Sudah Ada Sejak Lama, Kenapa eSport di Indonesia Baru Berkembang Akhir-Akhir Ini?

esports nggak cuma soal main game

Sejak 2017 bisa dibilang eSport begitu jaya di Indonesia. Dari yang dulunya cuma dikenal segelintir orang, kini eSport bahkan merambah ke segala aspek dan tingkatan ekonomi. Turnamen pun diadakan di mana-mana, mulai dari tingkat tarkam sampai yang internasional semua ada di Indonesia.

Tapi eSport bukan baru-baru ini masuk ke Indonesia. Sebenarnya udah sejak zaman dulu, bahkan sebelum tahun 2000-an, eSport mulai “menginvasi” Indonesia. Udah lama juga ya. Lantas kenapa setelah belasan tahun eSport baru benar-benar berkembang?

Sejarah eSport di Indonesia

Kali pertama turnamen eSport hadir di dunia adalah pada tahun 1972. Tapi waktu itu eSport masih disebut sebagai turnamen video game. Diadakan di Standford University, Amerika Serikat, game yang dipertandingkan adalah game arcade Spacewars.

17 tahun setelahnya eSport pun masuk ke Indonesia. Ini diperkuat dengan viralnya foto di banyak akun sosial media baru-baru ini. Di foto tersebut terlihat penampakan Surabaya Mall tempo dulu dan spanduk bertuliskan perlombaan Nintendo tingkat Jatim 1989. Meski nggak ada keterangan yang jelas mengenai lomba tersebut, foto itu mematahkan pendapat yang bilang kalau eSport baru masuk di Indonesia di tahun 1999.

lomba nintendo jatim 1989
Tebakan saya sih lomba Donkey Kong pasti nih/via indogamers.com

Tapi perkembangan yang benar-benar serius baru dimulai tahun 2001. Kala itu game Counter Strike benar-benar mewabah di kota-kota besar di Indonesa. Banyak anak muda, termasuk saya, yang rela menghabiskan waktu berjam-jam buat main CS. Seolah tinggal menunggu waktu, lomba-lomba pun diadakan dari warnet ke warnet dan dari mal ke mal.

Sampai akhirnya perkembangan yang baik datang di tahun 2002. Kala itu Indonesia diberi undangan untuk pertama kalinya di ajang World Cyber Games. Ya, perwakilan dari Indonesia udah masuk kompetisi tingkat dunia pada tahun tersebut. Tapi sayang, Indonesia langsung gugur di babak penyisihan grup di enam game yang diikuti, termasuk StarCraft.

Baru pada tahun berikutnya Indonesia bisa menunjukkan taringnya, dengan diwakili tim legendaris dan juga pionir tim eSport profesional dalam negeri, XCN. Kala itu pada debutnya di WCG dalam ajang Counter Strike, XCN berhasil merangsek ke peringkat enam dunia.

MMORPG dan lesunya eSports Indonesia

tim XCN wcg 2009
via viva.co.id

Sejak kesuksesannya di tahun 2003, XCN begitu mendominasi di tingkat nasional hingga sekitar 2010-an. Meski saat itu XCN memiliki pesaing dalam negeri yang juga cukup kuat, NXL, dominasi tim papan atas membuat tim papan bawah jadi lesu dan malas untuk bersaing. Perbedaan dari aspek peralatan saja udah sangat jauh, nggak seperti eSport pada masa sekarang.

Itu masih diperparah lagi dengan hadirnya game MMORPG seperti Ragnarok, dan juga peralihan ke game MOBA seperti DOTA. Regenerasi pemain profesional jadi minim banget. Apalagi saat itu media sosial populer Facebook baru lahir, dan belum semua orang memakainya. Lambatnya perkembangan internet juga jadi salah satu pengaruh. Indonesia yang harusnya sudah merajai Asia sejak lama mesti menunggu sampai sekitar tahun 2011.

