15 Film Thriller Terbaik yang Paling Jago Memacu Adrenalin Penonton

Rajin-rajin olahraga, biar jantung kamu nggak terlalu capek dipacu pas nonton film-film ini

:

Ada banyak faktor yang menentukan bagus atau tidaknya film thriller. Tapi menurut saya sebagai penikmat film, film thriller terbaik itu yang bisa bikin jantung berdebar kencang pas menontonnya. Nggak cukup sampai di situ, film thriller jempolan juga wajib punya penokohan yang kuat, jalan cerita yang nggak disangka-sangka, dan kalau perlu, plot twist yang bisa bikin penonton terperanjat dari tempat duduknya sambil bilang, “Oh my God!” atau “Duh, Gusti nu Agung!“.

Nah, daftar film thriller ini dibuat berdasarkan kriteria yang saya sebutkan di atas. Ibaratnya, kalau meminjam bahasa pekerja quality control, 15 film berikut udah memenuhi persyaratan dan layak buat direkomendasikan ke pembaca Selipan. Yuk, langsung aja kita simak satu per satu!

1. Oldboy (Korea Selatan; 2003)

Show East

Awalnya Oh Dae Su hanyalah seorang pebisnis biasa yang gemar mabuk-mabukan. Hingga suatu ketika, si pemabuk ini diculik oleh orang tak dikenal. Ia lalu dikurung selama 15 tahun di sebuah hotel misterius. 15 tahun ia dikurung sebelum tiba-tiba dikeluarkan tanpa penjelasan apa pun! Yup, Oh Dae Su sama sekali nggak tahu dosa apa yang telat ia perbuat.

Premis yang cukup menarik untuk sebuah film thriller.

Tapi film ini jauh lebih menarik kalau kamu lihat bagaimana ceritanya dikembangkan, dijamin. Bagian yang paling saya kagumi terlihat dari bagaimana Oh Dae Su berkembang dari seorang ahjussi (paman) yang hobi mabuk-mabukan menjadi pria yang dipenuhi hasrat balas dendam. Dan semua itu terasa masuk akal.

Oldboy juga menyajikan banyak kejutan tanpa memudarkan rasa penasaran saya yang udah terbangun semenjak awal film bergulir. Saya nggak henti-hentinya menunggu langkah apa yang bakal diambil Oh Dae Su buat mengungkap misteri di balik 15 tahun masa pengurungannya.

Bagian puncak itu pun tiba saat film memasuki penghujung ceritanya, ketika Dae Su bertemu dengan Lee Woo Jin, orang yang bertanggung jawab atas semua penderitaannya selama 15 tahun.


2. Silence of the Lambs (AS; 1991)

Orion Pictures

Ngomongin film thriller terbaik, kayaknya kurang lengkap kalau nggak menyebut Silence of the Lambs. Ini adalah karya masterpiece peraih Oscar, sekaligus film yang mengukuhkan nama Hannibal Lecter di jajaran karakter antagonis paling ikonik dalam sejarah perfilman.

Banyak pula kritikus yang menobatkan Silence of The Lambs sebagai film thriller terbaik sepanjang masa. Umumnya sih, mereka menyanjung alur cerita dan karakter-karakternya yang dibangun dengan kuat, serta adegan-adegan disturbing khas film kriminal yang dikemas secara jenius.

Yaah, tapi kalau prestasi yang udah dijelaskan tadi belum cukup meyakinkan kamu buat menonton film ini, saya kasih satu adegan gila Silence of the Lambs yang bisa mengubah pikiran kamu (spoiler alert!).

Bayangkan seorang narapidana yang kabur dengan menyamar jadi polisi. Tapi biar penyamarannya lebih meyakinkan, si narapidana terlebih dahulu membunuh dan menguliti wajah polisi yang bertugas mengawalnya. Kemudian ia pakai kulit wajah polisi malang tersebut sebagai topeng. Dan voila! Ia pun melenggang ke luar menuju kebebasan.

