15 Film Horor Jepang Terbaik yang Harus Kamu Tonton di Malam Hari

Toho

:

Omong-omong soal film horor, industri perfilman Jepang mungkin jadi yang paling diperhitungkan  setelah Hollywood. Nggak mengherankan sih, soalnya cukup banyak judul film horor Jepang yang sukses di kancah internasional. Hollywood pun sampai nggak jarang membuat ulang film horor Jepang.

Saya sendiri termasuk penggemar berat film horor Jepang. Ada nuansa berbeda yang saya rasakan tiap kali menontonnya, entah itu dari hantunya, jalan cerita, sinematografi, atau pembangunan suasana horornya. Intinya, film horor Jepang punya pesona yang khas dibanding film horor buatan Hollywood.

Buktinya bisa kamu lihat sendiri di 15 film horor Jepang terbaik berikut ini.

1. Audition (1999)

Omega Project

Shigeharu Aoyama, seorang duda paruh baya, didesak oleh putranya untuk mulai mencari istri baru. Setelah malu-malu tapi mau, Aoyama pun menerima saran anaknya itu. Ia mulai bergerilya mencari calon istri dengan kedok audisi pencarian aktris. Dari audisi itu, Aoyama menemukan calon istri idamannya, seorang wanita muda bernama Asami Yamazaki.

Film garapan Takashi Miike ini punya paruh awal yang terkesan seperti film drama romantis. Tapi saat itu juga kamu bakal menyadari ada satu misteri yang mengganjal dalam cerita: siapakah Asami sebenarnya?

Nah, pertanyaan itu juga nampaknya ada di benak Aoyama. Seiring usahanya dalam mengungkap identitas asli Asami, adegan-adegan mengerikan yang membuat perut mual pun datang satu demi satu. Jangan salahkan saya kalau kamu pengin muntah saat melihat adegan manusia keluar dari dalam karung.

2. Kairo (2001)

Toho

Cerita film yang disebut juga dengan Pulse ini berpusat pada seorang wanita bernama Kudo, yang menyaksikan temannya bunuh diri tepat di depan matanya. Setelah melakukan penyelidikan, Kudo meyakini kalau kematian temannya disebabkan oleh file dalam disket yang tertinggal di komputer milik almarhum.


Lewat Kairo, sutradara Kiyoshi Kurosawa menceritakan kisah tentang hantu yang bisa meneror manusia lewat internet, konsep yang saat film ini dirilis masih jarang ditemukan di genre horor.

Tapi jangan salah, bukan Kurosawa-sensei namanya kalau nggak bisa mengemas konsep yang nggak biasa menjadi sajian horor berkualitas. Dan mungkin itu juga yang jadi alasan mengapa film ini sampai dibuat versi Hollywood-nya di tahun 2006. Saya sendiri takut sekaligus deg-degan pas nonton beberapa adegan seram Kairo.

3. Ringu (1998)

Toho

Inilah judul yang mengharumkan nama Jepang di kancah perfilman horor dunia. Kesuksesan Ringu bahkan mencapai tingkat di mana ia sanggup menginspirasi banyak film horor lainnya.

Lantas, apa sih yang bikin film ini terasa spesial?

Jawabannya simpel, film ini punya jalan cerita yang tenang tapi menghanyutkan, membuat kita terlena mengikuti investigasi misteri yang dilakukan karakter utamanya, sebelum menggebrak lewat plot twist jempolan di bagian akhir.

Ringu bakal mengantar kamu pada kisah tentang kaset video terkutuk yang bisa membunuh siapa pun yang menontonnya. Selama misteri di balik video belum terungkap, kutukan itu akan terus berlanjut. Lebih mengerikannya lagi, hal terakhir yang akan dilihat korban sebelum ajal menjemput ialah wajah wanita misterius berambut panjang, Sadako.

4. Ju-On: The Curse (2000)

Toei Video Company

Dua tahun setelah Ringu dirilis, muncul satu lagi film horor Jepang yang membikin sineas Hollywood terkesima. Yup, Ju-On: The Curse.

Ringu dan Ju-On punya beberapa kesamaan. Pertama, sama-sama bercerita tentang kutukan. Kedua, sama-sama punya banyak sekuel. Ketiga, sama-sama melahirkan karakter hantu dan adegan horor yang paling sulit dilupakan.

Jumpscare di film ini tergolong minim, tapi bukan berarti hantunya jarang nongol. Sutradara Takashi Shimizu sepertinya lebih memilih memunculkan hantunya dengan cara yang samar-samar tapi pasti. Contohnya di satu momen, kamu cuma bisa lihat hantunya sekilas dan malah jadi penasaran. Tapi rasa penasaranmu itu bakal terobati di adegan berikutnya.

Belum lagi, ada satu adegan puncak di mana kamu bisa melihat sosok Kayako sejelas-jelasnya, dari kepala sampai kaki.

