3 Karakter Cewek di Game of Thrones yang Bisa Jadi Panutan Para Ladies

Jadi cewek di dunia yang penuh testosteron itu nggak gampang lho

Buat kamu yang suka sama serial Game of Thrones, pasti udah kenal dong sama sosok Arya, Sansa, dan Daenerys? Sejujurnya saya sendiri kagum banget sama mereka bertiga. Mereka itu kan tokoh-tokoh perempuan, tapi bisa sukses hidup di dunia patriarki.

Tunggu dulu, dunia patriarki itu sebenarnya apa sih? Begini saudara-saudara. Secara umum, patriarki merupakan sebuah sistem sosial di mana laki-laki mendominasi perempuan. Bentuk dominasinya pun bisa terjadi di berbagai bidang kehidupan, mulai dari ranah politik, sosial, ekonomi, sampai pendidikan.

Pernah dengar di zaman Kartini dulu perempuan nggak bisa sekolah? Itulah salah satu bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan di ranah pendidikan. Untungnya fenomena kayak gitu sekarang udah nggak ada ya.

Beda banget sama Westeros. Di dunia fiksi itu kentara banget kalau derajat perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki. Lihat aja dari cara laki-laki memperlakukan perempuan. Salah satu contohnya ada di sistem perkawinan dan pewaris tahta.

Dalam tradisi Westeros, setiap anak perempuan bisa diibaratkan sebagai properti milik ayahnya. Mereka punya fungsi untuk dikawinkan dengan pangeran-pangeran pilihan sang ayah. Bisa dibilang sih, para putri ini dijual dengan aliansi antara dua keluarga sebagai bayarannya.

Nah, setelah menikah, tugas utama perempuan Westeros tuh cuma satu: memproduksi anak, nggak lebih. Sedih kayaknya ya jadi perempuan di Westeros:(

Tapi beda lagi ceritanya kalau kita bicara soal Arya, Sansa, dan Daenerys. Seperti yang saya bilang sebelumnya, mereka adalah perempuan yang bisa sukses di dunia patriarki ala Westeros. Dari mereka pula, ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Mau tahu apa aja?

Arya Stark

Sedari kecil, Arya udah menunjukkan perlawanan pada dunia Westeros yang patriarki. Daripada menjahit dan bermimpi menikah sama pangeran tampan seperti kakak perempuannya, dia lebih suka main panahan dan pedang. Bukan kegiatan perempuan banget ‘kan?

Tapi, biarpun beda dengan perempuan yang “seharusnya”, Arya tetap senang menjadi dirinya sendiri. Cita-citanya menjadi ksatria baja hitam patut kita apresiasi. Meskipun kata tradisi Westeros perempuan itu nggak bisa jadi ksatria, Arya tetap nggak peduli. Baddassss banget cewek yang satu ini dah!

Lalu, apa yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Arya? Tentu saja, kegigihannya jadi diri sendiri meskipun bertentangan dengan budaya patriarki. Kalau patriarki marah-marah, Arya cuma senyum tipis dan tahu-tahu patriarki udah tergeletak nggak bernyawa di depannya. Yassshhh bijjjj!!!!

Tengilnya Arya yang sudah jadi pembunuh jagoan/via giphy.com

Sansa Stark

Ngaku deh, kamu (pembaca perempuan) pasti pernah mimpi buat nikah sama pangeran tampan dan hidup bahagia ala putri di Disney ‘kan? Sansa udah membuktikan kalau hidup nggak semudah itu, Ferguso. Terutama kalau kamu hidup di Westeros.

Bisa dibilang, Sansa adalah korban patriarki yang sesungguhnya. Sedari kecil, Sansa yang cantiknya luar biasa ini berlaku seperti perempuan tradisional banget. Itu bisa dilihat dari betapa jagonya dia melakukan hal-hal keperempuanan. Dia juga diam aja waktu ditindas sama si bangsat Joffrey, dan berakhir dilempar (baca: dinikahkan) ke sana ke mari oleh laki-laki yang lebih kuat darinya.

Tapi mulai musim ke-7, Sansa mulai menunjukkan kalau dia juga bisa jadi serigala yang berbahaya. Pelan tapi pasti, dia mulai belajar kepemimpinan dan politik. Yang paling penting, dia juga belajar buat nggak mudah percaya sama orang lain (terima kasih klinik Lord Baelish).

I am a slow learner, but I learn,” kata Sansa.

Sansa yang kini sudah menjadi ketua perkumpulan matriarki/via tenor.com

Daenerys Targaryen

Ibu sang Naga-Naga yang gelarnya panjang nggak ketulungan ini awalnya adalah korban patriarki juga lho. Tapi sejak dia tahu kalau api nggak ada panas-panasnya, mulailah Daenerys unjuk gigi. Coba kamu ingat-ingat, ada berapa banyak laki-laki yang dijadikan daging panggang oleh Daenerys? Banyak banget! Jumlahnya bikin kamu tercengang!

Ternyata eh ternyata, udah banyak tradisi patriarki Westeros yang dia patahkan. Mulai dari pembebasan para dosh khaleen (janda dari para Khal) sampai jadi pusat kekuasaan yang besar. Dari Essos sampai Westeros (#2019GantiRatu). Kalau kamu tonton lagi serialnya dari musim pertama, Daenerys ini adalah tokoh yang bisa bikin ketidakmungkinan menjadi mungkin. Keren banget ya emak naga yang satu ini!

Lagunya Awkarin cocok banget jadi latar belakangnya: You’re F****** With A Bad Ass/via tenor.com

Pertanyaannya, apa yang bisa kita pelajari dari Daenerys sang Ibu Naga? Kita bisa belajar untuk percaya pada diri sendiri. Tapi bukan berarti jadi over PD ya! Dari Daenerys, kita bisa belajar buat mengenali kekuatan kita dan percaya kalau kekuatan itu bisa memberdayakan kita. Unch~

Gimana? Ternyata, banyak juga ya pelajaran yang bisa kita ambil dari 3 perempuan jagoan ini. Meskipun kita hidup di Indonesia dan bukan di Westeros, pengalaman hidup mereka bisa kita ambil hikmahnya. Intinya sih, biarpun fiksi, 2019 saya tetap pengen ganti ratu. Pokoknya #TurunkanCersei!

6 Shares

Komentar:

Komentar