5 Film Korea Sedih yang Pasti Bakal Bikin Kamu Susah Menahan Tangis

Jangan lupa seka air mata dan ingus kamu setelah nonton

Pernah nggak kamu merasa merasa sedih banget sampai susah berhenti menangis setelah menonton film? Saya punya kenalan yang pernah mengalaminya.

Menurut kenalan saya itu, yang namanya nggak mau disebutkan, malu katanya, hal itu bisa terjadi karena banyak faktor. Bisa karena ceritanya yang terasa sangat realistis, akting aktornya yang bagus, atau arahan sutradaranya yang oke punya. Bahkan nggak menutup kemungkinan juga suatu film punya kombinasi dari tiga faktor tersebut.

Bikin film yang menyentuh hati itu ternyata nggak semudah bikin anak kecil menangis ya. Tapi jangan khawatir. Jika kamu suka dibikin menangis setelah nonton film, 5 film korea ini terbukti mampu mengaduk-aduk emosi penontonnya sampai menguras air mata. Percaya deh, saya saksi bisunya.

Bagi yang sensitif, siapkan satu tisu yang banyak ya. Malu ‘kan kalau ingus kamu ikutan keluar pas lagi nangis.

1. Train to Busan (2016)

Saat rilis di tahun 2016, film ini sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai negara. Genrenya memang horor, iya. Tapi film yang dibintangi Gong Yoo ini dijamin bisa bikin yang nonton banjir air mata.

Pertama-tama mari kita berkenalan dulu dengan karakter utamanya, Seok-woo. Kamu tahulah, tipikal eksekutif muda berjas yang sering ada di drama-drama Korea.

Saat film dibuka, kita sudah diperlihatkan kalau Seok-woo akan bepergian menaiki kereta bersama putri kecilnya, Su-an. Tapi entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja banyak dari penumpang kereta berubah menjadi zombie. Terjebak di dalam kereta yang sedang berjalan, Seok-woo pun harus berjuang keras untuk melindungi anaknya dari terkaman mayat hidup (yang bisa lari).

Train to Busan bukanlah film sederhana yang hanya berkisah tentang wabah zombie. Lebih dari itu, ceritanya punya kompleksitas mendalam tentang hubungan orangtua dan anak, serta usaha manusia di kala menghadapi bahaya. Unsur dramanya lebih kental ketimbang horornya, tapi justru itulah yang jadi daya tarik dari Train to Busan. Zombie di film ini ibarat hiasan yang berfungsi buat menekankan perkembangan hubungan ayah dan anak dari Seok-woo dan Su-an.

Tunggu sampai film ini menyentuh bagian ending. Saya tantang deh, apa kamu bisa menahan tangis setelah selesai nonton?

2. Ode to My Father (2014)

Dulu, saat Perang Korea berkecamuk, banyak penduduk dari bagian utara Korea yang mengungsi ke selatan. Dan di antara pengungsi itu terdapatlah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak. Mereka berenam seharusnya bisa menaiki kapal, lalu mengungsi ke Selatan, dan hidup sebagai keluarga utuh di sana.

Namun takdir berkata lain. Karena putri kecilnya menghilang sesaat sebelum menaiki kapal, sang ayah terpaksa tetap tinggal di utara demi menemukan si anak hilang. Ia hanya bisa meninggalkan pesan pada anak sulungnya, Deok-soo, untuk menjaga ibu dan adik-adiknya.

Itulah adegan pembuka dari Ode to My Father, film korea sedih yang kesedihannya bisa menandingi Hachiko. Dan nuansa kesedihannya bahkan bisa kita rasakan mulai dari adegan pembukanya. Hubungan antara sang ayah dan keluarganya memang belum diperlihatkan dengan jelas. Tapi kita bisa tahu kalau putra sulungnya sangat menghormati sang ayah.

Sepanjang durasi film pun, Deok-soo beberapa kali diperlihatkan teringat pada sosok ayahnya, bahkan di saat ia mengalami situasi sulit. Seolah-olah ia bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan dilakukan ayah jika berada di posisiku?”

Sebagai film bertema drama-sejarah, Ode to My Father juga mengajak kamu mengenali sejarah Korea dari kacamata rakyat jelata. Selain peristiwa Evakuasi Hungnam tahun 1950 di bagian pembuka, kamu bakal melihat momen ketika penambang-penambang dari Korea dikirim untuk bekerja di Jerman Barat.