5. House (1977)

Toho

House atau Hausu bercerita tentang sekelompok gadis yang mengunjungi rumah di desa terpencil. Sesempainya di sana, mereka menyadari bahwa rumah tersebut ternyata berhantu. Teror pun dimulai ketika satu per satu gadis itu menemui ajal dengan cara yang nggak masuk akal.

Meski tergolong film jadul, House cukup dikenal penggemar film horor zaman sekarang berkat sinematografinya yang istimewa dan menghibur. Nggak cuma sinematografinya aja sih, tokoh antagonisnya pun agak nyeleneh, beda dari konsep mainstream film horor rumah berhantu. Buktinya, beberapa gadis di dalam cerita tewas dimakan (ya, dimakan) barang-barang rumahan kayak piano dan lampu kamar.

Keanehan House nggak cuma sampai di situ. Hampir di sepanjang cerita kamu bakal nemuin adegan-adegan horor tak terduga yang dibalut dengan efek dramatisasi unik. Semua keunikan yang terpancar di House membuatnya diakui di industri perfilman dunia dan mendapat predikat cult (film yang dikultuskan oleh penggemarnya).

6. Dark Water (2002)

Toho

Yoshimi, wanita yang baru saja bercerai dengan suaminya, mencoba memulai kehidupan baru bersama putrinya. Mereka pindah ke apartemen kumuh yang atapnya sering bocor. Ternyata di atas ruangan yang dihuni Yoshimi, ada kamar yang jadi sumber kebocora. Tapi kamar itu terkunci dan sepertinya tak berpenghuni.

Dari situlah kejadian ganjil mulai dialami Yoshimi dan putrinya. Salah satunya tas merah dan boneka kelinci yang terus muncul di depan rumah meski sudah dibuang berulang kali. Kengerian pun semakin menjadi saat Yoshimi mencoba mengungkap siapa pemilik tas dan boneka itu.

Dark Water berhasil menggabungkan ikatan emosional anak dan ibu dengan kisah hantu urban. Ceritanya nggak cuma menyeramkan, tapi juga dibumbui elemen psikologis yang pada akhirnya bikin penonton semakin bersimpati terhadap dua tokoh utama. Itulah mengapa karya masterpiece dari Hideo Nakata ini sayang banget buat kamu lewatkan.

7. One Missed Call (2003)

Toho

Apa jadinya jika kamu dapat panggilan telepon dari nomor HP kamu sendiri? Begitu kamu angkat, ternyata, kamu mendengar suara creepy yang menjelaskan tentang kematian kamu di masa depan. Hmm… kalau saya sih bakal langsung buang hapenya. Mungkin HP itu udah kena kutukan Nyi Pelet, hiii.

Yup, One Missed Call berkisah tentang kutukan yang menyebar melalui telepon seluler. Menariknya, Yumi Nakamura sang karakter utama termasuk salah satu orang yang kena kutukan itu. Ia pun berusaha mati-matian buat lolos dari kematian di tanggal yang udah ditentukan.

Pesona One Missed Call terletak pada nuansa kelam dan penggambaran kematian yang dialami para korban. Adegan horor yang diharapkan penonton pun seringkali muncul di saat yang tepat dan sesuai porsinya. Keunggulan itulah yang bikin film arahan Takashi Miike ini jauh dari kesan murahan, meskipun tema kutukan udah mulai banyak digunakan dalam film horor.

8. Rinne (2005)

Toho

Demi membuktikan teori reinkarnasi, seorang profesor tega membantai istri dan anak-anaknya seraya merekam kejadian keji tersebut. 20 tahun kemudian, sutradara yang menonton rekaman itu terinspirasi untuk mereka ulang kisah pembantaian ke dalam film terbarunya. Nggak disangka, aktris yang jadi tokoh utama dalam film diteror oleh arwah korban pembantaian.

Sama seperti Ju-On: The Gridge, Rinne (Reincarnation) disutradarai oleh Takashi Shimizu yang udah dikenal sebagai pembuat film horor bermutu. Saya pribadi termasuk pengagum karya Shimizu. Di film ini, Shimizu lagi-lagi nggak mengumbar kengerian dengan jumpscare yang mengganggu, tapi ia tetap bisa membangun suasana horor yang mencekam di sepanjang cerita.

Saking mencekamnya, beberapa adegan horor di film ini mungkin akan terus nempel di kepala kamu dalam waktu lama.

9. P.O.V: Norowareta Firumu (2012)

Toho

Nggak semua horor supranatural berkonsep film dokumenter (found-footage) selalu berhasil menyajikan suasana horor yang terkesan realistis. Namun film garapan sutradara Norio Tsuruta yang berjudul P.O.V: A Cursed Film ini berhasil melakukannya dengan cukup meyakinkan.

