Alasan Logis Kenapa Kamu yang Suka Nonton Film dan Baca Novel Mesti Mulai Main Game

Main game di rental berapa sih satu jamnya sekarang?

:

Saya termasuk orang yang dari dulu selalu suka menikmati cerita-cerita yang bagus. Waktu kecil, saya udah menyukai dongeng-dongeng yang ada di buku cerita. Malah bisa dibilang sekarang saya hobi membaca dan menulis karena dari kecil mulai membiasakan diri membaca.

Seiring berjalannya umur, saya pun mulai suka nonton film. Alasannya satu, karena saya butuh asupan cerita yang seru. Satu bulan tanpa nonton film itu rasanya berat banget. Satu bulan tanpa nonton itu rasanya kayak melalui satu hari tanpa rokok.

Setelah puas “hanya” dihibur lewat film dan novel, beberapa tahun belakangan saya mulai menjalankan lagi hobi yang pernah saya tekuni waktu kecil: main game konsol.

Kira-kira kayak gini pose main game favorit saya waktu kecil/via pixabay.com/kahll

Terakhir kali saya main game, itu terjadi waktu saya masih SMP, pas saya baru dapat jerawat pertama kali. Saya baru mulai main game lagi pas tahun 2015. Itu berarti ada jarak sekitar 10 tahun semenjak saya rehat main video game. Waktu yang cukup lama memang, dan itu sebabnya saya kaget (atau dibikin melongo) begitu sadar betapa udah berkembangnya grafik dan teknik storytelling di video game.

Malahan saya merasa kalau storytelling yang ada di video game modern itu nggak kalah dari film dan novel. Bahkan game terkadang bisa memberikan kita sesuatu yang nggak bisa diberikan oleh film dan novel sekalipun.

Udah saatnya orang nggak lagi meremehkan video game

Masih banyak orang di dunia ini yang menganggap video game itu cuma soal tembak-tembakan dan hal-hal nggak bermakna lain yang menghabiskan waktu. Intinya, mereka berpikir, “Buat apa sih main game? Apa manfaat yang bisa saya dapat lewat video game selain dari sisi hiburan?”

“Adique, daripada main game mending nontonin Atta halilintar”/via unsplash.com/Frankie Cordoba

Kalau begitu masalahnya, saya juga punya pertanyaan untuk mereka yang menganggap video game nggak punya manfaat. Untuk apa sih kita nonton film? Untuk apa kita nonton Avengers: Endgame? Sebagian besar orang nonton film pasti karena mereka butuh hiburan lewat jalan ceritanya. Dan hal yang sama juga bisa kita dapat dari game.

Memang benar, sebagian video game cuma mengharuskan kita buat tembak-menembak doang. Tapi ayo kita berpikir secara terbuka. Karena faktanya, di zaman sekarang nggak jarang cerita fiksi yang brilian datang dari video game.

Kamu bisa lihat buktinya dari The Last of Us, Red Dead Redemption (1 & 2), Shadow of the Colossus, The Walking Dead, Bioshock, Horizon Zero Dawn, Undertale, Gone Home, Life is Strange (1&2), What Remains of Edith Finch, The Witcher 3, dan Sekiro: Shadows Die Twice. Deretan game tersebut hanya sebagian contoh gimana video game bisa mengaduk-aduk emosi kita dengan teknik storytelling yang mumpuni.

Sebagai bukti tambahan, saya bakal berusaha meyakinkan kamu yang sebelumnya memandang sebelah mata video game, lewat pembahasan tentang permainan yang saya tamatkan baru-baru ini. Game itu yang saya maksud itu judulnya Nier: Automata (Game of the YoRHa Edition).

Nier: Automata, game yang bikin saya jatuh cinta pada cara penceritannya, sekaligus bikin hampa

via attackofthefanboy.com/Square Enix

Peringatan: di bawah ini kamu bakal menemukan spoiler.

Saat baru mulai memainkan Nier: Automata, saya merasa game ini punya inti cerita yang agak-agak mirip cerita di anime. Bumi telah dikuasai alien dan mesin-mesin robot (machine lifeform) yang diciptakan oleh makhluk luar angkasa tersebut. Sedangkan manusia? Manusia terpaksa mengungsi ke bulan karena Bumi tempat tinggal mereka udah direbut alien dan robot.

Tapi manusia nggak menyerah gitu aja. Mereka menyuruh Android untuk merebut kembali Bumi dari tangan alien dan robot. Perebutan bumi antara Android dan mesin robot ini udah menghabiskan waktu beribu-ribu tahun lamanya, dan pemenangnya masih belum keluar.

Agak mirip kayak anime ‘kan? Apalagi kalau kita lihat karakter antagonisnya yang anime-ish banget.

“Yeah, muka kami memang agak-agak mirip pangeran tampan di anime shoujo”/via youtube.com/Square Enix

Latar belakang itulah yang kemudian mengantarkan kita untuk mengendalikan 2B dan 9S, dua dari sekian banyak Android yang ditugaskan membasmi mesin-mesin robot yang memenuhi Bumi. Mereka pun termasuk ke dalam Android bertipe YoRHa, yakni Android elite yang paling mutakhir, kuat, dan canggih.

