Ini Nih 3 Game dengan Jalan Cerita yang Bisa Menyeret Emosi Kamu


Perkembangan teknologi yang pesat mau tak mau turut berdampak pula pada industri video game dan berbagai permainan yang diproduksinya. Jika membandingkan dengan game jadul, perubahan yang paling mencolok pada game generasi teranyar tentu ada pada sisi grafiknya.

Tapi, bukan hanya itu saja perbedaan yang ada, karena kini para pengembang juga terus memperbaiki aspek cerita pada game-game garapan mereka. Bahkan storyline pada beberapa game dapat disetarakan dengan cerita yang ada pada film dan bisa pula mengaduk-aduk emosi kamu, lho.  Nggak percaya? Lihat buktinya pada tiga game ini.

3. Heavy Rain

heavy-rain-origami-killer
via utbgeek.com

Empat karakter berbeda dengan satu tujuan yang sama. Yup, dalam game cinematic interactive besutan Quantic Dream ini, cerita akan berjalan dari sudut pandang empat karakter utama: Ethan Mars, seorang duda yang mengalami depresi; Norman Jayden, agen FBI; Scott Shelby, mantan polisi yang beralih profesi menjadi detektif swasta; dan Madison Paige, wanita penderita insomnia.

Lah, empat orang itu kayaknya nggak punya koneksi sedikit pun kalau kita tengok latar belakangnya, bagaimana mereka bisa punya tujuan yang sama? Nah, itu dia. Benang merah terjalin di antara mereka berempat “berkat” diculiknya anak Ethan oleh pembunuh berantai berjuluk Origami Killer.

Seperti game interaktif lainnya (dan hal ini merupakan salah satu kelebihan dari game semacam ini), setiap keputusan yang kamu buat dalam game ini akan mempengaruhi alur cerita maupun endingnya. Bisa saja kamu terlalu takut menerima tantangan dari Origami Killer, misalnya. Jika itu sampai terjadi, kamu akan kehilangan petunjuk penting mengenai lokasi penyekapan si bocah korban penculikan.

“Ah, tapi ini kan cuma game! Peduli amat si bocah itu selamat atau nggak.” Benarkah begitu? Suatu narasi bisa disebut bagus apabila kamu merasa dilibatkan ke dalamnya dan rela memberikan kepeduliannya. Heavy Rain tentunya punya kemampuan untuk melakukan itu.

Jika kamu memutuskan untuk meraih controller PlayStation kamu dan memainkan game ini (uhm, ya, Heavy Rain dibuat ekslusif untuk konsol PlayStation 3 & 4), secara otomatis kamu akan digiring untuk memahami setiap karakter yang kamu mainkan. Kemudian, tanpa kamu sadari akhirnya kamu akan merasa penasaran untuk mengungkap sosok di balik Origami Killer itu sekaligus menyelamatkan nyawa si bocah.

Jadi, layaknya dalam kehidupan nyata, berhati-hatilah dalam membuat sebuah keputusan dalam Heavy Rain.

2. Silent Hill 2

silenthilljames
via adventurelantern.com

Yup, Silent Hill 2 buatan Konami memang termasuk game lawas. Tentu saja grafiknya bisa dikatakan ketinggalan zaman jika kita memainkannya sekarang dan pergerakan karakternya juga terasa kaku.

Tapi, itu semua tidak lantas bisa dijadikan alasan untuk tidak memainkan game yang disebut banyak orang sebagai  game survival horror terbaik sepanjang masa ini. Kenapa? Karena ada dua aspek dari game ini yang pantas diacungi jempol dan mustahil untuk dikesampingkan: atmosfer horor yang mencekam dan, pastinya, cerita yang terkandung di dalamnya.

Bayangkan jika kamu berada di gerbang sebuah kota hantu yang diselimuti kabut tebal, lengkap dengan berbagai jenis makhluk seram yang siap menyambutmu. Kamu memasuki kota itu karena kamu mau mencari seseorang… yang sudah wafat tiga tahun lalu.

Loh, kenapa bisa? Alasannya sederhana saja: karena kamu menerima surat dari orang yang kamu cari. Isi suratnya memberi tahumu kalau ia sedang menunggumu di kota itu.

Itulah awal cerita dari Silent Hill 2, dimana James Sunderland, sang tokoh utama, memberanikan diri memasuki kota terkutuk Silent Hill demi mencari istrinya, Mary.

Ceritanya aneh, ya? Bisa dikatakan, itu hanya permulaan dari seabrek keanehan serta keganjilan yang akan kamu temukan di sepanjang permainan. Ya, memang banyak keganjilan dalam game yang satu ini. Dari mulai karakterisasi para karakternya hingga settingnya sendiri.

