Arwah Tumbal Nyai: Part Nyai, dan 5 Alasan Logis Kenapa Kamu Harus Nonton Film Horor yang Satu Ini

Tinggalkan logika di rumah, maka kamu akan terhibur menontonnya

Sejak menonton part Arwah, yakni bagian pertama dari trilogi Arwah Tumbal Nyai, sebenarnya saya sudah memutuskan nggak akan menonton dua sekuel lanjutannya: part Nyai dan part Tumbal. Tapi, beberapa hari terakhir ini saya merasa gelisah dan gundah gulana. Rasanya kurang afdol kalau saya cuma nonton bagian pembukanya saja.

Maka dari itu, saya pun memberanikan diri untuk menyaksikan langsung part Nyai.

Dan ternyata Nyai nggak semenjengkelkan Arwah. Nyai tampil dengan sangat menghibur berkat… banyak hal menarik yang bisa ditertawakan. Jadi kalau kamu ragu untuk nonton part Nyai, saya bakal beri kamu 5 alasan untuk menontonnya.

1. Ayu Tingting sedikit lebih baik dari Zaskia Gotix

Untuk urusan pemeranan, Nyai memang unggul tipis dibanding Arwah. Ayu Tingting yang berperan sebagai petugas penyobek tiket bioskop bernama Rosma lebih mampu memberikan nyawa bagi karakternya dibanding Zaskia Gotix di Arwah. Seenggaknya saya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Rosma.

Takut, gelisah, khawatir… saya ikut merasakan itu semua.

2. Mempertahankan kekonyolan cerita

Selain review filmnya, saya juga pernah membahas keanehan Arwah. Bagi yang belum baca, kamu bisa baca dulu di sini.

Dalam artikel tersebut, saya menyebutkan beberapa keanehan cerita yang ditulis oleh Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Jaga Pocong). Keanehan dalam Arwah tersebut mungkin lebih tepat untuk dikatakan sebagai kekonyolan cerita, dan itu masih dipertahankan secara konsisten oleh Aviv dalam Nyai.

Tokoh Aki yang muncul di mana saja dan kapan saja. Lebih tidak jelas dibanding kemunculannya di Arwah/via youtube.com

Contohnya ketika Rosma diceritakan baru pulang dari kerjaannya. Lalu adegan menuntunnya pada sebuah parkiran atau basement. Penonton yang melihat adegan tersebut mungkin bakal mengira Rosma pergi ke parkiran untuk ambil mobil dan buru-buru pulang ke rumah, setelah sebelumnya ia ditakuti-takuti setengah mampus di bioskop.

Sayangnya Rosma hanya bisa mengecek mobil yang ada di parkiran satu per satu, sebelum akhirnya ia sadar bahwa ia nggak punya mobil!

Lalu Rosma digambarkan menaiki jembatan busway, tapi akhirnya ia pulang diantar ojek online. Ya Tuhan, mau pulang kerja saja pakai drama segala. Padahal si Rosma ini cukup pergi ke depan mall, terus pesan ojek online. Benar ‘kan begitu?

3. Nyai yang nggak konsisten, nyai yang nggak memiliki motivasi

Sosok Nyai adalah antagonis utama dalam film ini. Jika kamu belum tahu, dalam masyarakat Sunda, Nyai itu pasti merujuk pada perempuan. Nggak ada laki-laki yang disebut nyai. Kamu nggak akan pernah menemukan laki-laki bernama Edward dipanggil Nyai Edward.

Tapi entah kenapa setiap kali Nyai muncul di film ini, penampakannya lebih menyerupai sosok laki-laki.

Selain itu, Nyai digambarkan sebagai teman main Nayla, anaknya Rosma, yang muncul semenjak neneknya Rosma, Naroh (Jajang C. Noer) meninggal. Sejak saat itulah Nyai meneror Rosma, tantenya Rosma, hingga kekasih bayangannya Rosma yang bernama Reno (Raffi Ahmad). Semua yang berhubungan dengan Rosma, nggak lepas dari terornya si Nyai.

