9 Film yang Saking Jeleknya Malah Jadi Menghibur Banget, serasa Nonton Komedi

It's so bad it's good

:

It’s so bad it’s good.

Sedari dulu, saya selalu suka nonton film yang jeleknya luar biasa, sampai-sampai itu film malah jadi menarik di mata saya. Istilah bahasa Inggrisnya, film-film berkategori so bad so good.

Tapi mohon jangan salah paham. Film-film so bad it’s so good itu bukan film berkualitas jelek yang punya banyak kekurangan sampai-sampai kurang bisa kita nikmati dan bikin kesal saat ditonton. Justru sebaliknya, film yang saya maksud malah kelihatan menghibur karena kualitas mereka terlalu jelek. Saya bahkan nggak jarang dibuat ketawa habis-habisan saat nonton film semacam ini.

Karena saya termasuk tipe orang yang selalu pengin berbagi keceriaan, di artikel ini saya bakal merekomendasikan film yang saking jeleknya, malah bisa kasih kamu hiburan terselubung. Oh ya, film-film ini juga udah menyandang status cult di kalangan pencinta film jelek lho.

1. Semua film yang dibintangi, disutradarai, dan diproduseri Neil Breen

Panorama Entertainment

Dan film-film itu adalah: Double Down (2007), I Am Here… Now (2009), Fateful Findings (2013), Pass Thru (2016), dan Twisted Pair (2018). Lima karya emas telah lahir berkat tangan dingin Neil Breen, tapi sampai sekarang saya nggak pernah benar-benar paham apa sebenarnya yang hendak diceritakan Neil Breen lewat lima film itu. Film-filmya mengandung terlalu banyak simbolisme. Ditambah lagi saya terlalu lugu untuk memahami simbolisme yang pelik.

Kompleksnya pola pikir Neil Breen juga semakin sempurna dengan plot yang seringkali nggak koheren dan tumpang tindih; penyuntingan gambar yang kacau balau; motivasi karakter yang kurang masuk akal; adegan yang sama sekali nggak ada pengaruhnya sama jalan cerita dan perkembangan karakter; dan di atas segalanya, kemampuan akting yang memprihatinkan.

Tapi jangan biarkan kerumitan film-film Neil Breen membuat kamu ciut duluan. Seenggaknya ada beberapa hal menarik yang membuat lima filmnya punya kemiripan satu sama lain, di antaranya:

Satu! Di setiap poster filmnya pasti terpampang muka Neil Breen. Itu berarti, karakter yang diperankan Neil Breen bakal sorotan terbesar dalam film. Faktanya, setiap kali kamu lihat layar, 80 persennya pasti ada Neil Breen di situ.

Dua! Neil Breen selalu digambarkan sebagai tokoh jagoan yang punya kemampuan super. Contoh: hacker handal yang bisa menyembuhkan penderita kanker hanya dengan sentuhan tangannya, atau manusia setengah dewa yang bisa menyembuhkan penyandang disabilitas hanya dengan sentuhan tangannya. Walaupun di satu-dua film ia diceritakan nggak punya kekuatan super, ia tetap jagoan.

Tiga! Karakter Neil Breen selalu bertindak penuh kebajikan dan memberantas akar kejahatan yang menyelimuti dunia yang nista ini. Ia mampu melakukannya karena ia baik hati dan jagoan.

Empat! Hampir di setiap filmnya selalu ada laptop yang digunakan karakter Neil Breen. Nggak cuma satu-dua laptop, tapi empat sampai lima laptop bisa digunakan sekaligus dalam satu adegan.

Lima! Karakter Neil Breen selalu membuat para wanita bertekuk lutut dan bernafsu untuk bercinta dengannya.

Enam! Di setiap filmnya, pasti ada adegan hot yang melibatkan Neil Breen dan aktor perempuan berumur lebih muda darinya, meskipun saya nggak pernah dibuat antusias saat melihat adegan-adegan. Sekalipun nggak pernah.

2. The Room

Wiseau-Films

Mungkin kamu sendiri udah pernah dengar nama Tommy Wiseau dan karya agung yang pernah dibuatnya, The Room. Ini adalah film yang sanggup membuat James Franco tergila-gila, sampai ia mau membuat film biografi yang menceritakan proses pembuatan The Room. Film itu berjudul The Disaster Artist, dan saya merekomendasikan banget film tersebut kalau kamu belum pernah menontonnya.

Lalu apa yang membuat The Room sebegitu spesialnya?

Nyaris semuanya! Akting dari aktor utama dan figuran, penyutradaraan, adegan panas yang sebetulnya nggak penting banget, plothole yang bertebaran di mana-mana, sub-plot mengenai karakter sampingan yang nggak tahu kenapa dimasukkan dalam film, dialog dramatis tentang karakter yang menderita kanker tapi nggak pernah diungkit lagi, dan Tommy Wiseau itu sendiri.

Coba, coba kamu lihat betapa besar karisma Tommy Wiseau yang dianugerahi kemampuan akting seperti ini. Silakan kamu lihat sendiri buktinya dari adegan legendaris yang amat saya kagumi ini:

Saya punya mimpi, dan seraya menulis kalimat ini, saya terus memanjatkan doa agar mimpi saya itu terkabul suatu hari nanti. Saya berharap suatu hari nanti bisa menonton film hasil kolaborasi antara Tommy Wiseau dan Neil Breen.