Oh ya, kamu tahu nggak, kalau film yang disutradarai oleh Yoon Je-kyun ini merupakan salah satu film terlaris sepanjang sejarah perfilman Korea?

3. Always (2011)

Mungkin kalau kamu hanya melihat trailer-nya saja, film ini akan terkesan seperti drama romantis yang sangat klise. Tapi, tunggu dulu! Film melodrama yang dibintangi Han Hyo-joo dan So Ji-sub ini punya alur cerita yang oke banget lho.

Film ini menceritakan tentang hubungan percintaan antara mantan petinju bernama Chulmin (So Ji-sub) dan seorang telemarketer tunanetra bernama Junghwa (Han Hyo-joo). Di mata Chulmin, Junghwa dianugerahi kepribadian yang positif meskipun dirinya punya keterbatasan fisik. Itu kenapa Chulmin bisa kesengsem sama Junghwa.

Merasa ceritanya mirip kayak FTV? Saya sudah bilang, tunggu dulu!

Waktu pun berlalu dan dua sejoli itu mulai tinggal bersama. Tapi suatu hari, Chulmin harus membuat keputusan sulit yang bisa mengubah kehidupan mereka.

Setelah nonton film ini dan menghabiskan banyak tisu, saya jadi sadar cinta itu memang buta. Eaaaaa. *Plak*

4. A Moment to Remember (2004)

Drama romantis lagi nih. Sama dengan Always, pada awalnya film ini kelihatan seperti film drama romantis kebanyakan. Tapi begitu durasi bergulir, kamu akan melihat apa yang menjadikan film ini begitu spesial.

Layaknya film drama percintaan, A Moment to Remember pun berisikan dua karakter yang saling jatuh cinta. Karakter perempuannya diwakili Kim Soo-jin (Son Ye-jin), dan laki-lakinya diwakili Choi Chul-soo (Jung Woo-sung). Keduanya lalu menjalani kehidupan sebagai suami-istri atau istri-suami yang sangat mencintai satu sama lain.

Selesai ceritanya? Happy ending? Belum, cerita masih terus berjalan.

Nada film ini berubah menjadi kelam ketika Soo-jin divonis menderita penyakit Alzheimer. Rasa cinta yang diuji, kesabaran, dan kesetiaan merupakan pemandangan yang bakal jamak kamu temui setelahnya.

Sebelum nonton film ini, siapkan mental kamu karena topiknya lumayan berat.

5. Miracle in Cell No. 7 (2013)

Bagaimana rasanya jika kamu dituduh melakukan tindak kriminal, sedangkan kamu sebenarnya nggak bersalah? Pengalaman itulah yang dirasakan Lee Yong-Gu (Ryoo Seung-Ryong). Ia divonis hukuman mati setelah dituduh menghilangkan nyawa anak perempuan.

Situasi semakin berat untuk Lee karena ia punya keterbelakangan mental. Nggak bisa membela diri di depan pengadilan, ia pun merelakan dirinya dijebloskan ke penjara, meninggalkan putri semata wayangnya sendirian di rumah tanpa ada yang mengurus.

Tapi untungnya Lee punya teman-teman satu sel yang bersedia membantunya untuk bertemu lagi dengan anaknya. Caranya? Boyong saja anak itu ke dalam sel penjara!

Meskipun film ini dikemas dalam bentuk drama komedi,  Miracle in Cell No. 7 punya kekuatan untuk membuat kamu terharu. Lewat film ini pula kamu bakal tahu gimana rasanya menjadi orangtua yang harus terpisah dengan anaknya.

Stanley Kubrik, sutradara ternama yang mengarahkan film legendaris The Shining dan A Clockwork Orange pernah berkata: “… Film is – or should be – more like music than like fiction. It should be a progression of moods and feelings…

Intinya, film yang bagus itu harus bisa memengaruhi perasaan penontonnya. Film yang bagus itu nggak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan aktor dan aktris yang cakep doang. Ehem.

Tapi jangan berlama-lama galau dan nangis terus setelah selesai nonton ya. Meskipun cerita dalam kelima film di atas itu bisa bikin emosional, banyak banget pelajaran berharga yang bisa kamu dapat setelah menontonnya. Betul?

- Advertisement -
11 Shares

Komentar:

Komentar