Mungkinkah dalam dunia ‘per-Nyai-an’ nggak ada yang namanya jenis kelamin? Cool!/via youtube.com

Tapi satu hal yang patut dipuji dari teror Nyai adalah ketidakjelasan motivasinya. Untuk alasan apa ia meneror Rosma dan keluarganya, itu nggak pernah dijelaskan. Jadinya, sepanjang film saya hanya disuguhi adegan Rosma yang ketakutan di balik loker; Rosma yang ketakutan di toilet; Rosma yang ketakutan di lorong bioskop; Rosma yang ketakutan di basement; hingga Rosma yang ketakutan di rumahnya sendiri.

Belakangan diketahui, Nyai memiliki perjanjian pribadi dengan Naroh. Kurang lebih isi perjanjiannya adalah anak dan cucunya Naroh akan meneruskan pengabdiannya pada Nyai setelah Naroh meninggal.

Tapi ya dasar si Nyai ini nggak konsisten, bahkan sama perjanjiannya dengan Naroh. Yang dijadikan penerus malah Nayla bukannya Rosma. Kalau ditarik dari silsilah keluarga, Nayla kan cicitnya Naroh. Argh...!

4. Naroh nggak ada kerjaan

Di Arwah, Minati Atmanegera bersekutu dengan setan dengan alasan agar dirinya tetap cantik dan populer sebagai penari jaipong. Sedangkan dalam Nyai, Jajang C. Noer malah nggak meminta apa-apa dari setan.

Nyai cuma menjelaskan alasan Naroh mengikat perjanjian dengan dialog: “Terimakasih atas ilmu yang sudah diberikan kepada saya.” Ini sebetulnya Nyai itu setan atau dosen yang lagi ngisi kuliah umum?

Nyai nggak ngasih apa-apa buat Naroh, tapi Naroh rela mengabdi pada Nyai tanpa syarat apa pun. Maka dari itu, saya punya tiga penjelasan kenapa Naroh bertingkah seperti itu.

Pertama, mungkin Nyai itu tokoh yang begitu karismatik dan panutan umat, sampai-sampai Naroh rela memberikan loyalitasnya.

Kedua, jangan-jangan Naroh dan Nyai adalah orang yang sama, mengingat Nyai pun munculnya dari lukisan Naroh?

Ketiga, keputusan Naroh mencerminkan suatu kebodohan yang hakiki. Ya minimalnya kan Naroh bisa minta banyak uang atau apa lah.

Tapi melihat Ayu Tingting kesurupan boleh juga sih. Sayang scene-nya cuma sebentar/via youtube.com

5. Ini film jadi bikin penasaran dengan bagian penutupnya, Tumbal

Trilogi ini akan ditutup oleh part Tumbal, yang mana Dewi Perssik bakal jadi karakter sentral di dalamnya.

Di Nyai sendiri, Dewi Perssik hanya muncul sebanyak dua kali. Pertama kemunculannya terjadi di satu kafe, di mana ia secara nggak sengaja menabrak Rosma. Hampir sama-lah dengan kemunculannya di Arwah. Tapi dialognya agak sedikit menggelitik sih. Begini kira-kira:

Dewi Perssik: “Sepertinya kita pernah bertemu (sambil mengambil benda pusaka yang ia jatuhkan dari Rosma dan menatapnya dengan tatapan mesra).”

Rosma: “Terima kasih (meski ia sendiri terlihat bingung, mendapat tatapan mesra dari orang asing sampai sebegitunya).”

Dewi Perssik: “Ini kartu nama saya (kemudian ia pun berlalu).”

Dalam hati pasti Rosma bingung, ini cewek siapa dan ngapain kasih kartu nama segala?

“Tatap mata saya. 1 2 3, pejamkan mata Anda”/via youtube.com

Pertemuan kedua antara Rosma dan Dewi Perssik terjadi di kuburan Reno. Itu pun sama dengan pertemuan sebelumnya, hanya diisi oleh adegan saling tatap-menatap. Padahal kalau saya jadi Rosma sih, itu kesempatan baik untuk balikin kartu nama orang asing yang nirfaedah. Hahaha.

Jadi, kira-kira apa hubungan antara Syurkian, Rosma, dan Dewi Perssik? Untuk menjawabnya, saya akan kembali menginvestasikan akal sehat saya untuk menonton Tumbal.

Sebetulnya masih banyak hal menarik yang bisa dibahas, tapi mending buktikan sendiri dengan menonton langsung ya. Dan jangan lupa, promo tukar tiket dengan minyak goreng berlaku juga untuk Nyai. Selamat berburu minyak goreng!

- Advertisement -
Shares 5

Komentar:

Komentar