2B (or not to be) dan 9S/via feministfrequency.com/Square Enix

Sekadar catatan, para Android ini udah diset sebelumnya agar setia pada manusia. Mereka bisa berpikir, dan mereka punya kesadaran sendiri. Tapi tujuan hidup mereka yang paling utama adalah membasmi robot dan alien, lalu mengembalikan Bumi pada manusia. Bagi Android, manusia adalah Tuhan mereka yang harus dibela. Hal yang sama terjadi pula pada mesin-mesin robot. Mereka diciptakan oleh alien untuk menginvasi Bumi, nggak lebih nggak kurang. Bagi mesin robot, alien adalah Tuhan mereka.

Tapi dalam perjalanan mereka membasmi mesin robot, 2B dan 9S menemukan kalau para robot itu mendapat kesadaran layaknya manusia. Mereka jadi punya kemampuan untuk berpikir, bermasyarakat, dan bahkan membentuk pemerintahan. Para robot itu belajar dari kebiasaan manusia yang sebelumnya mereka musuhi.

Lantas apa yang membedakan Android dengan machine lifeform? Apa yang membedakan dua hasil ciptaan yang selalu saling berperang dan merasa diri lebih unggul dari musuhnya itu? Nyatanya nggak ada. Para Android yang begitu bernafsu membasmi machine lifeform ternyata nggak punya perbedaan dengan target pembasmiannya itu. Bahkan mereka diciptakan dengan material yang sama.

Di tengah kekacauan perang, 9S kemudian membongkar rahasia kalau manusia yang selama ini diperjuangkan oleh para Android sebenarnya telah punah tak tersisa. Sosok yang selama ini mereka anggap sebagai Tuhan nyatanya udah nggak ada. Jangankan manusia, alien yang dulu merebut Bumi dari tangan manusia pun ternyata sama-sama udah punah.

Jadi untuk apa para Android itu berperang selama ribuan tahun? Untuk apa mereka hidup? Untuk siapa mereka hidup? Dan kerennya lagi, pertanyaan itu pun seolah ditujukan untuk menghantam para gamer yang memainkan game ini: apa tujuan kita hidup di dunia ini?

Square Enix

Ya, bagi saya Nier: Automata adalah game yang mengingatkan kita tentang pertanyaan-pertanyaan penting soal kehidupan. Tapi sayangnya, para Android dalam Nier: Automata mesti menerima kenyataan pahit kalau hidup mereka sebetulnya nggak punya tujuan. Mereka menjalani hidup yang hampa, sementara terus dijejali bualan bahwa manusia masih hidup di bulan. Dan mereka percaya pada omong kosong itu.

Bahkan dalam dua dari tiga ending yang tersedia di Nier: Automata, kita disuguhkan pemandangan yang nggak mengenakkan banget: semua Android bertipe YoRHa mati mengenaskan, termasuk karakter utama 2B dan 9S. Setelah berjibaku dalam perang yang memakan waktu ratusan sampai ribuan tahun, para Android itu mati layaknya anjing.

Entah ya kalau menurut kamu, tapi buat saya cerita dan ending yang tragis dari Nier: Automata bikin ulu hati saya serasa tertusuk. Salah satu kelebihan dari video game bila dibandingkan dengan media storytelling lain semacam film dan novel adalah kemampuannya untuk melibatkan kita dalam jalan ceritanya. Saya menginvestasikan waktu yang nggak sebentar bersama 2B dan 9S (sekitar hampir 40 jam), dan rasa simpati pada nasib mereka pun otomatis tumbuh dalam diri saya.

Teknik Storytelling yang baik dalam video game bisa dilihat dari gimana ia bisa menumbuhkan ikatan emosional antara gamer dan karakter yang dimainkan. Dan Nier: Automata sukses melakukan itu, meskipun caranya tragis. Game ini nggak memaksakan diri untuk memberi kita happy ending, di mana semua karakter selamat dan menempuh kehidupan baru dengan senyum menyungging di wajah mereka. Karakter yang saya mainkan akhirnya mati sia-sia. Parahnya lagi, di bagian puncak cerita saya dipaksa untuk menghabisi nyawa Android lain yang termasuk lovable character.

Tapi saya tetap dibuat jatuh cinta dengan ceritanya yang kelam dan depresif itu. Itu juga alasan kenapa video game merupakan media storytelling yang sangat efektif untuk mengantarkan cerita yang diniatkan buat memengaruhi emosi kita. Kalau misalnya Nier: Automata dibuat jadi film atau novel alih-alih game, saya yakin efek ceritanya nggak akan sedahsyat apa yang diberikan oleh game.

Film dan novel jelas punya kelebihan lain yang nggak dimiliki video game. Tapi sekarang, udah saatnya kamu yang suka mengikuti cerita yang epik dan menawan untuk mencoba main video game.

Mau coba main game apa?

5 Shares

Komentar:

Komentar