Perkembangan eSports mulai berjalan kembali semenjak NXL berhasil menjuarai Asian Cyber Game di tahun 2013 lewat game Counter Strike. Ini juga diikuti dengan perkembangan game lain seperti DOTA, LOL, dan Point Blank. Meski begitu eSport tetap belum berkembang maksimal karena stigma negatif yang melekat pada gamer dan masih kurangnya perhatian dari pemerintah saat itu.

Saya ingat waktu saya masih lebih muda dulu, banyak anak sekolah yang bolos buat main game di warnet atau rental. Dan bisa ditebak, para orangtua menganggap game sebagai biang keladi dari malasnya anak-anak untuk belajar.

Sekarang masih kayak gitu juga nggak sih?

bolos sekolah ke warnet
Untung dulu saya nggak pernah kena razia kayak gini/via monitor.co.id

Kalau sekarang?

mobile game di indonesia
via gamingcentral.in

Untungnya stigma negatif yang selama ini dibawa oleh gamer udah mulai luntur. Kayaknya nggak ada lagi orang yang menganggap gamer profesional seperti Jess No Limit atau anggota tim eSport sebagai pemalas. Keterlaluan deh rasanya kalau masih ada orang yang berpikir kayak gitu. Malahan, jika ada orangtua yang mengomeli anaknya yang berstatus gamer profesional karena kerjaannya cuma main game doang, orangtua itu tandanya nggak mengikuti perkembangan zaman.

“Nak, cari kerja sana, jangan main game terus seharian.”

“Kerjaan aku kan main game, Pak.”

“Main game!? Main game kok disebut kerjaan. Anak jaman sekarang pada edan kabeh. Dulu ya, waktu bapak masih muda…”

Dan mulailah sang bapak berceramah mengenai perjuangan hidupnya sewaktu masih muda, yang amat sangat berbeda dengan cara yang ditempuh anak muda zaman sekarang. Tapi itu ‘kan dulu, waktu ibu masih muda. Kalau sekarang…

Dengan bermain game, sekarang orang bisa dapat duit. Dengan bermain game, sekarang orang bisa bekerja sekaligus menyalurkan hobi. Dengan memanfaatkan game, investor bisa menggelontorkan dana investasi untuk kemudian mendapat profit.

Yeah… ujung-ujungnya duit lagi sih. Jadi, kenapa sekarang eSport punya citra yang positif? Ya karena dengan eSport, kita bisa dapat duit dengan halal. Aktivitas produktif itu sama dengan aktivitas yang bisa menghasilkan uang. Dan itulah salah satu cara berpikir pragmatisme.

Jadi, jika kamu tertarik jadi atlet eSport tapi orangtua kamu nggak setuju, beri mereka pemahaman tentang arti menjadi atlet eSport di zaman sekarang. Kita juga harus memaklumi, cara berpikir orang yang tumbuh besar di era digital berbeda sama pemikiran orang tua. Orangtua yang lahir di tahun 50 dan 60-an masih banyak yang berpikiran kalau PNS adalah pekerjaan ideal buat anak-anak mereka.

Tapi nggak semua orang pengin jadi PNS ‘kan?

Bila orangtua kamu masih ngotot menolak cita-cita kamu jadi atlet eSport, kamu harus berani berseberangan dengan orangtua kamu. Kamulah yang berhak menentukan arah hidup kamu sendiri, bukan orangtua. Tapi di sisi lain, kamu juga harus siap menerima tanggung jawab, kalau-kalau jalan hidup sebagai atlet eSport yang kamu pilih ternyata gagal.

eSport bukanlah sesederhana hobi bermain game saja. Bahkan ada anggapan bahwa negara dengan eSport yang baik, itu menunjukkan bahwa negara tersebut bisa disebut sebagai negara yang maju. Mungkin.

Entahlah, itu bukan teori, tapi cuma anggapan.

8 Shares

Komentar:

Komentar