Haruna dan Mirai adalah presenter acara TV yang membahas video hantu. Di tengah proses syuting, mereka mengalami kejadian supranatural usai memutar salah satu video kiriman penonton. Video yang mengambil lokasi di sekolah Haruna tersebut akhirnya membuat seluruh kru TV tertarik menyelidiki lebih lanjut ke TKP. Di sekolah itulah Haruna dan Mirai diganggu habis-habisan oleh sosok tak kasat mata yang jadi sumber kutukan.

Menurut saya, P.O.V: Norowareta Firumu adalah murni hiburan bagi penggemar film horor. Dengan kata lain, kamu nggak perlu mengharapkan alur cerita yang berkelas atau twist mengejutkan, sebab film ini lebih mengedepankan elemen horornya. Untungnya, alur cerita yang kurang kuat berhasil ditutupi oleh atmosfer mengerikan yang terus menghantui sejak alur cerita beralih ke gedung sekolah.

10. Marebito (2004)

Toho

Marebito berkisah tentang Masuoka, seorang juru kamera lepas yang nggak sengaja melihat aksi bunuh diri Arei Furoki di stasiun kereta bawah tanah. Sejak saat itu, Masuoka sangat terobsesi pada rasa takut yang begitu kuat. Untuk memahami rasa takut yang dialami Furoki, Masuoka menjelajahi terowongan bawah tanah dan menemukan gua misterius.

Namun di dalam gua, Masuoka menemukan gadis telanjang dan bisu yang dirantai ke dinding. Entah apa yang merasuki Masuoka, ia melepas rantai pengekang, lalu membawa gadis itu ke apartemennya. Masuoka nggak tahu kalau gadis itu bukanlah manusia biasa.

Untuk ketiga kalinya, saya memasukkan film berbujet minim karya Takashi Shimizu ke dalam daftar. Tapi agak berbeda dengan Ju-On dan Rinne, Marebito disisipi adegan sadis yang sulit dicerna, tapi kayaknya bakal disukai penikmat film horor. Selain itu film ini punya keunggulan dari segi alur cerita dan perkembangan karakter yang kuat. Sebab pada dasarnya, Marebito menitikberatkan pada perubahan yang dialami sang karakter utama akibat konsekuensi dari tindakannya.

“Hmm… ada kalanya suatu misteri dibiarkan menjadi rahasia.” Kira-kira begitu kesan yang saya dapat usai menonton kisah Masuoka di Marebito.

11. Onibaba (1964)

Toho

Onibaba bakal membawa kamu ke masa Perang Sipil di Jepang sekitar tahun 1300-an. Syahdan, di masa itu hiduplah seorang wanita tua dan menantu perempuannya. Mereka berdua hidup miskin dan sudah tak memiliki pasangan.

Suatu hari, sang mertua memergoki menantunya berhubungan mesra dengan samurai yang ia curigai sebagai pembunuh putranya. Ia kemudian berpura-pura menjadi Onibaba, untuk menakut-nakuti menantunya agar tak menjalin hubungan dengan pria itu. Onibaba sendiri adalah iblis berwujud wanita tua dalam cerita rakyat Jepang.

Onibaba merupakan film klasik karya Kaneto Shido yang bernuansa kelam, menyeramkan, tapi menyimpan keindahan yang sarat makna. Film ini menyoroti kecemburuan yang dialami si wanita tua dan ketakutannya menjalani hidup seorang diri. Bahkan dengan nekatnya, ia memanfaatkan hal berbau klenik seperti Onibaba agar rencananya berjalan mulus.

Proses itulah yang akan menggiring kita menuju twist tragis di bagian akhir yang seakan menyiratkan pesan: “Jangan main-main dengan iblis!”

12. Noroi: The Curse (2005)

Xanadeux

Noroi: The Curse ibarat permata yang tertimbun di bawah tumpukan film horor mainstream Hollywood. Film ini nggak begitu terkenal, tapi sanggup memuaskan hati para penggemar horor lewat alur cerita, misteri, dan sinematografi yang mendebarkan.

Alkisah ada seorang paranormal bernama Kobayashi yang mencoba membuat film dokumenter tentang peristiwa supranatural. Film itu berhasil dibuat. Tapi sayangnya, Kobayashi menghilang tanpa jejak. Rumahnya terbakar hangus dan melenyapkan nyawa istri beserta anaknya. Lewat film dokumenter itu, penonton diajak menelusuri kisah Kobayashi saat menyelidiki sejumlah fenomena gaib yang disebut “Noroi” atau kutukan.

Noroi terkenal karena ceritanya yang panjang dan sangat rumit, nggak seperti film horor Jepang pada umumnya. Jika melihat sepintas, kasus-kasus gaib yang diselidiki Kobayashi kelihatannya nggak saling berkaitan, seperti kepingan misteri yang tak jelas asal usulnya. Tapi seiring cerita berkembang, kamu akan dituntun menuju misteri terdalam tentang kutukan yang jadi sumber masalah. Dan misteri itu berhubungan dengan legenda iblis kuno, Kagutaba.