3. The Chaser (Korea Selatan; 2003)

Showbox

Jujur, saya merasa terusik saat mengetahui karakter utama di film ini adalah mantan polisi yang beralih profesi jadi mucikari. Ayolah, apa yang bisa diharapkan dari polisi korup yang udah meninggalkan kehormatannya demi terjun ke bisnis gelap?

Tapi bukan saya saja yang merasa terusik, si mucikari pun merasa terusik karena gadis malamnya hilang satu per satu setiap melayani pelanggan yang sama. Dari situlah saya mulai berharap ada kejutan yang berdatangan di sisa cerita. Dan benar saja, hampir di sepertiga durasi, saya nggak berhenti dibikin deg-degan oleh aksi kejar-kejaran si mantan polisi dengan pembunuh berantai yang jadi dalang hilangnya gadis-gadis malam.

Elemen thriller terbaik di film ini terletak di pembangunan suasananya yang terkesan orisinil. Adegan-adegan kekerasan disajikan senyata mungkin, seolah-olah aktornya benar-benar disakiti saat syuting.

Kerennya lagi, seiring adegan-adegan ngeri bermunculan, alur ceritanya pun semakin menggelitik rasa penasaran saya tentang bagaimana semua kekacauan dalam cerita akan berakhir. Nggak disangka, saya ditampar oleh ending yang menyayat hati.

4. Gone Girl (AS; 2014)

20th Century Fox

Film karya David Fincher ini berfokus pada konflik antara suami istri, Amy Dunne (Rosamund Pike) dan Nick Dunne (Ben Affleck). Suatu hari sepulang kerja, Nick nggak bisa menemukan istrinya yang hilang entah ke mana. Kasus hilangnya Ammy kemudian mendapat sorotan media, dan masyarakat menuduh Nick telah membunuh Amy.

Misteri hilangnya Amy dan alur mundur yang perlahan mengungkap konflik antara dua sejoli tersebut, mengantarkan kita ke pertanyaan yang lebih besar lagi: siapakah sebenarnya Amy? Di sinilah Gone Girl memperlihatkan pesonanya, yakni lewat pembeberan jawaban soal misteri Amy.

Di satu adegan, film ini bahkan sanggup menjungkirbalikkan anggapan tentang siapa yang baik dan yang jahat.

5. Cold Fish (Jepang; 2010)

Nikkatsu

Film ini bercerita tentang Shamoto, seorang pemilik toko ikan yang pendiam, kurang ambisius dalam berbisnis, dan nggak pintar bergaul. Saat putrinya tertangkap basah mencuri di sebuah toko kelontong, Shamoto bertemu dengan Murata, pedagang ikan hias yang jauh lebih sukses darinya. Dengan tutur kata yang ramah dan karismanya, Murata pun mengajak Shamoto dan istrinya bekerja di toko ikan miliknya.

Berharap bisa belajar metode ampuh berbisnis ikan dari Murata, Shamoto malah menemui kejanggalan dalam diri pria tua itu. Murata dan istrinya yang selama ini dikenal Shamoto sebagai orang ramah dan humoris ternyata adalah komplotan penipu sekaligus pembunuh berantai yang gemar memutilasi korban.

Agak berbeda dengan film lain dalam daftar, Cold Fish punya unsur komedi gelap yang jadi daya tariknya. Hal itu terlihat dari perbedaan kelas sosial dan watak antar tokoh yang begitu menonjol. Kepribadian Shamoto pun lambat laun berubah karena terus dipaksa melakukan hal yang berlawanan dengan hati nuraninya.

Oh iya, film ini punya ending brilian yang bakal mengajari kamu arti filosofis tentang kehidupan. Ada kata-kata Shamoto yang masih terngiang di telinga saya: “Hidup adalah tentang rasa sakit.”

6. Confessions (Jepang; 2010)

Toho Company

Saat pertama kali melihat Yuko-sensei, saya nggak menyangka ia bakal melakukan aksi balas dendam yang jenius sekaligus brutal terhadap dua orang muridnya.

