannya apalagi kalau bukan mengikat emosi para cewek. Makanya  cewek seringkali sulit mendeteksi tujuan tersembunyi dari softboy.

Tapi menurut banyak cerita yang saya dengar, softboy nggak akan mau untuk berkomitmen. Kalau mereka udah mendapatkan apa yang dimau dari cewek, mereka belum tentu mau berkomitmen untuk hubungan yang lebih serius. Uniknya, mereka nggak akan pergi begitu aja setelah memutuskan hubungan dengan cewek. Mereka bakal tetap intens kontakan sama cewek, tanpa mau repot-repot memberikan kejelasan hubungan.


Intinya, softboy itu termasuk tipe cowok bedebah.

Dan yang nggak saya sangka-sangka, ternyata saya juga menemukan kritik yang tajam untuk cowok softboy di dalam film Indonesia yang harus saya akui, keren banget. Film itu bernama Dua Garis Biru.

Problematika tentang nafsu dan tanggung jawab dalam Dua Garis Biru

Saya nggak merasa diri saya sebagai orang suci. Di artikel ini pun saya nggak bermaksud untuk berceramah soal seks bebas. Sebaliknya juga, saya nggak punya niatan sedikit pun untuk menghimbau kamu melakukan hubungan di luar nikah. Di sini saya cuma mau mengajak kamu untuk melihat kenyataan. Karena realitasnya, hubungan di luar nikah udah jadi sesuatu hal yang jamak dilakukan di zaman sekarang. Hanya saja, di Indonesia praktik seperti itu cenderung masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Neng, abah sama emak lagi nggak ada di rumah. Kita uhuy-uhuy yuk”/Starvision Plus

Tapi ada satu hal yang lebih penting dari urusan hubungan bebas. Dan hal penting itu adalah rasa tanggung jawab saat menjalani suatu hubungan. Hal itulah yang saya dapat dari Dua Garis Biru, terutamanya dari karakter Bima.

Bima memang melakukan kesalahan dengan menghamili Dara. Tapi sebagai cowok yang bertanggung jawab, dia terus mendampingi Dara yang hamil di luar nikah. Memang, di titik tertentu, terbesit di pikiran Bima untuk meninggalkan Dara karena dia merasa belum siap untuk menjadi ayah sekaligus suami. Tapi rasa sayangnya pada Dara, dan tanggung jawabnya setelah menghamili anak orang, pada akhirnya membuat dia bertahan di samping Dara.

Dan itulah, kawan, yang bikin saya bersimpati pada Bima. Kita semua tahu, nggak semua orang yang ada di posisi Bima berani mengambil keputusan yang sama dengannya. Mengambil tanggung jawab atas perbuatan yang salah itu bukan sesuatu yang gampang buat dilakukan. Dan saya yakin, dengan karakteristik mereka, para softboy di dunia nyata belum tentu bisa mengekor apa yang dilakukan Bima.

Tapi justru di sinilah pentingnya kehadiran film seperti Dua Garis Biru. Film ini nggak berceramah secara membosankan, melainkan mengambil metode storytelling dan simbolisme yang menggambarkan dinamika hubungan antara laki-laki dan perempuan — suatu hubungan yang tentu saja melibatkan nafsu di dalamnya. Dengan kata lain, mereka melakukan apa yang sulit untuk dilakukan oleh video atau pelajaran tentang pendidikan seks.

“Neng, abang punya gimbot baru. Mau uhuy-uhuy atau main gimbot?”/Starvision Plus

Kita perlu mendapat lebih banyak lagi film seperti Dua Garis Biru. Bukan berarti kita perlu film dengan topik seks bebas dan pendidikan seks, tapi kita perlu film dengan pesan yang kuat di dalamnya, tanpa terlihat seperti mengajari penontonnya.

Komentar:

Komentar