Daripada Sambat, Mendingan Kamu Pahami Dulu Rasanya Jadi Daenerys yang Membakar King’s Landing

Kita dan Daenerys sama-sama harus banyak beristigfar~

Aksi Daenerys Targaryen di musim 8 episode 5 kali ini sukses bikin para penggemarnya sambat di berbagai media sosial. Yhaaa gimana lagi dong, habisnya Daenerys tega banget sih membakar King’s Landing dan warganya hidup-hidup. Parahnya lagi, King’s Landing dijurus “Dracarys” dalam keadaan udah mengibarkan bendera putih alias menyerah!

Apakah ini memang azab bagi warga King’s Landing yang suka mabuk-mabukan dan berzina? Entahlah, saya nggak berani berasumsi lebih jauh. Tapi, kalau kamu penasaran sama panasnya api neraka, bisa jadi warga King’s Landing-lah yang paling tahu.

Warga King’s Landing be like…/via giphy.com

Sejujurnya, saya pun termasuk dalam warganet yang ikut sambat sana-sini. Habisnya saya benar-benar mengidolakan Daenerys dari musim pertama. Malahan di artikel sebelumnya saya sempat berdoa Westeros bisa ganti ratu. Tapi nggak disangka, semua kekaguman yang udah saya pupuk dari lama harus hilang hanya karena satu episode. Huhft…

Pokoknya buat kamu (dan saya) yang udah berencana menamai anak dengan nama Khaleesi, coba pikir-pikir lagi deh dari sekarang!

Kembali lagi ke inti permasalahan. Keputusan Daenerys buat menghancurkan King’s Landing memang nggak bisa dibenarkan. Tapi…. nggak ada salahnya ‘kan kalau kita coba buat melihat dari sudut pandang Mother of Dragons yang satu ini?

Daenerys mengobrak-abrik King’s Landing sambil mendengarkan dangdut koplo/via twitter.com/@nadaardipradhya

Jadi begini, Saudara-saudara. Menurut pengamatan saya, nasib Daenerys memang cukup sial terutama sejak mendarat di Westeros. Lho, kok sial sih?

Yhaaa seperti yang kita tahu, dari awal jalan hidup Daenerys itu dibuat seolah-olah dia memang ditakdirkan buat menduduki Iron Throne. Eeeh.. giliran udah sampai Westeros, haknya malah disalip sama John Snow, alias Aegon Targaryen, alias pacarnya, alias keponakannya. Lhaaaa kenapa nggak dari dulu aja, Supardi?!

Kalau Daenerys punya akun Twitter, mungkin dia bakal bikin utasan berisi keluhan ke produsernya:

“aM I a j0kE t0 y0u?!? @DavidBenioff @DBWeiss . A thread-”

Selain itu juga, Daenerys sebenarnya udah di-php-in lho dari dulu. Atau lebih tepatnya, kepedean kali ya. Dia berangkat ke Westeros dengan kepercayaan yang kuat kalau di sana masih ada orang-orang yang setia sama keluarganya dan benar-benar menunggu kedatangan Serigala Targaryen terakhir. Tapi begitu mendarat di Dragonstone, ternyata eh ternyata, nggak ada tuh orang yang peduli sama Targaryen.

Sakitnya tuh nggak jauh beda sama falling in love with people we can’t have.

Kalau diibaratkan dengan dunia percintaan sih, mungkin contoh situasinya tuh seperti ini. Kamu udah lama suka sama si IT (alias Iron Throne). Dan teman-temanmu bilang kalau si IT itu juga suka sama kamu. Tapi ladalah, pas kamu coba deketin si IT, Whatsappnya cuma centang biru doang. Sakit tapi nggak berdarah.

Tersenyum di luar, awut-awutan di dalam…/via giphy.com

Terus, kesialan Daenerys nggak berhenti sampai di situ. Anaknya, Marie Rhaegal juga mati konyol ditembak sama pasukan Euron Greyjoy. Saya yang cuma penonton setia aja kaget dan kesal melihat Rhaegal mati sia-sia. Apalagi ibunya!?

Rasanya tuh mirip-mirip sama ilustrasi ini. Kamu udah sabar berdiri selama berjam-jam buat beli sate jando yang hits abis dan antriannya sepanjang gelar Daenerys. Pas sate jando udah di tangan dan kamu lagi jalan buat mencari tempat duduk, eh kamu malah kepeleset dan satenya jatuh ke selokan. Sakit tapi nggak berdarah.

Ditambah lagi, belum beres dia berduka sama kematian Marie Rhaegal, Cersei dengan sok tahunya memenggal kepala Missandei sang interpreter gitu aja. Boleh dibilang, Missandei juga mati sia-sia kayak Marie Rhaegal.

Daenerys pun galau berhari-hari memikirkan Missandei.

“Nanti ngegosip sama siapa dong aku?”

“Nanti yang ngepangin rambut aku siapa dong? Masa si Grey Worm? Dia mah burung aja nggak punya apalagi rambut!”

“Grey Worm pun menangis di balik ketegaran hidupnya pas dengar celotehan Daenerys”/via giphy.com

Jadi begitu, Saudara-saudara, ternyata banyak juga ya kesialan yang dialami oleh Daenerys. Pengin jadi penguasa tapi nggak ada Westerosi yang mengakui dia selain John Snow. Pengin memadu kasih sama pacarnya tapi ternyata pacarnya adalah keponakannya.

Belum lagi kabar mendadak soal John Snow yang ternyata pewaris tahta yang sebenarnya. Ditambah lagi, 2 anaknya mati, 1 penasihatnya mati, dan 1 penasihatnya makar. Gimana nggak stress coba?

Buat saya nih, cerita di musim 8 ini seperti berusaha keras buat menghancurkan Daenerys.

Begitulah kira-kira. Udah kebayang ‘kan rasanya jadi Daenerys? Yap, banyak sakit tapi nggak berdarah.

Jadi, dari semua penderitaan yang Daenerys rasakan, wajar nggak sih kalau dia sampai ngamuk parah di King’s Landing? Oh jelas aja nggak wajar. Kesialannya dalam 4 episode di musim 8 ini tentu nggak bisa dijadikan pembenaran buat keputusan yang udah dia ambil. Biarpun warga King’s Landing doyan minum amer dan berzina, bukan berarti mereka pantas dijadikan pelampisan kemarahan Daenerys lho.

Yang paling pantas buat dibakar hidup-hidup itu harusnya Cersei! Tapi, mungkin karena dulu belum ada teropong kali ya, jadi Daenerys susah buat melacak Cersei ada di mana. Ujungnya malah Cersei dianggurin, sampai akhirnya dia mati ketiban reruntuhan istana.

Di titik ini, saya sih udah nggak peduli lagi siapa yang bakalan duduk di Iron Throne. Toh, Iron Throne-nya juga udah nggak bisa dipake duduk. Wong hancur dibakar apinya Drogon. Yang saya peduli cuma satu hal. Pokoknya, Arya nggak boleh mati. Titik.

- Advertisement -
4 Shares

Komentar:

Komentar