Confessions dibuka dengan suasana kelas Yuko-sensei yang terkesan membosankan bagi siswanya. Tapi tak lama berselang, Yuko membuat pengakuan mengejutkan kalau dirinya akan berhenti menjadi guru. Alasannya? Karena beberapa hari sebelumnya, anak perempuan Yuko dibunuh dua orang muridnya, “siswa A” (Shuya) dan “siswa B” (Naoki).

Jadi untuk membalaskan dendamnya, Yuko mencampurkan darah almarhum suaminya yang terkontaminasi virus HIV. Dari pengakuan (confession) inilah drama thriller bernuansa kelam selanjutnya dimulai. Karena nggak cuma Yuko-sensei saja, di sepanjang cerita para tokoh utama mengutarakan pengakuannya masing-masing.

7. I Saw the Devil (Korea Selatan; 2010)

Showbox

Film garapan Kim Jee Won ini sarat akan adegan-adegan kekerasan yang sulit dicerna. Tapi jika kita mengkategorikannya ke dalam sub genre gore, berarti I Saw the Devil adalah film gore yang paling sulit saya lupakan. Sebagian besar karena akting Lee Byung Hun dan Choi Min Sik yang begitu meyakinkan, dengan masing-masing berperan sebagai Kim Soo Hyeon, agen rahasia, dan Kyung Chul, si pembunuh berantai.

I Saw the Devil punya premis yang sebenarnya nggak asing bagi penggemar film thriller Korea. Kim Soo Hyeon mendapati tunangannya yang tengah hamil dibunuh dengan keji oleh Kyung Chul. Tapi Soo Hyeon nggak membalaskan dendamnya secara langsung. Ia lebih memilih untuk mempermainkan dan menyiksa Kyung Chul, sebelum melepasnya pergi. Lalu ia akan mengejar Kyung Chul untuk menyiksanya kembali. Siklus itu terus berulang hampir sepanjang durasi film.  

Namun siklus tersebut hanyalah pengantar menuju jalan cerita yang mendebarkan dan penokohan yang kuat, sampai-sampai saya menganggap film ini terlalu spesial dan berkelas. Buktinya sampai detik ini, saya kesulitan menyebut protagonis di film thriller lain yang sependendam dan sebrutal Kim Soo Hyeon.

8. Se7en (AS; 1995)

New Line Cinema

Sering disebut sebagai salah satu film crime terbaik era 90-an, Se7en berpusat pada kasus pembunuhan berantai yang terinspirasi dari 7 Deadly Sins (7 dosa besar), di mana pelaku membunuh para korban berdasarkan jenis dosa yang mereka perbuat. Kasus tersebut diselidiki oleh dua detektif yang diperankan oleh Brad Pitt dan Morgan Freeman.

Keunggulan Se7en terletak pada bagaimana sutradara David Fincher berhasil meracik plot bernuansa gelap yang berujung pada plot twist yang bakal menempel di benak penonton. Ya, di film ini kamu bakal menyaksikan salah satu plot twist sebagai terbaik yang ada di film.

9. Kill List (Inggris; 2011)

Optimus Relelasing

Jay, yang seorang mantan tentara, kesulitan menafkahi istrinya sejak delapan bulan terakhir. Karena itu ia sering bertengkar dengan istrinya. Tapi akhirnya Jay menemukan solusi dari temannya, Gal. Caranya, yakni dengan menjadi pembunuh bayaran.

Paruh pertama film ini mungkin terkesan agak sedikit membosankan. Alurnya cenderung lambat, bikin kamu nggak sabar buat lompat ke bagian aksinya. Tapi mohon bersabar. Justru di bagian awallah kamu diajak menyelami karakter-karakternya. Toh kesabaranmu bakal terbayar di paruh keduanya yang sangat intens dan juga ending-nya yang gila.