3. Ax Em

York Entertainment

Kamu pernah nonton film yang susah dipahami karena suara dan dialog dari karakter-karakternya nggak terdengar sama telinga kamu? Belum? Mungkin, ini hanya dugaan saya, mungkin penyebabnya karena kamu nggak pernah nonton Ax Em, satu mahakarya horor yang disutradarai, diproduseri, ditulis, dan dibintangi oleh Michael “Mfumay” Mfume.

Sebagian besar dialog yang ada di film ini bakalan sulit kamu dengar karena, mungkin, “Mfumay” nggak pernah memanfaatkan mikrofon saat proses syuting. Kamu pun mungkin bertanya-tanya, “Kalau saya nggak bisa dengar apa yang dikatakan karakter-karakternya, gimana saya bisa menikmati film ini? Gimana saya bisa mengerti ceritanya?”

Izinkan saya memberi tahu kamu: masih banyak hiburan yang bisa kamu dapat di film ini, meskipun aspek suaranya cacat banget dan gambarnya busuk. Mau bukti? Oke, oke…

Ya Tuhan… kenapa, kenapa dia mesti memainkan kacamatanya di situasi seperti itu? Why…!?

Ngomong-ngomong, saya masih mencari tahu kenapa julukan “Mfumay” mesti terselip di tengah-tengah nama si sutradara. Jika ada yang tahu, tolong kabari saya.

4. Birdemic: Shock and Terror

Severin Films

Kalau kamu ketikkan kata kunci “Birdemic” di internet, kamu pasti bakal menemukan opini-opini yang menganggap film garapan James Nguyen ini sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa.

Sebenarnya James Nguyen itu sineas yang sama dengan Neil Breen dan Tommy Wiseau. Mereka punya ambisi untuk membuat film, dan mereka berhasil melakukannya. Kita jelas harus menghargai apa yang mereka lakukan. Terlebih lagi, James Nguyen membuat Birdemic karena terinspirasi The Birds buatan sutradara horor legendaris, Alfred Hitchcock.

Dia terinspirasi oleh Alfred Hitchcok dan The Birds. Dari kalimat itu aja kita bisa menyimpulkan kalau Nguyen pengin membuat film horor yang mencekam lagi menegangkan.

Sayang beribu sayang, dia terbentur masalah kekurangan dana. Jadi alih-alih melihat gerombolan burung sebagai sumber teror yang menakutkan, saya malah dihadapkan pada burung-burung yang bikin saya cekikikan, meskipun saya udah berusaha sekuat tenaga untuk nggak tertawa.

Efek CGI burung-burung di film ini jeleeeek banget. Saya bisa memahaminya mengingat bujet yang terbatas. Tapi keterbatasan bujet nggak bisa jadi alasan kenapa burung-burung itu bisa mengeluarkan cairan asam dan meledak saat terbentur. Itu nggak masuk akal.

Tapi nggak apa-apa deng, soalnya itu bikin Birdemic jadi lucu. Dan film ini semakin kelihatan lucu saat kamu melihat akting kikuk dan canggung dari para aktornya, plotnya yang bikin kamu mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dialog-dialognya yang seperti ditulis oleh orang mabuk, sinematografi yang nggak rapi, dan suara burung yang lebih mirip kayak suara mesin.

Nggak butuh waktu lama buat Birdemic untuk mendapat status cult di antara pencinta film jelek. Karena alasan itu pula sekuelnya yang lebih buruk lagi, Birdemic 2: The Resurrection, dirilis tahun 2013.

5. Jason X

New Line Cinema

Rasanya saya nggak perlu nulis panjang lebar mengenai alasan kenapa saya memasukkan Jason X di daftar ini. Jason Voorhees, salah satu karakter pembunuh berantai paling populer dalam perfilman, dikirim ke luar angkasa? Seingat saya nggak ada film horor yang settingnya dipindah ke luar angkasa pernah meraup kesuksesan.

Film ini sendiri kayak lebih cocok disebut parodi dari Friday the 13th. Terlalu banyak kekonyolan dalam film ini yang seolah dibuat dengan sengaja. Saya masih nggak habis pikir kenapa film ini mesti memaksakan sekumpulan karakter remaja untuk berada di luar angkasa bersama Jason. Dan seperti mayoritas film jelek, Jason X pun merasa dirinya wajib memperlihatkan mereka sebagai remaja berkelakuan bodoh yang kurang bisa mengontrol gairah dan nafsu.

Begini, jika saya berada satu lokasi dengan monster macam Jason Voorhees, saya nggak akan sempat dan berani memikirkan hal-hal jorok, sekalipun monster itu dalam keadaan beku dan nggak bisa bergerak.

Sebagai film horor slasher, Jason X gagal menyediakan apa yang diharapkan oleh pencinta seri Friday the 13th. Tapi sebagai sarana pengocok perut, film ini sukses jadi hiburan tersendiri bagi saya. Yup, film ini masih bisa dinikmati. Ia nggak separah Jason Goes to Hell: The Final Friday yang hampir nggak ada poin positifnya sama sekali.

Waktunya untuk mengapresiasi bad movie, kawan-kawan.

5 Shares

Komentar:

Komentar