Apa Kamu Sadar kalau Film Horor Sekarang Terasa Berbeda? Pertanda Baik atau Burukkah?

Makin seram, makin menakutkan

:

“Filmnya kok biasa aja ya awalnya?”

Celotehan di atas pernah terkuping ketika saya selesai nonton Hereditary di bioskop. Dan saya sendiri nggak bisa membantah celotehan itu. Saya juga merasakan hal yang sama ketika film baru masuk sepertiga awal durasi; nuansa horor yang disajikan Hereditary nggak begitu terasa

Namun penilaian saya berubah 180 derajat setelah keluar bioskop. “Ini film horor terbaik yang pernah saya tonton selama sedekade terakhir,” pikir saya.

Mengingat pengalaman tersebut, serta-merta saya juga jadi teringat bagaimana penyajian dan kualitas dari film horor dewasa ini (yang rilis antara 2017-2018), yang terasa berbeda jika dibanding film horor yang dirilis semenjak pergantian abad (2000-2016).

Konsep cerita film horor sebelumnya sudah agak usang

via dazeddigital.com

Kira-kira apa unsur yang mengikat judul-judul horor seperti Paranormal Activity, Insidious, Sinister, dan Annabelle? Ya, jawabannya adalah jumpscare! Kalau kamu nonton salah satu film itu, barangkali kamu bisa dapat efek kejut lebih dari 10 kali selama durasi.

Formula jumpscare memang merupakan daya tarik tersendiri dari film horor. Dan nggak cuma Hollywood yang suka mengandalkannya; film dalam negeri pun seringkali mencatut adegan yang dianggap oleh para kritik sebagai cara malas buat menakut-nakuti orang.

Tapi apakah formula ini masih efektif buat menakut-nakuti penonton? Ya, jika dieksekusi dengan baik, cara ini masih efektif. Dan jumpscare sendiri bukanlah cara yang salah untuk dipakai. Hanya saja, tren horor dewasa ini sudah lebih bervariatif. Salah satu hal yang jadi faktor pembeda adalah…


Peningkatan kualitas dari segi cerita

via superbormovies.com

Seperti yang dikatakan Alex Ago, profesor dari Southern California University sekaligus penggemar berat film horor, hal yang paling menonjol dari film horor dewasa ini ada pada peningkatan kualitas ceritanya.

Yup, kamu bisa lihat hal tersebut dari kesuksesan Get Out, A Quiet Place, dan Hereditary yang konsep ceritanya nggak sebatas identik dengan ‘rumah angker’, ‘hantu gentayangan’, atau ‘teror makhluk halus di hutan belantara’. Ketiga film itu terbukti mampu mengalihkan fokus pada segi pengembangan karakter dan plot, tanpa harus mengesampingkan esensi horor.

Perkembangan baik ini jelas nggak bisa dilepaskan dari menjamurnya film-film yang diproduksi Blumhouse Productions. Bukan hanya pandai meramu film horor yang serupa tapi tak sama (The Conjuring dan Insidious), rumah produksi ini juga punya kehebatan dalam berkreasi mengelola cerita yang nggak biasa. Dalam The Purge, mereka mengangkat tema tentang kecemasan kita akan tindak kejahatan, yang uniknya mereka jungkirbalikkan sebagai hal legal.

Filosofi yang dipegang oleh Blumhouse tentang hal-hal yang kita takutkan jadi kunci keberhasilan film horor garapan mereka. Bahkan konsep cerita yang sama pun sempat ditiru oleh rumah produksi lain, seperti A24 yang sukses menggarap film Hereditary.

Film horor sekarang bisa bersaing di ajang bergengsi

via dazeddigital.com

Tengok saja kiprah Get Out, yang muncul sebagai film paling menyeramkan ketika tayang di Sundance Film Festival tahun 2017.

Kesuksesan Get Out di ajang festival tersebut nggak hanya berimbas ke keuntungan finansial, film tersebut juga merebut salah satu gelar di penghargaan Oscar. Get Out membuktikan kalau film horor saat ini mampu menyaingi genre lain di ajang Oscar; drama, aksi, dan sejarah. Patut diingat, sampai saat ini satu-satunya film horor yang pernah meraih penghargaan tertinggi di ajang Oscar cuma Silence of the Lambs.

Tapi tren kesuksesan film horor tampaknya belum akan berhenti. Lihat saja gimana kiprah Suspiria. Remake dari film karya master Dario Argento ini berhasil jadi salah satu headliner di Venice Festival Film 2018. Nggak cuma itu, Suspiria pun berhasil dijual ke distributor film di banyak negara.

Wah… penasaran juga nih, apa mereka bisa nyusul kesuksesan Silence of the Lambs?

Menilik tren film horor sekarang, otomatis saya juga berharap film horor Indonesia bisa mengikutinya. Apalagi setelah kesuksesan film Sebelum Iblis Menjemput dan Kafir, saya percaya kalau film horor dalam negeri bisa menghadirkan kualitas yang nggak kalah dari film horor buatan Hollywood.

Pasti bisa! Asalkan kita nggak balik lagi ke zaman ketika film horor-seks banyak berkeliaran. Setuju?

Komentar:

Komentar