Film bertema pembunuh bayaran karya Ben Wheatley ini memang nggak terlalu terkenal. Tapi saya berani jamin, Kill List bakal memuaskan hati para penggemar violence-movie dengan adegan-adegan brutalnya yang dramatis.

10. Funny Games (Austria; 1997)

Castle Rock Entertainment

Dua remaja, Peter dan Paul, menyusup ke keluarga Georg yang baru mereka kenal. Dan begitu mereka berada di dalam rumah, duo psikopat ini menyiksa Georg beserta istri dan anaknya, memaksa mereka memainkan permainan sadis yang mematikan.

Funny Games berhasil menyuguhkan tokoh remaja psikopat dengan gaya yang berkelas. Di usia yang masih muda, Peter dan Paul paham betul bagaimana “cara paling menyenangkan” untuk menyiksa orang lain. Mereka adalah tipe psikopat yang tega menembak anak kecil tanpa alasan yang jelas!

Penyiksaan yang Peter dan Paul lakukan terhadap keluarga Georg ditampilkan dengan gamblang, membuat film ini mendapat predikat the most disturbing alias terlalu mengganggu untuk ditonton. Tapi di sisi lain, nuansa menegangkan itu bikin saya harap-harap cemas kalau situasi akan berbalik memihak keluarga Georg.

Sayangnya, setiap kali harapan itu terlihat, datang adegan sadis yang baru. Dan pola tersebut terus berulang sampai saya akhirnya merasa putus asa. Meskipun, keputusasaan itu lebih terasa sebagai pertanda kalau film ini akan terus membekas di benak saya dalam beberapa hari ke depan.

11. Housebound (Selandia Baru; 2014)

Semi-Professional Pictures

Kyle Bucknell dipaksa kembali ke rumah masa kecilnya setelah tertangkap melakukan aksi kriminal. Ia harus rela jadi tahanan rumah selama enam bulan sembari diawasi oleh Ibu dan ayah tirinya. Tanpa disangka, di rumah itu Bucknell mendapat gangguan-gangguan misterius yang entah dari mana datangnya.

Dari sinopsis singkatnya, kamu mungkin mengira ini film horor hantu. Oh, kamu terlalu naif kalau berpikir seperti itu…

Menurut saya, Housebound layak masuk daftar ini karena punya cerita yang unik. Ia satu-satunya film thriller dalam daftar ini yang kaya akan adegan komedi slapstick dan karakter lucu, tapi juga punya unsur misteri yang menggelitik rasa penasaran.

12. Infernal Affairs (Hong Kong; 2002)

Media Asia Distribution

Mungkin inilah film Hong Kong terbaik sepanjang masa. Infernal Affairs bercerita tentang polisi (Tony Leung) yang menyamar menjadi anggota mafia, dan seorang anggota mafia yang menyamar jadi polisi (Andy Lau).

Buat kamu yang kurang suka film aksi polisi-mafia, jangan dulu berpikiran skeptis. Saya berani jamin Infernal Affairs bakal jadi film mafia paling berkesan yang pernah kamu tonton. Jangan salahkan saya kalau kamu terpukau dengan aksi-aksi spionase yang ditawarkan film ini.

Bagi saya sendiri, kerumitan alur cerita Infernal Affairs membenturkan saya pada pertanyaan mana pihak yang harus saya dukung. Film ini memberi saya lebih banyak pesan (moral) dibanding sekadar aksi baku tembak, membuat saya fokus menyelami perkembangan dua tokoh utamanya.

13. Nightcrawler (AS; 2014)

Open Road Films

Cerita Nighcrawler berpusat pada seorang pencuri, Lou Bloom (Jake Gyllenhaal), yang hidupnya berubah drastis setelah menemukan pekerjaan baru sebagai jurnalis lepas. Lou mencari uang dengan cara merekam peristiwa kriminal di jalanan Los Angeles, lalu menjualnya ke stasiun TV.