AngelaKnife
via silenthillwikia.com

Berbeda dengan Silent Hill 1&3 yang berpusar pada okultisme, Silent Hill 2 mencoba menapaki isu dan cerita yang jauh lebih dalam dengan menyuntikkan unsur psikologis pada karakter-karakternya. Langkah yang ditempuh Konami ini yang menyebabkan jalan ceritanya menjadi begitu kompleks sekaligus kental akan nuansa gelap, muram, dan bahkan berbau masokisme.

Kompleksitas itu juga mengharuskan kamu untuk mencermati simbolisme dalam game ini, guna memahami keseluruhan cerita sekaligus kepribadian para karakternya. Tapi, bukan berarti cerita game ini sulit dicerna. Begitu kamu menamatkannya, kamu akan mengerti mengapa James nekat memasuki Silent Hill sendirian. Tidak mustahil pula rasa simpati akan tepercik bila kamu telah mengetahui masa lalu sang karakter utama.

1. The Last of Us

cover-thelastofus
via duniaku.net

Game ini mengambil setting di dunia post-apocaliptyc, dimana Amerika Serikat telah luluh lantak dan mayoritas penduduk terjangkit wabah jamur yang membuat mereka berlaku tak ubahnya makhluk semacam zombie.

Post-apocalypse dan zombie? Ya, ya, ya, dua hal itu bisa disebut tema yang sering diangkat dalam berbagai karya sastra (dan film) dan semakin lama mungkin terasa semakin membosankan lagi klise.

Tapi, yang perlu dicatat adalah kedua hal itu bukanlah fokus utama dalam game ini. Ya, fokus The Last of Us adalah tentang protagonis utamanya, Joel dan Ellie, serta hubungan yang terjalin di antara keduanya dan juga hubungan antar manusia secara keseluruhan.

Unsur yang disebut terakhir bahkan sudah muncul pada adegan pembuka. Di sini kamu mesti bersiap-siap mengendalikan emosimu. Masalahnya, Naughty Dog selaku pengembang ini, terbukti sukses menyajikan adegan pembuka yang sanggup menyayat hati banyak orang (bagi kamu yang peka, siapkan tisu karena adegan pembuka ini sangat, sangat menyentuh perasaan).

Seiring selesainya adegan pembuka, selanjutnya kamu akan bermain sebagai Joel 20 tahun setelah merebaknya wabah jamur yang menghancurkan umat manusia sekaligus lingkungan tempat manusia tinggal. Diceritakan Joel, yang kini bekerja sebagai penyelundup barang, mesti menerima tugas untuk mengantar seorang gadis remaja ke markas organisasi pemberontak, dengan melintasi daratan Amerika Serikat yang luasnya bukan main itu.

TheLast
via gamespot.com

Bisa ditebak, gadis itu bernama Ellie dan ia adalah sosok kunci untuk memulihkan kembali keadaan dunia yang telah porak-poranda.

Lalu, apa yang membuat game ini begitu menarik? Jawabnya adalah: kerealistisan. Dari mulai dialog, mimik muka saat karakter berbicara, hingga penggambaran karakternya sendiri ditata begitu apik hingga kamu akan merasa karakter-karakter dalam game ini terasa sangat nyata.

Misalkan saja Joel yang sering bertindak kebapakan, tapi di sisi lain tak jarang juga ia berlaku egois. Yup, tidak seperti mayoritas game dimana tokoh utamanya sering digambarkan layaknya pahlawan, tokoh utama dalam game ini hanyalah orang biasa yang memiliki kekurangan dan sifat manusiawi. Hal inilah yang membuat karakter Joel dan Ellie begitu dekat dan mudah untuk dicintai.

Tapi, tak hanya soal karakter, pendekatan realistis pun terlihat dari sisi ceritanya. Ibarat kata, memainkan The Last of Us seperti setengah menonton film. Ada banyak konflik dan twist yang mengiringi perjalanan Joel dan Ellie. Mereka yang awalnya saling tidak menyukai satu sama lain, akhirnya memiliki hubungan layaknya ayah dan anak akibat sisipan konflik yang pas dan tidak berlebihan.

Puncak konflik dari game ini sendiri ada pada endingnya. Mungkin kamu tidak akan menyangka ending yang diberikan Naughty Dog ini. Mungkin juga kamu akan mempertanyakan ulang, mendukung, atau bahkan menyesali apa yang terjadi pada endingnya.

Dijamin deh, kamu tidak akan bosan memainkan game yang sudah mendapat banyak penghargaan ini, meskipun durasi buat menamatkannya terbilang cukup panjang.

Perlu diingat, tiga game di atas hanya dikategorikan berdasarkan sisi cerita saja. Aspek lain seperti gameplay atau grafik tidak ikut disertakan. Nah, kalau kamu punya opini tentang game dengan kualitas cerita yang keren, atau bahkan game yang bagus dari semua aspek, sila bagikan opini kamu.

Komentar:

Komentar