13. Retribution (2006)

Avex Entertainment

Seorang detektif berpengalaman harus menyelidiki pembunuhan seorang wanita tak dikenal yang mengenakan gaun merah tua. Anehnya, semua petunjuk yang ia temukan mengarah pada dirinya sendiri. Si detektif pun mulai mempertanyakan jati dirinya, seraya mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada wanita bergaun merah.

Namun tak lama setelah itu, hantu yang mengenakan gaun merah tua mulai mendatanginya, dan kasus pembunuhan serupa mulai terjadi di beberapa tempat.

Narasi yang kuat jadi senjata ampuh di film karya Kiyoshi Kurosawa yang satu ini. Di beberapa titik, kamu mungkin kesulitan mengikuti memahami ceritanya. Tapi di situlah kamu diajak berpikir dan menafsirkan adegan serta momen tertentu menurut pandanganmu sendiri. Intinya, jangan harap semua yang terjadi di film ini diceritakan dengan tuntas sampai akhir.

Retribution bukanlah film horor biasa yang bisa dinikmati semua orang. Buat penoton yang mendewakan jumpscare dan adegan seram yang bikin bulu kuduk berdiri, ini mungkin bukan film yang cocok buat kamu. Tapi bagi penonton yang lebih mengidamkan alur cerita yang cerdas, Retribution bisa jadi opsi terbaik.

14. Kwaidan (1964)

Toho

Kwaidan terdiri dari empat kisah berbeda (antologi) yang masing-masing diangkat dari cerita rakyat Jepang. Penggemar horor zaman now mungkin nggak terlalu mengenal film ini, tapi ia berhasil meraih tempat khusus di jagat perfilman dunia. Semua itu berkat keartistikan yang terpancar dari berbagai aspek perfilman, seperti sinematografi, narasi, akting, makeup, dan latar tempatnya.

Film karya Masaki Kobayashi ini mengajakmu menelusuri empat kisah rakyat Jepang: Yukki Onna (hantu wanita salju), The Black Hair (legenda rambut hitam), Hoichi the Earless (Hoichi yang tak bertelinga), dan In a Cup of Tea (wajah di cangkir teh). Hebatnya, Kobayashi sanggup menceritakan masing-masing kisah dengan gaya yang artistik, tanpa memudarkan aspek horornya.

Filim ini nggak cuma jadi referensi buat penggemar film horor saja, tapi juga jadi sajian menarik untuk para penikmat seni, serta orang-orang yang menyukai sejarah dan kebudayaan Jepang.

15. Tetsuo: The Iron Man (1989)

Kaijyu Theaters

Tetsuo: The Iron Man adalah film horor garapan Shinya Tsukamoto yang mengangkat tema cyberpunk. Yup, di film ini kamu bakal melihat manusia dan monster besi yang biasanya nongol di film-film sains fiksi, tapi jauh dari kesan canggih atau pun mewah.

Cerita berpusat pada seorang pebisnis yang membunuh The Metal Fetishist (orang yang punya obsesi terhadap metal/besi) dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sang pebisnis dan pacarnya kemudian mencoba menyembunyikan hasil kejahatan mereka. Tapi entah bagaimana, Metal Fetishist hidup kembali untuk balas dendam. Ia mengutuk pebisnis yang telah membunuhnya dengan cara mengubah wujud korban hingga nampak seperti campuran daging dan logam berkarat yang mengerikan.

Kengerian film ini bakal langsung terasa di adegan pembuka, yakni saat Metal Fetishist membedah kakinya sendiri, lalu memasukkan sebatang besi ke dalam dagingnya. Sungguh adegan horor yang mengerikan sekaligus absurd.

Eits, tapi itu hanya bagian kecil dari seluruh adegan horor absurd yang tersebar di sepanjang cerita. Nuansa kelam pun semakin terasa dengan sinematografi hitam putih dan dialog yang minim. Saya berani jamin, Tetsuo The Iron Man bakal jadi film horor surreal yang nggak mudah kamu lupakan begitu saja.

Penggemar film horor veteran pasti udah familiar dengan beberapa judul film horor Jepang di atas. Tapi buat kamu yang baru menyelami genre film horor, saya sarankan Ringu, Ju-On: The Grudge, dan Audition sebagai tontonan pembuka. Setelah menonton film itu, ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Pertama, kamu bakal makin suka dengan film genre horor. Kedua, kamu malah jadi benci karena dibikin ketakutan setengah mati. Nah lho, kira-kira kamu ada di kategori mana nih? Hasilnya tergantung nyali kamu sih.

bayubaharul :