Beruntung, Lou bertemu Nina Romina, produser TV yang rela melakukan apa pun demi rating. Kesempatan tersebut tak disia-siakan Lou yang kian hari kian nekat melakukan cara “kotor” (baca: melanggar hukum) untuk mendapat rekaman yang menarik. Seiring cerita menekankan obsesi Lou terhadap uang, semakin terungkap pula kepribadian asli Lou yang nggak lebih dari psikopat manipulatif.

Delapan koma lima jempol saya berikan untuk Jake Gyllenhaal yang berhasil membawakan karakter Lou dengan sangat fantastis.

14. Prisoners (AS; 2013)

Warner Bros Pictures

Mengetahui sang buah hati diculik adalah mimpi buruk bagi semua orang tua. Begitupun bagi Keller Dover (Hugh Jackman) yang kehilangan Anna, putri semata wayangnya.

Film besutan Dennis Villaneuve ini berfokus pada upaya Dover dan detektif Loki (Jake Gyllenhaal) menemukan Anna dan temannya yang telah diculik. Satu-satunya petunjuk yang mereka punya adalah mobil van tua yang terparkir di pinggir jalan di sekitar lokasi kejadian. Tapi si supir van (Paul Dano) nggak bisa diadili karena kurangnya bukti.

Prisoners menggabungkan ikatan emosional keluarga dengan kepingan misteri. Kerennya, untuk merangkai kepingan misteri tersebut, penonton dipaksa menyaksikan adegan suspense yang menantang nilai-nilai kemanusiaan.

Merasa depresi anaknya nggak kunjung ditemukan, Dover mencoba mengambil jalan pintas dengan cara kekerasan. Targetnya siapa lagi kalau bukan satu-satunya tersangka di cerita ini. Yup, si supir van.

15. Rear Window (AS; 1954)

Paramount Pictures

Sekarang saatnya saya memasukkan salah satu karya dari Alfred Hitchcock, sutradara legendaris yang sering disebut sebagai Master of Suspense. Oke, mungkin di antara kamu ada yang menganggap film ini terlalu lawas untuk ditonton di zaman now. Ayolah, buktikan kalau kamu memang moviegoer sejati!

Rear Window bercerita tentang fotografer bernama Jeff yang baru saja mengalami patah kaki, membuat ia harus “terjebak” di kursi roda. Dengan kondisi seperti itu, Jeff terpaksa menghabiskan hari-hari di dalam apartemen miliknya. Jadi untuk mengobati rasa bosan, Jeff kerap memantau aktivitas tetangganya lewat jendela apartemen dengan kamera. Tindakan yang berawal dari keisengan semata berubah jadi momen menegangkan saat Jeff mendapati tetangganya melakukan tindak kriminal.

Menurut saya, Rear Window seperti mengaburkan batas antara cerita dan penonton. Kita harus terus melihat Jeff terkurung di satu tempat, dan itu juga yang bisa bikin kita seakan terus berada di sampingnya dan ikut terlibat ke dalam cerita. Kita nggak akan merasa aktivitas memata-matai yang dilakukan Jeff sebagai suatu hal aneh, karena kita tahu apa yang dirasakan Jeff.

Seperti halnya Jeff, saya pun dibuat menantikan hal-hal apa lagi yang akan dilakukan tetangga Jeff di seberang apartemen, nggak peduli apakah aktivitas tetangganya itu penting atau nggak (kayak menjemur ikan asin misalnya).

Dan bukan Alfred Hitchcock namanya kalau nggak bisa meracik ending yang sempurna. Rear Window punya adegan klimaks yang membuatnya layak disebut sebagai karya masterpiece.

Dari 15 film thriller di atas, mana yang udah dan yang belum kamu tonton? Apa kamu punya judul recommended lain yang nggak sempat masuk dalam daftar? Atau kamu punya ulasan sendiri mengenai 15 film thriller di atas? Boleh dong share di kolom komentar.

Komentar:

Komentar