Goosebumps 2: Haunted Halloween yang Kalah dari Film Pertamanya

Pertanyaan utama: kenapa Jack Black nggak lagi jadi andalan utama?

Pernah mendengar atau malah jadi pembaca serial buku horor karya R.L. Stine berjudul Goosebumps? Setelah pertama kali diadaptasi ke dalam bentuk film layar lebar pada tahun 2015 lalu, sekuel terbarunya kembali hadir di tahun 2018 ini.

Dan nggak cukup hanya menambahkan embel-embel angka 2, sekuel ini juga turut mencamtumkan sub judul Haunted Halloween. Hiii… seram!

Cukup deh sesi lebaynya. Mari kita langsung beralih ke ulasannya.

Sekuel Goosebumps dengan latar perayaan Halloween

via hollywoodreporter.com

Walau berstatus sebagai sekuel, Dylan Minnette dan Odeya Rush yang dulu ikut membintangi film pertamanya malah nggak dilibatkan kali ini. Namun, untungnya, Jack Black tetap kembali muncul memerankan sosok R.L. Stine, meski porsinya bukan sebagai pemeran utama lagi.

Dan itu agak disayangkan sih. Kamu bisa baca alasannya di bagian bawah.

Haunted Halloween kini menceritakan tentang dua orang bocah, Sonny (Jeremy Ray Taylor) dan Sam (Caleel Harris) yang secara nggak sengaja mengeluarkan Slappy si boneka jahat saat sedang membersihkan rumah kosong yang dulu dihuni R.L. Stine (Jack Black).

Dibantu oleh Sarah (Madison Iseman), kakak dari Sonny, mereka bertiga akhirnya berusaha menghentikan kekacauan di malam Halloween akibat ulah Slappy yang juga memanggil teman-teman monsternya.

Monster yang kembali hadir meski sebatas karakter tempelan

Boneka Slappy the Dummy/via geektyrant.com

Haunted Halloween memunculkan kembali Slappy sebagai antagonis utama yang harus dihadapi. Lewat dirinya juga film secara nggak langsung ikut menghadirkan beberapa monster lain yang sempat muncul dalam film pertamanya, seperti monster salju dan manusia serigala.

Namun berbeda dengan film pertamanya yang masih bisa mengeksplorasi adegan aksi dengan para monster, Haunted Halloween malah mengurangi porsi tersebut di dalam cerita. Kamu mungkin ingat dengan adegan dalam film sebelumnya saat para karakter dikejar-kejar monster salju, manusia serigala, hingga gerombolan Gnome.

Tapi mungkin karena sudah mendapat jatah muncul, monster-monster ikonik yang kembali hadir dalam Haunted Halloween malah terasa kurang dimaksimalkan. Akhirnya mereka hanya terasa jadi sebatas karakter tempelan belaka. Ini serba salah sih.

Toh, kalau monster salju dan manusia serigala kembali diceritakan mengejar karakter protagonis dalam Haunted Halloween, itu malah bikin terlihat sebagai reka ulang adegan dan jadi kurang menarik, ‘kan?

Monster jelly? Bisa dimakan dong?/via bloody-disgusting.com

Sebagai gantinya, kamu bisa menyaksikan monster lain seperti monster jelly, monster laba-laba, hingga tengkorak hidup yang dihadapi Sonny, Sam, dan Sarah.

Porsi Jack Black yang sedikit jadi kurang lucu

via latimes.com

Haunted Halloween masih menggunakan unsur komedi seperti film pertamanya. Hal ini yang akhirnya membuat rangkaian film Goosebumps terhitung ramah penonton karena dibuat bukan untuk menakut-nakuti. Ya, monster-monster Haunted Halloween tetap nggak terlihat seram dan muncul macam kostum Halloween yang dikenakan figuran semata.

Beberapa jokes yang dihadirkan juga terbilang lucu tanpa harus hadir dengan gaya slapstik. Salah satu punchline terbaik bagi saya terjadi saat R.L. Stine melihat sebuah balon merah melayang. Dia berkata kalau ide tersebut dimiliki olehnya pertama kali, bukan Stephen King dalam kisah IT yang fenomenal.

Tapi setelah saya tonton sampai habis, Haunted Halloween entah kenapa malah hadir kurang menarik seperti pendahulunya. Apakah karena porsi tampil Jack Black yang sedikit dan kurang bisa menyelamatkan film ini?

Jack Black sebagai R.L. Stine/via screenrant.com

Kalau kamu ingat juga, Jack Black memang lebih membantu di film pertama, karena hanya karakternya yang diceritakan bisa mengembalikan kembali para monster ke dalam buku lewat ketikan tulisannya.

Di sekuelnya, cara monster-monster kembali ke dalam buku justru cukup dengan membuka buku manuskrip ke arah monster. Lalu tinggal menunggu waktu bagi monster-monster buruk rupa itu untuk tersedot kembali ke dalam buku. Konsep yang berbeda ini juga akhirnya membuat saya teringat dengan Ghostbusters; cara mereka membuka buku dan menarik para monster hadir tak ubahnya metode kelompok Ghostbusters dalam menangkap hantu.

Pun demikian, sekuel Goosebumps ini masih terhitung menyenangkan untuk disimak. Dengan cerita yang ringan berbalut tema keluarga, latar unsur Halloween-nya ikut berpadu menghadirkan sebuah sajian yang menarik, mengingat bulan Oktober memang identik dengan perayaan Halloween.

Ditutup dengan sebuah indikasi akan adanya sekuel lagi, kira-kira siapa yang akan dihadapi kembali oleh para pemain dalam film ketiganya nanti? Saya sih berharap si Manusia Tak Kasat Mata bisa mengambil peran, karena ia justru disinggung dengan muncul di penghujung film pertamanya.

- Advertisement -
Shares 14

Komentar:

Komentar