5 Manga dan Anime Keren yang Sukses Diadaptasi Jadi Film Mengecewakan

Kenapa Light harus teriak-teriak dengan konyol?

:

Film adaptasi manga dan anime itu punya peruntungan yang hampir-hampir mirip sama film adaptasi game. Dalam artian, banyak dari mereka yang berakhir jadi film live-action dengan kualitas mengecewakan. Nggak semuanya, tapi banyak. Dan perhatian khusus layak disematkan pada film adaptasi yang diproduksi di Hollywood.

Masih ingat film Avatar: The Last Airbender? Avatar tuh aslinya memang bukan anime Jepang. Tapi film adaptasinya yang dibesut M. Night Shyamalan tetap layak mendapat predikat salah satu film adaptasi terburuk.

Avatar jelas bukan satu-satunya. Dalam artikel ini, saya udah menyusun daftar 5 film terburuk hasil adaptasi dari anime dan manga yang bagus.

1. Death Note (2017)

Netflix

Saya nggak mempermasalahkan kalau Kira dan L diperankan sama aktor Amerika. Saya juga nggak masalah sama latar tempatnya yang dipindah ke Amrik sono. Tapi Death Note racikan sutradara Adam Wingard (You’re Next, The Blair Witch Project) mengenyampingkan terlalu banyak hal yang bikin manga dan anime Death Note begitu fenomenal. Alasannya sih karena pengin lebih disesuaikan dengan budaya AS. Meskipun di mata saya, film ini kayak bersikap bodo amat sama manga yang jadi sumber rujukannya.

Kamu nggak akan melihat Light yang arogan dan jenius. Light (Turner, bukan Yagami) di film ini cuma remaja kasmaran tengil yang lebih sering berpikir dengan kemaluan alih-alih otaknya. L yang dingin, tanpa emosi, dan penuh perhitungan di manga aslinya diubah sedemikian rupa hingga terlihat nggak lebih dari detektif emosional yang cengeng.

Tapi yang paling saya sesalkan dari film garapan Netflix ini adalah minimnya perang psikologis dan adu kecerdasan antara Kira dan L. Itulah inti sebenarnya dari manga dan anime Death Note, adu kecerdasan yang dilukiskan dengan dramatis. Dan Death Note versi Wingard malah lebih memilih romansa antar remaja sebagai fokusnya.

Satu lagi, Light nggak pernah makan keripik di versi film. Light nggak pernah makan keripik.

2. Oldboy (2013)

FilmDistrict

Oldboy itu sebenarnya nggak punya versi anime. Saat sineas Korea Selatan mengadaptasi Oldboy jadi film di tahun 2003, mereka mengadaptasi langsung dari manga. Manga Oldboy sendiri keren, meskipun saya kurang puas sama endingnya. Untungnya, film adaptasinya yang diarahkan Park Chan-wook bisa memoles kekurangan dari versi manga dengan atmosfer kekelaman yang mendalam dan plot twist mengagumkan.

Beda sama Death Note, Oldboy versi Hollywood ini hampir terlalu mirip dengan film aslinya. Hanya saja intensitasnya kurang mampu menggiring rasa penasaran, dan momen saat pengungkapan alasan kenapa sang karakter utama dikurung bertahun-tahun terasa kurang kuat.

Jika kamu pengin melihat Oldboy yang sesungguhnya, silakan nonton yang versi Korea. Tapi, kalau kamu lebih nyaman dengan film berbahasa English, walaupun filmnya sendiri kurang gereget, silakan nonton Oldboy versi Amerika yang rilis tahun 2013

3. Kite (2013)

Anchor Bay Entertainment

Kamu nggak tahu dan nggak pernah dengar sama sekali tentang anime Kite? Nggak apa-apa, bisa dipahami. Toh, OVA rilisan tahun 1998 ini memang nggak begitu terkenal.

Pertanyaannya, kenapa ada sineas di Amerika sana yang tertarik mengadaptasi Kite? Itu saya juga nggak tahu. Saya sendiri tertarik sama Kite karena mendengar kontroversi dan adegan kekerasan yang memenuhi durasinya. Tapi yaah, itu kan cuma selera pribadi.

Cerita film ini berpusat pada Sawa, gadis remaja yang mengincar predator seksual untuk ia habisi. Dan itu juga yang jadi masalah utama dari Kite dan karakter utamanya, film ini kayak memang berniat untuk mengandalkan sensualitas Sawa ketimbang menyusun plot yang koheren dan motivasi yang logis dari karakternya. Satu hal lain yang menonjol dari Kite cuma datang dari karisma Samuel L. Jackson, yang entah kenapa mau-maunya terlibat di film ini.

Oh ya, Kite bukan film yang diproduksi di AS/Hollywood. Ini film asal Afrika Selatan.

4. Ghost in the Shell (2017)

Paramount Pictures

Ghost in the Shell merupakan contoh bagus untuk film adaptasi yang lebih mementingkan aspek visual dan action, ketimbang membawa pesan utama dan makna dari sumber aslinya. Iya, ini film memang harus diakui punya visualisasi yang enak dipandang mata, terutama dari sisi CGI.

Tapi yang bikin manga dan anime Ghost in the Shell disukai banyak orang dewasa itu berasal dari pertanyaan dan isu filosofis menyangkut kehidupan yang menghiasi jalan ceritanya. Itulah aspek penting yang justru kurang digali di film adaptasinya.

Dan pada akhirnya, Ghost in the Shell versi live-action kelihatan nggak ubahnya kayak film action kebanyakan.

Hal itu nggak akan jadi masalah sebetulnya, kalau aja karakter-karakter yang ada di dalamnya bisa bikin kita peduli dan bersimpati. Tapi sayangnya, mereka terlalu hambar dan kering untuk saya pedulikan. Memang nggak gampang mengadaptasi serial manga atau anime ke dalam film berdurasi sekitar satu jam setengah.

5. Dragonball: Evolution (2009)

20th Century Fox

Aaah… Dragonball: Evolution. Rasanya saya udah lumayan sering bahas ini film di artikel-artikel terhadulu. Tapi saya bakal sedikit membahasnya lagi sekarang, hanya karena betapa bencinya saya sama film yang satu ini.

Semua masalah yang menghinggapi film ini bisa diwakili sama satu pertanyaan: kalau mau merombak total semua unsur penting yang ada di manga dan anime sumber adaptasi, kenapa nggak bikin film berjudul lain yang nggak bawa-bawa nama Dragon Ball?

Toh, waktu saya nonton Dragonball: Evolution, saya nggak merasa lagi nonton film hasil adaptasi manga Dragon Ball karangan Akira Toriyama. Saya lebih merasa lagi nonton film yang melecehkan manga Dragon Ball karangan Akira Toriyama.

Oke, saya rasa daftarnya udah cukup di kesempatan kali ini. Kalau kamu pengin menambah daftarnya, silakan aja.

2 Shares

Komentar:

Komentar