Bukan Laskar Pelangi, Ini 4 Film Indonesia Terbaik Hasil Adaptasi dari Mahakarya Sastra

Kamu sudah nonton filmnya atau baca bukunya?

Waktu saya sekolah dulu, saya termasuk orang yang suka membaca roman-roman jadul (selain buku stensilan tentunya). Bukan, itu bukan karena saya pengin niru-niru Rangga yang selalu kelihatan keren kalau lagi baca buku.

Si Rangga ini baca brosur aja udah kelihatan keren. Dia cuma baca brosur lho, apalagi kalau buku!

Itu karena sebagian besar roman tersebut sering muncul di kurikulum sekolah. Makanya, jangan heran anak-anak sekolah dulu cukup familiar dengan karya-karya sastra yang ditulis sastrawan semisal Merari Siregar, Marah Roesli, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Pati, Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana.

Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa dari karya sastra tersebut dibuat pula versi filmnya. Dan sebagai karya adaptasi, otomatis ada saja pembaca setia novelnya yang membandingkan karya asli dengan hasil adaptasi layar lebarnya. Tapi perlu diketahui bersama, buku dan film adalah medium yang berbeda. Jadi tentu mereka harus dinikmati dengan cara berbeda pula.

Berikut ini nih contoh 4 film Indonesia terbaik yang diadaptasi dari karya sastra. Saya rasa bisa jadi tolak ukur gimana jika karya tulisan dienkranasi ke media audio visual.

1. Atheis (1974)

via wikipedia

Atheis adalah novel karya Achdiat K. Mihardja, sastrawan angkatan 45 asal Jawa Barat. Novel ini kemudian dibuat filmnya pada tahun 1974 oleh Sjuman Djaya.

Pada awal rilisnya, Atheis sempat memicu kontroversi lho. Badan Sensor Film (sekarang LSF) kala itu menyatakan bahwa konten dalam film ini nggak cocok untuk masyarakat Indonesia. Tapi Sjuman Djaya berdalih bahwa konten dari Atheis sudah ada sejak lama dalam novelnya, dan bahkan sering masuk di kurikulum sekolah.

Meski menuai kontroversi, film yang dibintangi Christine Hakim dan almarhum Deddy Sutomo ini berhasil meraih penghargaan Adaptasi Terbaik pada Festival Film Indonesia 1975.

2. Salah Asuhan (1972)

via wikipedia

Salah satu karya sastra terkenal angkatan Balai Pustaka adalah Salah Asuhan yang diterbitkan pada tahun 1928. Salah Asuhan adalah karya sastra terkenal yang berasal dari zaman Balai Pustaka. Coba tanya ke kakek-nenek kamu deh, mungkin mereka pernah baca Salah Asuhan waktu masih puber dulu.

Novel legendaris karya Abdul Moeis ini akhirnya difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1972. Tapi ia sedikit mengubah latar waktu dalam filmnya yang terjadi pada 1970-an. Beda banget sama setting novelnya.

Salah Asuhan bercerita tentang Hanafi (Dicky Zulkarnaen), pemuda yang gagal menempuh studi di Eropa. Kegagalannya itu membawa Hanafi pulang ke kampungnya di Sumatera Barat. Dari sini dimulailah pertentangan antara kebiasaannya di Eropa dengan adat setempat.

Hanafi yang menaruh hati pada wanita keturunan Prancis mendapat penentangan dari orangtuanya. Usut punya usut, Hanafi ternyata sudah dijodohkan dengan wanita lain yang bernama Rapiah. Sedang ayah dari wanita keturunan Prancis itu nggak mau anaknya kawin dengan orang Melayu.

Jika kamu kebetulan lagi menjalin hubungan sama orang keturunan Prancis, saya merekomendasikan Salah Asuhan buat kamu baca/tonton. Meskipun agak sulit membayangkan kamu bakal dijodohkan dengan seseorang bernama Rapiah, seenggaknya kamu bisa dapat pelajaran dari kisahnya Hanafi.

Salah Asuhan juga sempat dibuat sinetronnya pada 2017 oleh MNC Pictures sebanyak 25 episode.

Poster Salah Asuhan versi sinetronnya / via MNC Pictures

3. Sang Penari (2011)

Judulnya memang Sang Penari. Tapi film ini merupakan adaptasi dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala karya Ahmad Tohari.

Sang Penari bercerita tentang pencarian Rasus (Oka Antara) atas cinta lamanya pada Srintil (Prisia Nasution) yang terhalang oleh adat Dukuh Paruh. Di sisi lain, kemampuan menari Srintil yang penuh magis membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng.

Atas akting menawannya, Prisia Nasution berhasil membawa pulang Piala Citra Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2011/via youtube.com

Sang Penari mendapat penghargaan Film Terbaik Festival Film Indonesia 2011 sekaligus menjadi perwakilan Indonesia di ajang Oscar 2012.

via youtube.com

4. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

Dari keempat film yang ada di daftar ini, barangkali Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang mendapat jumlah penonton paling banyak. Lebih dari satu juta penonton menyaksikan karya megah produksi Soraya Intercine Films ini. Bahkan kesuksesannya membuat Soraya menayangkan versi panjangnya dengan durasi 3,5 jam. Wow, itu lebih-lebih dari film India ya.

Film drama romantis karya Sunil Soraya ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Hamka. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sendiri bercerita tentang percintaan antara Zainudin (Herjunot Ali) dan Hayati (Pevita Pearce) yang ditentang oleh adat lokal.

Hayati dengan Uda Aziz yang kacamata hitamnya cool banget/ via youtube.com

Zainuddin hanya seorang melarat yang tak bersuku. Ibunya berdarah Bugis, sedangkan ayahnya berdarah Minang. Oleh sebab itu, ia dianggap nggak memiliki pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau. Beda halnya dengan Hayati yang berstatus perempuan Minang santun keturunan bangsawan.

Atas kerja kerasnya di film ini, Herjunot Ali dan Pevita Pearce diganjar Pemeran Utama Terpuji di Festival Film Bandung 2014.

Paling suka bagian balas dendamnya Zainuddin ke Hayati di akhir film/via Soraya Intercine Films

Sebetulnya masih banyak karya sastra bagus yang belum dialihkan ke media audio visual. Jika produser berkenan, materi dari karya sastra Indonesia yang kental dengan kearifan lokal itu terhitung berlimpah ruah. Yaah, daripada sekadar memfilmkan novel cinta remaja klise ala wattpad ‘kan? Setuju?

19 Shares

Komentar:

Komentar